~ Ke Jakarta saja pake pasporrtttt …

Sepekan ini harga tiket pesawat domestik maskapai berinisial GI mendominasi linimasa. Sebuah medol alias media online ternama memframingnya lewat artikel dengan mengambil sumber-sumber dari media sosial. Disebutkan di berita itu bahwa harga tiket maskapai itu kelewat mahal.

Yang murah, katanya, justru harga tiket maskapai lain, berinisial AA. Tapi, rutenya tidak direct alias perlu transit. Jadi, menurut berita itu, jika orang ingin ke Jakarta, harus punya paspor karena pesawat akan masuk ke negara lain lalu masuk lagi ke Indonesia.

Beda cerita kalau pesawat transitnya di Lhokseumawe. Tapi ini transitnya di Kuala Lumpur. Di bandara yang notabene berada di negara lain.

Semua terjadi karena harga tiket. Sungguh hebat orang Aceh.

Cerita yang bisa saja direkam dalam buku sejarah. Nanti, anak cucu kita (ciee) akan tahu bahwa abusyik dan masyik mereka pada suatu ketika pernah menuju Jawa lewat Malaysia.

Kenapa harus direkam? Karena isu itu menjadi trending topic. Semua orang sibuk dibuatnya. Termasuk yang tidak pernah naik pesawat. Mereka menggerutu dan sibuk berkomentar. Ada nyinyir, ada pula yang terang-terangan mengaku rugi. Tapi sejauh ini belum ada yang mengaku miskin mendadak gara-gara harga tiket pesawat.

Kondisi itu membuat kami berpikir, apakah Breedie sebagai website jayus ini juga harus latah bersikap serupa? Apa pentingnya isu tersebut kami catat? Karena, sekali pun kami tak pernah naik pesawat ke luar negara Aceh ini.

Eits, sebentar. Maaf, jika kami menyebutnya negara, bukan untuk bermaksud supaya Aceh memisahkan diri lagi dari NKRI. Sori Bung, masa-masa itu telah lewat. Kami sudah kembali ke pangkuan NKRI dengan bahagia dan pipi merona. Jadi, tolong jangan dipahami, penyebutan “negara” itu cuma gimmick saja.

Sama seperti gimmick yang ingin kami lontarkan selanjutnya. Apa itu? Seperti yang tertulis di judul. Ketika orang-orang Aceh butuh paspor saat terbang ke angkasa mereka sudah menjadi The Citizen. Maksudnya bukan menjadi fans Manchester City tapi menjadi warga sebuah negara.

Nah, dari cocoklogi ini bisa dilihat bawah kondisi tersebut secara de facto sudah menjadikan Aceh sebagai negara yang merdeka. Seperti yang kita tidak ketahui bersama, bandara adalah pintu masuk dan keluar orang dari sebuah negara ke negara lainnya. Sementara, bandara tempat orang-orang Aceh menuju negara lain itu berada di tanah indatu ini.

Jadi, kesimpulannya, Aceh sempat merdeka. Biarpun sejenak dan itu cuma gara-gara soal transit akibat harga tiket pesawat. Namun, dari situ kita belajar, kemerdekaan yang merupakan hak segala bangsa bisa diperoleh dengan hal tak terduga. Bahkan, dari cocoklogi yang berantakan dan konyol seperti ini. Merdeka!

Komentar

Komentar