Bingung Mencari Tempat Terbaik untuk Menulis? Di Kamar Mandi Saja

~ Jangan pernah remehkan kamar mandi

Kamu tentu tidak salah baca judul tulisan ini. Tapi, kok bisa tempat seperti itu dijadikan sebagai tempat menulis? Pakai embel-embel terbaik pula, tu.

Tulisan ini berangkat dari kegelisahan seorang teman yang ingin sekali menulis tapi tak pernah kesampaian.

Begitu banyak ide di kepalanya yang ingin dicurahkan (ciee … curah hujan kali, bos) dan ditumpahkan.

Alat-alat untuk menulis telah tersedia. Laptop ada, smartphone punya, buku tulis bergaris banyak, pensil tinggal raut.

Yang tidak tersedia cuma tempat menulis terbaik. Teman saya itu bukan tunawisma. Dia punya gua rumah sebagai tempat tinggal. Kebutuhan papannya terpenuhi.

“Aku tu susah nulis kalau suasana tempatnya nggak pas. Kalau pun kupaksa nulis, paling satu paragraf bisa berhari-hari siapnya.”

(Hmm, macam buat rumah aja, Bang, berhari-hari).

Sepintas, saya sedih melihat kelakuan teman saya itu. Di bumi Tuhan yang super luas ini, dia masih kesulitan mencari tempat yang pas untuk menulis. Mungkin itu gimmick semata.

Begitu banyak penulis yang menghasilkan karya-karya mereka tanpa pernah mengeluh soal tempat terbaik untuk menulis. Tempat tak pernah jadi soal.

Kesedihan saya berlanjut karena teman saya tak kunjung menyumbangkan tulisannya untuk Breedie. Padahal, kami telah berdiskusi hingga berbuih-buih lewat WhatsApp tentang kriteria tulisan yang cocok dipajang di Breedie.

Saya mengajak dia menulis di platform ini karena merasa setiap uneg-unegnya patut disalurkan ke publik. Keresahan-keresahan yang dia rasakan sangat easy but spicy, cocok sekali dengan propaganda Breedie.

Tapi, ya, begitulah, tulisan tak kunjung dikirim karena alasan tadi. Lama-lama saya malas menanyakan lagi karena jawabannya sama.

“Belum dapat tempat dan suasana yang pas ni buat nulis. Ide-ideku masih banyak, Wak. Mudah-mudahan ideku ini bisa mengubah dunia atau seenggaknya membuat rezim Jokowi ini berubah menjadi lebih baik.”

Saya hanya mampu membalas dengan emoticon muntah dan air mata berderai.

Ingin sekali saya menyarankan dia pergi ke Antartika saja untuk mencari tempat terbaik menulis. Bukankah di sana suasananya sunyi dan dingin?

Bisa jadi dengan suasana seperti itu, dia akan tenang dan damai di alam baka dalam menyalurkan ide-ide di kepalanya.

Tapi Antartika jauh sekali dari Aceh. Selain itu, saya khawatir bila-bila suhu yang minus membekukan otak teman saya. Akibatnya, ia tak jadi menulis dan gila akhirnya.

Pikir punya pikir, saya pun menyarankan agar dia menggunakan kamar mandi rumahnya sebagai tempat menulis.

Berdasarkan pengalaman pribadi, kamar mandi adalah tempat terbaik untuk menulis. Saya kira, banyak orang tak pernah setuju soal ini. Tak mengapa, ini bukan permintaan persetujuan.

Bagi banyak orang, kamar mandi lekat dengan segala hal bermakna jorok. Rata-rata, di setiap kamar mandi ada toilet. Jadi, selain sampoan dan sabunan, di kamar mandi orang melakukan aktivitas seperti berak dan pipis.

Kalau begitu, jorok-jorok wangilah, ya. Saya anggap, kita tidak setuju untuk hal ini.

Kamar mandi yang saya maksud sudah barang tentu bukan kamar mandi ala terminal atau warung kopi. Bukan juga kamar mandi mewah gaya hotel berbintang. Cukup kamar mandi biasa yang bersih.

Beberapa tulisan saya yang dipajang di Breedie “menetas” di kamar mandi. Dari sana pula, ide-ide bisa muncul dan dengan cepat dapat dituliskan.

Bekalnya hanya sebuah smartphone dan dua jempol. Saat kedua hal ini bertautan, kamu dilarang (keras) melakukan kegiatan sampingan.

Kenapa kamar mandi? Tempat ini memiliki keheningan tersendiri. Di tengah hening, kadangkala manusia mampu melakukan salah satu dari dua hal ini: berkreasi atau kerasukan.

Tentu, lebih baik berkreasi, bukan? Dalam hal ini adalah menulis. Karena kerasukan itu berat, Bree, cuma Dilan aja yang sanggup keknya.

Selain hening dan bersih, syarat lain yang boleh ditambahkan adalah toilet duduk. Jika belum ada, segera pesan ke toko-toko material terdekat.

Baca Juga: Sudahkah Anda Berak Hari Ini?

Kenapa harus toilet duduk? Sebab jika kamu memilih menulis sambil jongkok di atas toilet, dijamin sebulan setelahnya akan masuk rumah sakit karena varises.

Bagaimana jika bujet tak cukup untuk memasang toilet duduk? Boleh menggunakan kursi.

Lagipula, tak semua orang nyaman dengan toilet duduk. Di dunia per-toilet-an, sesungguhnya ada dua kubu besar yang masih bertarung diam-diam hingga kini. Walaupun masih dalam tataran wacana.

Ada ultras toilet duduk dan di seberangnya ada para penganut garis keras yang sangat pro pada toilet jongkok.

Lupakan sejenak kedua kubu itu. Setelah duduk, nyalakan sebatang odol rokok (bagi yang merokok), hidupkan musik dengan volume yang kecil.

Pilihlah lagu yang kamu suka. Boleh yang melow, berbau koplo, yang grunge, dangdut, terserah sesuai selera.

Lalu, merenunglah. Langkah ini bisa di-skip jika ide tulisan telah paripurna.

Jika belum, patut-patutkan pikiranmu untuk mencari ide. Mulailah dari hal-hal kecil di sekitar. Bisa dari botol sampo yang isinya sudah mulai sekarat. Atau sabun yang mulai menipis karena keseringan dipakai.

Jika tak kunjung menemukan, pindahkan jangkauan renungan ke radius dua kilometer.

Misalnya, suatu hari kamu pernah disenggol orang di jalan kampung ketika mengendarai motor. Awalnya kamu pengen marah dan siap menjambak rambut si penyenggol. Eh, pas buka masker ketauan kalau orang itu ternyata teman SD.

Dramatis bukan? Akibat insiden senggolan itu kamu bertemu teman lama. Sebuah kisah yang menarik dituliskan. Bisa jadi judulnya adalah ‘Orang yang Menyenggolku di Jalan Kampung Ternyata Sahabat Dekatku Saat SD’.

Aneh ya judulnya? Ah, kan, cuma saran.

Bagaimana bila ide kunjung ditemukan? Lebarkan lagi jangkauan renungan. Mungkin kembali ke masa-masa kecil saat masih sekolah. Ada keriangan masa kecil yang menurut kamu biasa tapi mungkin menarik dibaca orang lain.

Semua hal layak dan menarik untuk ditulis. Saya rasa tak perlu dipanjangkan di bagian ini. Anggap saja ide telah bersemayam di kepala dan lumayan banyak seperti kasus teman saya tadi.

Lakukanlah langkah selanjutnya: menulis. Pergunakan kedua jempol dengan baik. Runutkan ide ke dalam pokok-pokok bahasan.

Oya, sebelum itu, ada baiknya kamu menentukan sudut pandang alias angle (bukan angel). Kenapa sudut pandang perlu? Supaya kamu leluasa menguraikan sebuah hal secara pas dan tidak melebar.

Misal, kamu mau menulis tips mencukur bulu hidung yang baik dan benar. Usahakan fokus saja di seputar itu, jangan melebar ke hal-hal seperti biaya oplas hidung ala seleb-seleb Korea.

Orang-orang akan bingung bacanya, ini tips mencukur bulu hidung atau tips mengoperasi hidung.

Ketika angle telah terpacak semanis rupa pujaan hatimu, saatnya membuat kerangka tulisan. Istilah kerennya outline. Tak usah berpikir rumit soal ini.

Intinya, kerangka sebagai pegangan supaya runut dalam menulis. Dari A ke Z bukan A ke G, lalu ke D beli rokok.

Kerangka menghasilkan prioritas mana dulu yang mau dituliskan. Untuk tulisan-tulisan ringan mungkin orang enggan membuat kerangka karena cukup diingat saja.

Namun, membiasakan melatih diri dari hal-hal yang terkecil sekali pun tak ada salahnya. Supaya ketika bertemu hal-hal besar kau telah terbiasa, eaaa …

Setelah sudut pandang dan kerangka, ada banyak hal teknis lain yang mesti diperhatikan seperti kalimat, paragraf, hubungan antarparagraf, dan sebagainya. Saya tidak mau merambah terlalu jauh ke situ, takut tersesat dan murtad karena ilmu belum cukup.

Yang pasti, keluarkan saja ide-ide dari kepalamu. Yakinkan diri, tulisan itu bakal mengguncang dunia.

Jika ini terlalu sarkas, cukuplah tulisan itu menggemparkan khalayak di sekitar rumahmu. Atau, setidaknya mampu menggemparkan hati keponakanmu yang baru belajar berjalan.

Ketika menulis, biarkan saja dulu typo-typo yang menyapa. Tak apa, itu nanti diperbaiki lagi. Ingat, tulisanmu bukanlah berita “hard” yang mesti cepat ditayangkan.

Kamu punya banyak waktu mengoreksi ulang tulisan, menambahkan pokok pikiran baru, atau malah mengubahnya sekalian.

Jika di tengah jalan ide mentok, segeralah bangkitlah. Dekati cermin di kamar mandi (kalau ada), tanyakan kepadanya, apalagi yang harus kutulis?

Jika cermin tak bisa menjawab, mengacalah dengan sepuasnya. Cek jerawat kemarin bagaimana pertumbuhannya. Apakah sudah waktunya dipencet atau tidak?

Ketika ide sudah kembali, jangan tunggu menguap, tuliskan segera hingga tuntas. Setelah itu, biarkan tulisan mengendap dulu di dalam smartphone.

Basuh muka dan keluarlah dari kamar mandi, sambil berjanji dalam hati kalau kamu akan ke sana lagi. Bukan untuk menulis tapi menuntaskan mandi. Kalau menulis terus kapan mandinya?

Baca Juga: Beberapa Tips yang Kece Badai untuk Penulis Hantu

Tentang kamar mandi ini saya terinspirasi dari Trumbo (2015), film yang berisi kisah nyata James Dalton Trumbo, novelis Amerika sekaligus penulis naskah untuk banyak film.

Di film itu, ada adegan di mana Trumbo menjadikan kamar mandi sebagai salah satu tempat untuk menulis.

Dia berendam dalam bak mandi sembari menulis dengan mesin tik. Segelas minuman keras dan berbatang-batang rokok menemaninya saat menulis.

Mudah-mudahan teman saya mau menjadikan kamar mandi di rumahnya sebagai tempat terbaik untuk menulis seperti yang Trumbo lakukan.

Mudah-mudahan pula, ia mengganti miras dengan kopi supaya tak mabuk saat menulis.

KOMENTAR


Dapatkan beragam artikel dari majalah online Breedie langsung melalui email Anda.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here