~ Sayang, abang (belum) PNS sekarang, hihi

“Ada ikut tes CPNS nggak?”

“Ikutnya di mana? Kementrian atau pemerintah daerah?”

“Posisi apa yang dilamar?”

Pertanyaan-pertanyaan di atas seringkali kita temukan belakangan. Ya, bagaimana tidak, pertanyaannya jadi naik ke permukaan karena pemerintah Indonesia sedang membuka peluang sebesar-besarnya tahun ini. Siapa yang mau menjadi pegawai negeri sipil, ayo mendaftar. Kira-kira seperti itulah kata Pemerintah Indonesia.

Alhasil, beribu-ribu pemuda pemudi mendaftar dan berkompetisi untuk memperebutkan satu posisi yang diidam-idamkan. Jangan tanya usaha-usaha yang dilakukan. Jangan tanya keringat yang dikeluarkan. Gas habis, booss!!

Seandainya kita menanyakan alasannya kenapa mengikuti tes CPNS, maka keluarlah berbagai macam cerita dari mulut mereka. Ada yang bilang butuh pekerjaan tetap karena selama ini kerjanya serabutan. Kemudian, beberapa mengatakan sudah capek hidup mengganggur. Dengan jadi PNS, mereka ingin membuat Indonesia menjadi bangsa yang lebih baik. Halah. Di kesempatan yang lain, ada juga yang menyebutkan, jadi PNS adalah modal untuk melamar kekasih hati Intan Baiduri. Wow! Co cweeet.

Tentunya, akan menjadi sebuah kisah yang indah apabila perjuangan mereka diganjar dengan keberhasilan menjadi PNS. Sah! Lulus jadi PNS. Nikmat mana lagi yang engkau dustakan? Oh, Intan Baiduri…besok Abang datang ke rumah. Abang melamarmu!!!

Abang Belum PNS Sekarang

Tapi sayangnya, tidak semua kisah bisa berjalan indah. Kadang-kadang, ending-nya bisa agak horor. Ada yang berkali-kali berjibaku dengan tes CPNS. Alhamdulillah, tidak lulus-lulus. Ya, namanya juga hidup. Kadang di bawah, kadang di bawaahh terus. Eh.

Yang pastinya, mau lulus atau tidak menjadi PNS, ada satu hal yang mungkin selalu lengket di ingatan kita, yaitu pengalaman-pengalaman ketika mengikuti tes CPNS. Terdorong akan hal tersebut, maka berbekal jiwa korsa sebagai reporter abal-abal Breedie, saya lakukanlah sedikit wawancara dengan pelaku sejarah pejuang CPNS.

Sedikit latar belakang, beliau ini bernama Abrah (nama samaran tentu saja), umur 40 tahun. Ciri-cirinya berkulit sawo matang, perut agak buncit, dan berkepala botak. Bertempat tinggal di Banda Aceh dan lulusan S1 dari perguruan tinggi negeri di Banda Aceh. Pekerjaan yang tertera di KTP adalah wiraswasta. Baiklah, berikut ini wawancaranya.

Pertama-tama, saya menanyakan selama hidupnya sudah berapa kali mengikuti tes CPNS. Beliau sempat terdiam sebentar. Mungkin mencoba mengingat kembali tahun berapa saja sudah terlibat di tes CPNS. Akhirnya, beliau menjawab, “Aku udah banyak nggak ingat, nih. Kalo nggak salah tiga kali. Bisa jadi lebih, sih. Yang pertama, di Banda Aceh. Kedua, di Tapak Tuan. Ketiga, di Kuala Simpang.”

“Bisa diceritakan sedikit pengalaman-pengalamannya, Bang? Dari yang pertama sampai yang ketiga?”

“Untuk yang pertama, aku ikutnya rame-rame sama kawan. Jaman itu *robur sama *labi-labi masih jaya. Jadi, kami ke lokasi tes CPNS naek labi-labi rame-rame. Ngumpul pagi-pagi buta, terus berangkat naek labi-labi.”

“Memangnya lokasi tes di mana, Bang?”

“Di Stadion Harapan Bangsa, Lhong Raya,” jawabnya lagi. “Lucunya, dari jalan depan kantor Polsek Baiturrahman sampe stadion kan macet parah tuh. Udah macet, kami desak-desakan pula dalam labi-labi kayak ikan asin. Pas coba cari udara segar lewat jendela labi-labi, eh, keliat labi-labi laen. Wadaw, ada yang sampe duduk di atap labi-labi demi ikut tes CPNS.”

Beliau tertawa ngakak mengingat kejadian tersebut. “Namanya aja perjuangan, ya kan? Duduk di atap pun jadi. Belum lagi pas tesnya, aku mikirnya pasti ketat nih yang ngawasnya. Ternyata, bisa rumpi-rumpi, bergibah. Macam kerja kelompok aja. Haha. Mungkin karena di stadion, ya. Terlalu luas, jadinya kecolongan.”

“Terus, apalagi, Bang?”

“Aduh, itu aja yang aku ingat. Udah lama kali sebabnya. Kalo yang di Tapak Tuan, aku ingatnya cuma waktu perjalanan aja. Kan habis tsunami tuh. Untuk ke Tapak Tuan, mobil L300-nya masih lewat jalur Geumpang. Bayangkan aja, berangkat dari Banda Aceh jam sembilan malam, sampe Tapak Tuan jam 11 pagi besoknya. Aseuliii, tipis macam triplek pantat aku. Untung nggak ambeien.”

“Lho, kalo sampenya jam 11 pagi, gimana tesnya? Kan mulainya jam delapan gitu?”

“Oh, enggak-enggak. Aku lebih cepat sehari berangkat. Jadi, aku harus nginap semalam dulu di Tapak Tuan, besoknya baru ikut tes. Biaya lagi sih untuk penginapan. Nggak punya sodara di Tapak Tuan, kawan pun nggak ada.”

“Yang di Kuala Simpang apa nginap juga, Bang. Kan jauh juga tu?”

“Yang di Kuala Simpang aku nggak nginap. Berangkat naek bis dari Banda Aceh jam delapan malam, sampe Kuala Simpang jam enam pagi besoknya. Terus, salat subuh dulu, sarapan, naek becak, siap-siapin urusannya, balik lagi ke Banda Aceh. Jam dua siang berangkat dari Kuala Simpang, sampe Banda Aceh jam tiga pagi. Ribet juga, ya kan? Haha.”

“Hidup mati perjuangannya ya, Bang. Suasana pas tesnya gimana?”

“Yang di mana? Yang di Tapak Tuan? Di Tapak Tuan lumayan ketat pengawasnya, karena lokasinya di sekolahan gitu. Satu ruangan kelas, dua orang pengawas. Ya, nggak bisa kerja kelompok kayak di Stadion Harapan Bangsa laa.”

“Iya, lah. Bisa kena setrap di depan kelas sama pengawas. Haha. Yang di Kuala Simpang, Bang?”

“Suasana tesnya? Mmm, nggak tau juga. Cerita di Kuala Simpang tadi cuma sampe sebatas aku masukin berkas pendaftarannya aja. Untuk tes CPNS-nya sendiri, aku nggak ikut.”

“Lho? Kenapa lagi ni, Bang? Kok nggak ikut?”

“Dua hari sebelum pelaksanaan tes, aku tumbang. Opname di Rumah Sakit Zainoel Abidin seminggu. Kena DBD. Jelas terlewatkanlah tes CPNS. Mungkin jiwa dan raga aku berontak dan merasa lelah, udah bertaon-taon ikut tes CPNS kok nggak lulus-lulus.”

“……………….”

Hening.

Tiba-tiba, ada jatuh tae cicak di kepala botak beliau. Lumayan basah tae cicaknya.

*Labi-labi dan robur jenis angkutan kota. Labi-labi dimodifikasi dari pick up sedangkan robur adalah bis.

[Cupa IN]

Komentar

Komentar