Tahi Sapi dan Hidup yang Tak Pernah Datar di Jalan Inspeksi Krueng Aceh

~ Ini jalanku, mana jalanmu

Tahukah kamu Bree kalau jalan merupakan akses dasar dalam membantu melancarkan berbagai kegiatan manusia?

Jalan menjadi sarana penting yang dimiliki oleh publik dengan berbagai hajat dan kepentingan yang ada di dalamnya.

Namun, berbagai kepentingan itu menjadi tidak penting bilamana ada secuil (hmm … maksudnya sekelompok) orang menganggap jalan sebagai tempat bertamasya.

Bukan orang itu yang bertamasya tapi dia menyuruh kaum ternak piarannya yakni sapi untuk berdarmawisata di jalan.

Sapi yang tidak mau akan dipaksa menjual diri di jalan karena jalan sudah terlanjur bertengger di kepalanya sebagai lokalisasi ternak.

Ada orang begitu? Ada. Kalau mau tahu siapa mereka, kontak saya aja. Pasti saya tidak kasih tahu, hehehe.

Akibat ulah mereka-mereka itu, fungsi jalan yang sepatutnya menghubungkan berbagai kepentingan umat berubah menjadi kandang sapi.

Miris bukan? Tanpa sadar para sapi itu telah merebut satu tempat vital dalam kehidupan manusia. Mereka telah menggeser fungsi jalan dari yang sepatutnya.

Bayangkan bila sapi-sapi itu (yang tidak bermasker) terpapar corona yang bermutasi. Lalu mereka berubah cerdas (bahkan lebih cerdas ketimbang Caesar dan pasukan keranya di trilogi The Apes) nasib kita gimana kawan?

Oke, itu omong kosong. Sekarang, saya mau tunjukkan di mana jalan kebenaran yang setiap hari dijadikan tempat berkumpulnya rombongan sapi.

Jalan inspeksi Krueng Aceh. Tadaaa! Inilah tempat nongkrong bagi para sapi yang tidak mengenal aturan pembatasan sosial.

Jalan ini terletak di bantaran Krueng Aceh. Secara administratif berada di Kecamatan Kuta Baro dan Krueng Barona Jaya.

Walaupun berada di bantaran sungai, jalan itu menjadi jalur alternatif penghubung Banda Aceh dan Aceh Besar.

Baca Juga: Rawon-rawon Corona: Dari Rembele, Depok Hingga Mandasyeh

Sebelum itu, ada baiknya saya reload cerita-cerita yang menghiasi jalanan ini sejak dulu. Mulai dari lebarnya yang kurang, berkubang, sampai memakan korban.

Sejak 2017, jalan sepanjang 10 kilometer itu telah berlubang di banyak tempat. Lambat laun lubang berubah menjadi kubang. Lalu, dari kubang berubah menjadi kolam renang.

Kemungkinan, sebagian lubang itu awalnya tercipta oleh pengaruh tebaran “kue tart” alami made in sapi di sepanjang jalan tersebut.

“Kue-kue” itu memiliki tingkat keasaman ekstratinggi. Ibarat kata kalau kadar keasamannya dipaparkan pada aspal beton pun kiranya jebol jua.

Nah, tingginya kadar asam itu menghadirkan lubang-lubang, yang awalnya kecil lalu berubah besar.

Kehadiran rombongan sapi dan aksi berak mereka yang sembarangan, itu satu hal. Jangan lupa pula kalau hewan ini juga sama seperti hewan-hewan lain, suka pipis sembarangan.

Akibatnya, bau eek dan pipis lembu bersatu padu di udara menciptakan simfoni yang sungguh melenakan indera penciuman sehingga menaikkan tensi warga sekitar.

Seolah tak cukup, beberapa lembu memilih berak dan pipis di jembatan kecil penghubung ke setiap rumah.

Tidak tahu maksudnya apa. Mungkin sapi-sapi itu ingin terlihat bahenol kayak si manis jembatan Ancol.

Bila larut malam, sepanjang jalan ini ibarat peternakan. Terkadang mengingatkan pada film koboi era 1990-an ketika Om Chuck Norris masih jaya-jayanya memiting leher lawan sambil memasang tampang dingin.

Entah lupa jalan pulang kayak Bang Toyib, para lembu sering bermalam di tengah jalan. Dan anehnya, tuan mereka tak pernah menjemput.

Seakan keberadaan ternak adalah aksesori jalanan. Seakan lumrah kalau ternak membuat kandang semi portabel di jalanan.

Kalau pun itu membahayakan para pelintas, sang tuan tak peduli. Pedulinya mungkin cuma ketika salah satu ternak lecet atau encok.

“Duit berjalan” yang selama ini mengisi pundi-pundi kekayaan, bisa-bisa melayang.

FYI, seekor sapi saja bisa ditukar dengan duit kisaran Rp4 juta hingga Rp6 juta. Atau seharga motor metik bekas.

Baca Juga: Cerita Si Merah Masuk Bengkel

Kehadiran lubang-lubang menjadikan jalan itu cocok sebagai jalur uji coba para offroader, baik pemula maupun yang berpengalaman, karena memiliki tingkat kesulitan berbeda.

Ada sebuah kubang di jalan itu yang kalau diukur luasnya mencapai 15 meter dengan kedalaman sekira 30 sentimeter.

Cukup yahud untuk menyebutnya sebagai the most gorgeous semi pro off road track in the town.

Keberadaan ranjau darat alias tahi sapi alias ek leumo dijamin menambah tingkat kesyahduan kesulitan offroader.

Tak hanya offroader, para pengusaha jasa belajar mengemudi juga dapat menggunakan jalan itu saat melatih siswanya.

Tingkat kesulitan yang advance pasti menjadi jaminan kesuksesan bagi para pelajar mengemudi.

Namun, perlu dihitung ground clearance mobil yang digunakan. Jangan terlalu rendah agar bempernya tidak tersangkut.

Bahkan dengan kombinasi yang sempurna busuknya itu, beberapa mobil mewah masih kerap melintasi jalan tersebut. Mulai dari Lexus Pak Bup hingga Alphard Pak Plt Gub.

Sulit membayangkan mobil yang harga satu bannya membikin kantong berkeringat dingin, sudi menginjak jalan acakadut tersebut.

Mungkin karena suspensi ekstra empuk ditambah stabilizer suspension yang dimiliki mobil-mobil tersebut, membuat penumpangnya tak encok.

Beda halnya jika yang melintas L300 pick up, mobil spesialis penunjang ekonomi. Hentakan dan bantingannya berbeda.

Kalau tak terbiasa, selain encok, bulu hidungmu yang rontok, saking kuatnya guncangan.

Truk-truk plat kuning pengangkut pasir juga sering hilir mudik di jalan tersebut. Tak ketinggalan truk pengangkut alat berat, sehingga menambah kesan itu bukanlah jalan inspeksi melainkan jalan nasional.

Namun, untuk urusan ranjau darat, nyaris tak ada kendaraan yang mampu menghindar dari tahi lembu.

Terkadang bagai memakan buah simalakama. Mau memakan mengelak tahi sapi tapi terpaksa masuk kubangan “gajah”, yang terkadang saat hujan tak kelihatan kedalamannya, sehingga beresiko masuk jebakan betmen.

Terjerembab lubang memang menyakitkan. Makin menyakitkan apabila kecipratan “sanger” dari lumpur plus tahi lembu.

Saat salat Jumat, tak sedikit jemaah yang sarungnya kecipratan. Akibatnya, tanpa sempat update status untuk mengabarkan pada dunia, si jemaah ini harus kembali ke rumah tanpa ikut jumatan.

Duh, kesel bingit pastinya, wak.

Baca Juga: Melihat Gajah dari Pematang Sawah

Pemandangan itu tentu saja belum seberapa bila dibandingkan insiden crash landing on you yang kerap menimpa para pelintas. Terutama pemotor.

Mulai dari ganasnya tabrakan di garis start setelah melewati kubangan, wheel crash to be eight alias patah weing keu lapan (roda patah jadi angka 8), hingga ban yang skid karena menggilas “kue tart” made in sapi.

Kecelakaan kerap berujung maut. Tapi sehari sesudahnya orang-orang akan lupa karena insiden berikutnya telah terjadi.

Bosan melihat kecelakaan tersebut, beberapa pemotor berinisiatif melakukan reboisasi. Lebih tepatnya berkebun pisang.

Di lubang-lubang jalanan mereka menanam bibit pisang wak. Tak lupa diberi pupuk tahi sapi agar cepat berbuah.

Gerakan penghijauan tak hanya menciptakan suasana asri. Batang-batang pisang menjadi rambu penolong bagi pengendara lain agar mereka mengendurkan gas saat melewatinya.

Pohon pisang yang masih unyu-unyu itu juga bisa ditamsilkan sebagai monumen mengenang para korban perang yang lebih dulu merasakan ganasnya trek.

Meskipun kerap meminta korban, para pelintas seolah tidak pernah kapok melewatinya.

Mungkin telah terpikat aroma mistis dari guratan kencing sapi sepanjang jalan yang berkesan artistik bak lukisan pemandangan di waktu senja.

Saya pribadi telah mengalami berbagai suka duka setelah berbilang tahun melintasi jalan tersebut. Walaupun kenyataannya, lebih banyak duka yang mampir.

Pengukuran jalan itu memang kerap dilakukan. Hitungan saya, tahun kemarin saja empat kali dilakukan.

Empat kali itu banyak bos, ibarat ujian catur wulan sekolah masa orde baru dulu.

Entah untuk apa pengukuran sesering itu. Sekadar action sematakah atau apa?

Saran saya, sebaiknya pemerintah tak perlu repot-repot menghabiskan anggaran memperbaiki jalan tersebut.

Biarlah ia terus rusak seperti itu. Biarlah lubang-lubangnya yang alami makin lebar menganga dan memakan banyak korban.

Biarlah gelombang-gelombangnya terus muncul agar per sepeda motor saya terbiasa dengan endurance dan pinggang saya melatih diri dengan guncangan sebelum encok datang.

Semua itu tak mengapa, karena bagi saya, melintasi jalan tersebut bagaikan mengarungi kehidupan yang ada naik turunnya.

Dari jalan itulah saya belajar kalau kutipan macam ‘life’s never flat’ memang benar adanya.

KOMENTAR


Dapatkan beragam artikel dari majalah online Breedie langsung melalui email Anda.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here