~ Medona City, kota tujuan wisata hahaha sedunia tahun 2019 

Seperti layaknya hari-hari di musim kemarau, siang yang panas terik hampir selalu menerpa kota Medona, kota yang terletak di bawah garis khatulistiwa. Menyengat kulit setiap orang yang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing.

Di jalan raya yang membelah kota Medona, kendaraan-kendaraan melaju kencang seolah-olah menunjukkan sang pemiliknya tidak ingin kehilangan waktu sedetik pun. Suara klakson bersahut-sahutan memaksa siapa saja untuk segera bergegas secepatnya. Sesekali, terdengar makian-makian yang dilepaskan dengan wajah tegang.

Sedikit menjauh dari jalan raya, beberapa pedagang saling berlomba menawarkan barang dagangan. Bagaimana mendapatkan keuntungan secepatnya selalu terpahat di pikiran mereka. Dan kembali, tak jarang sekali dua kali terdengar gerutuan-gerutuan ketika mendapatkan barang dagangannya tidak ada yang membeli.

Keriuhan suara-suara meninggi juga menggema dari kedai kopi yang bertebaran di kota Medona. Bercampur dengan aroma kopi yang menggoda indera penciuman pelanggannya.

“Woii! Pesanan kopi aku mana? Kok lama kali. Apa ada rencana nggak mau jualan lagi?”

“Kan lagi dibawa ini!” sahut pelayan dengan muka marah.

Hawa panas tak sungkan untuk terus merayap ke berbagai sudut kota Medona. Menguap bersama wajah-wajah yang terobsesi dengan kecepatan, penuh dengan ketegangan, urat saraf yang menebal, dan mata yang melotot.

Tanpa terasa, ada angin kering berhembus ke arah persimpangan terbesar di kota Medona. Kekuatannya cukup mampu mengibarkan bendera-bendera dan menggerakkan spanduk-spanduk yang dipegang oleh puluhan orang di persimpangan tersebut. Secara serentak, mereka meneriakkan yel-yel dan bernyanyi dengan hati riang gembira. Senyuman mengembang. Bercanda sesamanya. Mulut mengeluarkan suara tertawa lepas. Sebuah demonstrasi sedang terjadi di sini.

Ada sekitar belasan bendera dan spanduk yang mereka bawa. Rata-rata didominasi oleh warna-warna cerah. Identitas organisasi mereka terdeteksi jelas dari benderanya. Mereka menamakan dirinya: MICIN (Masyarakat Ingin Ceria Ingin Nyantai).

Tulisan di spanduknya pun tidak kurang ceria. Berbagai ekspresi dicurahkan di atas kain spanduk.

“Terlalu banyak melotot akan membunuhmu”

“Tertawa adalah bahasa lain dari kemenangan”

“Kami datang, kami melihat, kami tertawa terbahak-bahak”

“Kehidupan rakyat membutuhkan ke-selow-an”

Di antara sorak sorai kegembiraan para demonstran, koordinator lapangan terlihat waspada menjaga agar demonstrasi berjalan bahagia. Sejurus kemudian, ia sudah melayani permintaan wartawan untuk melakukan wawancara.

“Siang, Bang! Boleh tau nama Abang siapa? Abang mewakili organisasi apa? Kenapa demonstrasi ini dilakukan? Alasannya apa, Bang?” tanya salah satu wartawan.

“Eits, selow nanyanya. Santaaiii. Jangan terburu-buru. Hehe. Tarik nafas dulu dalam-dalam, hembuskan perlahan dari mulut. Whoo…shaahhhh,” jawab koordinator lapangan.

“Eh, iya, Bang. Maaf. Whoo…shaahhh.”

“Tuu, udah mulai selow kan mukanya. Mantap. Hehe. Sekarang aku jawab, ya. Namaku Justo, dari organisasi MICIN. Demonstrasi ini dilakukan karena kami sudah jengah dengan kondisi masyarakat sekarang. Semuanya pada egois. Dikit-dikit, mata melotot. Dikit-dikit, muka tegang. Marah-marah. Emosi. Ah, kita ini butuh selow, santai, humor, komedi, dan tertawa banyak-banyak. Maka dari itu, saat ini, kami menyorakkan beberapa permintaan kami kepada pemerintah kota Medona.”

“Jika pemerintah kota Medona cuek saja dengan permintaannya, bagaimana, Bang?”

“Kami akan melakukan demonstrasi yang lebih besar lagi. Lokasinya di tepi pantai biar lebih santai. Turis mancanegara yang banyak di situ pasti akan memberitakan kami ke dunia luar. Demonstrasi kami akan terkenal di dunia internasional. Hehe.”

Para wartawan terus menggali informasi-informasi detil tentang demonstrasi. Keringat yang mengalir deras tidak menyurutkan semangat mereka untuk menanyakan pertanyaan-pertanyaan selanjutnya. Adakalanya, di tengah wawancara, telapak tangan mereka berulang kali menyeka keringat yang membasahi kening.

***

Sembilan kilometer dari tempat demonstrasi, di dalam satu gedung yang megah, seorang pemuda berseragam coklat tergopoh-gopoh menaiki tangga menuju lantai dua. Sesampainya di lantai dua, dengan nafas terengah-engah, ia mengetuk pintu yang bertuliskan “Ruangan Wali Kota.”

Tok! Tok! Tok!

“Iya, masuk!” sahut suara dari dalam ruangan.

Pintu terbuka. Wali Kota hanya sendiri di ruangan. Duduk di belakang meja yang ditumpuki berkas-berkas.

“Selamat siang, Pak,” kata pemuda tersebut sambil membungkukkan badannya. “Maaf, Pak. Ini saya ingin melaporkan. Telah terjadi demonstrasi, Pak. Saya mendapatkan laporan dari orang-orang yang memantau di tempat demonstrasi.”

“Iya! Iya! Saya sudah tahu! Tadi saya sudah ditelpon. Ada-ada saja mereka ini. Tak tahu diuntung! Malas saya. Heuh!” potong Wali Kota.

“Tapi, eee… ini bagaimana, Pak? Mereka mau Bapak datang ke tempat demonstrasi. Menemui mereka,” kata si pemuda agak tertahan.

“Kalau saya datang ke tempat demonstrasi… ada kamu catat semua kan? Kondisi demonstrasi? Apa-apa saja mau mereka?”

“Ada, Pak.”

“Mana? Mana?”

Setelah catatan tersebut berada di tangan Wali Kota, ia langsung membacanya. Membolak-balik kertasnya. Pada satu halaman kertas, Wali Kota tertegun cukup lama. Berpikir keras. Di situ ada tulisan:

TRIPERMICIN (Tiga Permintaan MICIN)

1. Naikkan kadar tertawa, selow, dan santai rakyat
2. Terbitkan peraturan mewajibkan rakyat untuk tertawa, selow, dan santai
3. Bangun IGDTSS (Instalasi Gawat Darurat Tertawa, Selow, dan Santai)

“Wah, susah ini! Bagaimana saya bisa menjawab tiga permintaan mereka. Harus dibuat rapat dulu dengan semua staf. Sejam dua jam lagi baru bisa ke tempat demonstrasi.” Suara Wali Kota memecah keheningan di ruangan tersebut.

“Mmh, mohon izin, Pak. Boleh saya yang bawahan ini memberikan pendapat?” tanya si pemuda tiba-tiba. Dan, lagi-lagi ia bungkukkan badannya.

“Hah? Pendapat apa? Coba-coba kasih tahu saya.”

“Begini, Pak. Menurut saya, membuat rapat akan membuat waktu banyak terbuang. Takutnya, semakin lama tindakan demonstran semakin tidak terkendali. Diperlukan pengambilan keputusan yang cepat dari Bapak Wali Kota.”

“Iya gitu? Masa sih?” Wali Kota menyenderkan punggung ke kursi empuknya yang berlapis kulit. Diam beberapa lama. Lalu, menoleh ke arah si pemuda. “Hmm, lumayan juga pendapatmu. Tumben kamu bisa berpikir cerdas. Biasanya cuma patuh sama perintah saja. Kita berangkat sekarang. Akan saya pikirkan semuanya di perjalanan ke tempat demonstrasi.”

***

Lima tahun sesudah kejadian demonstrasi, ada perubahan yang terpancar di Medona. Kota itu seperti memiliki organ jantung baru yang mampu menghidupkan kota dengan suasana yang berbeda. Atmosfernya yang semula dipenuhi “racun” berangsur-angsur mulai diisi oleh oksigen kebahagiaan. Hari-hari mulai dihiasi dengan otot-otot wajah yang lebih rileks.

Inilah buah dari perjuangan organisasi MICIN. Demonstrasi yang sempat diwarnai perdebatan panjang dengan Wali Kota tidaklah sia-sia dilakukan. Wali Kota akhirnya luluh dan mengabulkan TRIPERMICIN.

Sejak saat itu, Wali Kota berkomitmen merealisasikan TRIPERMICIN. Program-program diluncurkan untuk menaikkan kadar tertawa, selow, dan santai rakyat. Salah satu yang menggemparkan adalah RTH (Ruang Terbuka Hahaha). RTH merupakan area-area yang khusus dibangun sebagai tempat untuk rakyat kota Medona bisa tertawa sepuas-puasnya.

Ahli-ahli dipanggil untuk merancang beberapa acara yang dilakukan rutin setiap tahun, seperti PKA (Pekan Komedi Asyik), PENAS (Pekan Nambah Santai), FKL (Festival Komunitas Lawak), dan masih banyak lagi.

Selain itu, peraturan yang mewajibkan rakyat untuk tertawa, selow, dan santai juga diterbitkan. Pada waktu-waktu tertentu, ada razia-razia yang dilakukan. Mereka menyebutnya RAWATE (Razia Wajah Tegang). Razianya pun jauh dari kesan mengerikan. Setiap petugas razia diperintahkan memakai kostum badut dan full make up. Tak ketinggalan, karet merah bulat yang tertempel di hidung.

Orang-orang yang terjaring RAWATE akan diberikan wejangan lucu supaya bisa tertawa, selow, dan santai. Namun, jika wejangan tersebut tidak mempan, atau level wajah tegangnya sudah kritis, maka ambulan sudah siap sedia untuk mengantar mereka ke IGDTSS (Instalasi Gawat Darurat Tertawa, Selow, dan Santai).

Sebenarnya, gedung IGDTSS yang menjadi permintaan ketiga organisasi MICIN ini masih dalam proses pengerjaan. Bangunannya masih belum 100 persen selesai. Tapi, mengingat kebutuhan yang mendesak, ia sudah dibuka untuk umum. Semua pasien yang masuk diterima dengan tangan terbuka dan diobati dengan setulus-tulusnya.

Wali Kota menjanjikan akan segera merampungkan pembangunan gedung IGDTSS. Bukan hanya itu, Wali Kota juga membuat satu gebrakan. Untuk meningkatkan kualitas pelayanan IGDTSS, maka diperlukan sumber daya manusia yang mumpuni. Oleh sebab itu, setelah mendapatkan persetujuan dari Pemerintah Pusat, ia membuka seluas-luasnya seleksi penerimaan CPNS (Calon Pegawai Negeri Santai).

Mendengar kabar tentang gebrakan Wali Kota, organisasi MICIN langsung memberikan pujian dan sangat mendukung sekali. Mereka sadar bahwa, selangkah demi selangkah, kota Medona sudah menuju ke arah yang benar. Menuju kota tertawa, selow, dan santai. Mereka akan terus mengawal perkembangannya.

Komentar

Komentar