Bersepeda Tanpa Alasan, Sebuah Langkah Progresif Menikmati Hidup

~ Judul macam skripsi, isinya entah apa-apa

Sudah beberapa pekan ini saya memutuskan bersepeda, lagi. Kata lagi seharusnya ditebalkan dan diberi make up berisi penekanan yang tak biasa. Soalnya, hal ini pernah saya lakukan pada 2010.

Sembilan tahun lalu, entah gara-gara apa saya kepincut bersepeda lagi. Ada dorongan yang begitu kuat untuk bersepeda. Namun, tanpa didasari niat supaya sehat atau menjadikannya olahraga. Saya seperti disuruh bersenang-senang dengan sepeda.

Saat itu, telah 13 tahun saya berpisah dengan sepeda. Selama fase itu, saya sama sekali tidak tertarik dengan kereta angin itu. Saya tak mau menjamahnya, mengelusnya, karena memang tidak memilikinya. Konon lagi menjejakkan kaki ke pedal untuk sekadar merangkak beberapa meter ketika berada di dekat sepeda teman. Sepeda menjadi benda biasa. Seperti kaos butut yang berubah fungsi menjadi kain lap.

Ketika keinginan bersepeda muncul lagi pada 2010, saya menyalurkannya dengan gegap gempita. Seperti ibu-ibu yang kesasar ke toko penuh barang diskon 50 persen.

Dua sepeda kumbang oemar bakrie saya beli. Belakangan, sepeda rongsokan milik saudara ipar hampir terbeli. Sebelum … semuanya berakhir sia-sia. Hanya sebulan saya bersepeda lalu setelah itu kembali ke kehidupan “normal” seperti manusia pada umumnya.

Lalu, setumpuk hipotesis terhidu tanpa dipesan. Sesuatu yang dimulai terlalu bersemangat, terkadang berakhir dengan kekecewaan. Bahkan, beberapa gagal. Maaf, anggapan ini limited edition untuk saya, jangan di-generalisasi-kan.

Pada kasus kriminal sepeda, saya memulainya dengan metode sales ember keliling. Sesuatu yang akhirnya harus saya akui salah total.

Jadi begini Bree, tahun itu, ada beberapa teman memiliki sepeda tapi jarang mereka gunakan. Mereka saya ajak. Lebih tepatnya merayu. Ajakan itu mengena. Namun, karena kesibukan masing-masing, waktu bersepeda bersama cuma bisa terlaksana akhir pekan. Kalau bukan Sabtu ya Minggu.

Hanya dua kali (atau tiga kali) gowes bareng itu terjadi. Selebihnya cuma rencana dan rencana. Semua orang menolak dengan halus kasar ketika diajak. Walaupun sudah diiming-imingi dengan bakar ikan, mandi di laut, atau kesenangan-kesenangan lainnya.

Alasan mereka sangat manusiawi. Pekerjaan yang tak bisa ditinggalkan. Ada juga yang waktunya telah tersita dengan hobi yang lain seperti memancing, dan alasan-alasan lainnya.

Saya kadang-kadang memberikan alasan kalau bersepeda itu sehat untuk sehat. Belakangan, ketika tim futsal kantor terbentuk, alasan itu terasa konyol karena futsal juga sehat-menyehatkan dan gurih.

Sementara, kepada teman yang belum memiliki sepeda, saya menawarkan gowes bareng dengan memakai sepeda satu lagi. Saat itu, saya punya Polygon dan sebuah sepeda downhill abal-abal. Tidak banyak juga yang mau. Dan mereka menolaknya dengan alasan-alasan halus juga.

Termasuk juga ketika saya mengajak beberapa teman hiking menggunakan sepeda. Tawaran itu kontan ditolak. Tak ada yang tertarik mendaki gunung sambil membawa sepeda. Lagi pula tujuannya untuk apa? Ingin bersenang-senang atau mencari encok di pinggang?

Davi Abdullah, videografer Aceh yang terkenal itu, termasuk salah seorang yang saya ajak. Dulu, karena belum terkenal saya mau mengajak dia. Sekarang tidak berani lagi karena jadwalnya sudah sangat padat. Belakangan, setelah menolak ajakan saya, Davi menekuni surfing. Dia mengajak saya surfing, ajakan yang tentu langsung saya tolak karena takut panuan.

Tauris Mustafa alias Abu, perupa Aceh yang juga sudah terkenal sekarang ini, orang kedua yang menolak ajakan tadi. Sehari-hari, saat itu Tauris memang bersepeda. Rutenya seperti dia bilang, dari kampus ke rumah dan tempat kerja. Saya tidak ingat persis kenapa dia menolak ajakan tersebut.

Ketika pindah rumah, sepeda itu dua-duanya dijual dan uangnya dipakai buat beli beras. Buat apa sepeda, kata istri, kalau perut tak terisi. Di titik itu, mata saya agak berkunang-kunang ketika melego kedua harta tersebut. Harus ikhlas, saya menguatkan diri. Lagi pula, tak ada alasan kuat untuk bertahan karena saya enggan bersepeda sendirian. Saya menyukai gowes bareng, minimal ada partner satu orang. Bersepeda sendiri kurang seru, rasanya.

Saya bukanlah tapir yang hidup soliter kecuali saat musim kawin. Saya ingin seperti semut yang berkoloni. Alasan menjadi semut ini yang juga membuat saya sangat menyesal di kemudian hari.

View this post on Instagram

Ceudrie artinya melibas atau memukul. Sebagai kata kerja, ia hampir mirip dengan seupot atau seupeut yang artinya kurleb sama. Di-ceudrie artinya dilibas dengan alat. Jadi bukan pukulan tangan kosong ala Iko Uwais. Nah, alat yang digunakan untuk ceudrie ini tidak sembarangan. Ada dua pilihan yang kerap tersedia: lidi dan ranting pohon on keureundong atau kuda-kuda. Jarang terdengar ada anak terkena sebat (bukan akronim sebatang) dengan batang bambu, batang kelapa, atau batang-batang lainnya seperti batang seledri. Ceudrie biasa dilakukan di area tubuh yang keras atau lebih empuk. Misalnya punggung dan pantat, tangan, dan betis. #breediedotcom #addict #setan #pidie #aceh #adat #sekolah #teungku #guru Mau baca lebih lengkap? Ada link di bio ya #breeders Pantau juga rubrik lain seperti #breevid #IoT #addict #play #blog #screenshot #widget #dresscode breedie.com | Easy but Spicy

A post shared by ʙʀᴇᴇᴅɪᴇ (@breediedotcom) on

Bisa disimpulkan ketika itu saya bersepeda cuma panas-panas eek ayam. Saya cuma suka bersepeda tapi tidak punya alasan kuat untuk bertahan dengannya. Entahlah. Kalau direnungkan kesannya terlalu mengada-ada dalam. Saya tak mau lagi mengungkainya.

Sebenarnya, seperti yang dialami banyak orang, benda bernama sepeda meninggalkan banyak kenangan. Sebelum SMP, saya menunggangi BMX. Akibat kebanyakan di-jumping, stang BMX itu suatu ketika patah. Dan itu menjadi tanda bahwa saya harus berpisah selama-lamanya dengan BMX tersebut.

Ketika SMP, selama tiga tahun saya menempuh jarak sekitar empat kilometer pulang pergi ke sekolah dengan sepeda bermerek Federal. Pada 1990-an, sepeda menjadi tunggangan “resmi” anak-anak sekolah. Area parkiran penuh dengan sepeda.

Saya memakai Federal MTB. Harganya jangan tanya, saya tidak tahu. Saya memakainya sejak frame-nya berkilau-kilau hingga karat muncul mengepung di mana-mana. Sejak dari remnya lengkap hingga semua kabelnya copot dan terpaksa memakai rem manual alas kaki.

Federal itu tak hanya menemani ke sekolah. Ke mana pun saya pergi dia ikut. Tak pernah ada kerusakan berarti kecuali ganti ban dalam, ban luar, dan rantai. Masuk lumpur dia oke, nyebur ke air laut pun bisa. Ketika rem sudah tak ada, kecelakaan-kecelakaan kecil kerap terjadi. Dan ajaibnya, ketika kecelakaan terjadi, kondisinya selalu baik-baik saja.

Sebagai anak yang tumbuh ceria di jaman DOM, ada banyak kenangan lain yang saya alami dengan Federal itu. Jika diceritakan bisa sepanjang skripsi, buat apa, mual saja membacanya. Yang pasti, Federal itu menyenangkan hidup saya. Setiap pagi dia membantu saya menikmati rute menuju sekolah; rute yang sama selama tiga tahun tanpa pernah bosan. Mantap, kan?

Setelah SMP, saya tidak pernah bersua lagi dengan Federal itu. Saya juga tak berusaha mencarinya. Saya tak rindu sama sekali untuk menggowesnya. Belakangan, sepeda itu kata Mak saya sudah dititipkan di sebuah bengkel milik saudara. Mau dijual utuh atau atau di-kilo-kan bagian-bagiannya, saya tidak ambil pusing. Aneh, saya seperti ditakdirkan untuk melupakan Federal berkarat itu selama-lamanya.

Apakah keinginan saya bersepeda pada 2010 karena “dikutuk” kenangan akan Federal tersebut? Barangkali begitu.

Belakangan lagi, pada Juni 2019 ketika melihat video di YouTube, saya baru tahu kalau Federal itu merek lokal. Sekarang Federal tak dibuat lagi. Salah satu faktornya akibat isu dumping dari Masyarakat Ekonomi Eropa alias MEE. Dulu, Federal diekspor hingga luar negeri. Kemungkinan, langkah MEE tidak lebih sebagai persaingan bisnis supaya produksi sepeda di Belanda, Inggris, dan negara Eropa lainnya tidak terganggu.

Setelah melihat video itu, saya merasa sangat bersalah karena tidak merawat dan melestarikan Federal tersebut. Mau marah sama MEE, saya pasti ditertawakan banyak orang.

Entah karena dibakar sentimen terhadap MEE, atau kerinduan pada Federal, akhir Juni saya memutuskan bersepeda (LAGI). Kali ini, saya membulatkan tekad melakukannya sendiri, tanpa partner. Biarlah saya menjadi tapir.

Saya tidak mau “kegagalan” pada 2010 terjadi lagi. Jadi, saya membuat langkah yang sedikit progresif padahal cuma “aak” doang. Caranya, bersepeda tidak cuma dilakukan akhir pekan sebagai bentuk anjangsana melarikan diri dari rutinitas. Saya ingin bersepeda setiap hari, ke mana saja, melalui rute mana saja yang saya mau.

Karena tinggal di Banda Aceh, rute-rute yang saya pilih tentu berputar-putar di kota kecil ini. Di Banda Aceh naik sepeda itu enak. Pemerintah telah menata jalur sepeda dengan baik. Di jalan-jalan protokol pasti ada sisa jalur yang disisihkan untuk pesepeda.

Memang, di beberapa tempat, ada mobil dan pedagang yang parkir di jalur sepeda. Hal ini terjadi karena jarangnya ada pesepeda lewat di jalur itu. Ketimbang mubazir (mubazir kan kawannya setan), dipakailah jalur itu.

Saya juga menjauhkan diri dari alasan bersepeda untuk sehat, menguruskan badan, atau alasan-alasan sok logis lainnya. Sepeda itu alat transportasi yang bisa dipakai ke mana saja. Soal jauh atau dekat tergantung dari sisi mana ingin dilihat. Begitu juga tentang capek dan keringat yang ditimbulkan, serta ganjalan-ganjalan lain bagi yang merasa terganjal.

Pun, banyak orang yang tidak mengendarainya tentu punya alasan sendiri-sendiri. Misalnya, tak mau terpapar debu jalanan dan asap kendaraan. Takut menyeberang di lampu merah, ban bocor, putus rantai, bahkan gengsi. Alasan-alasan itu lebih baik diwajarkan saja.

Dulu, saya sempat mencari-cari jawaban kepada orang yang bertanya kenapa saya naik sepeda. Sekarang, saya tak mau lagi. Tak perlu penjelasan panjang lebar bertele-tele. Naik sepeda saja setiap hari, baik ke kantor, warung kopi, belanja ke mall, atau ke tempat-tempat lain yang butuh dijangkau tanpa jalan kaki. Kayuh saja pedalnya, nikmati hidupmu, bukankah begitu Bree?

Komentar

Komentar