HUJAN. Saya senang ketika hujan turun. Suatu anugerah terbaik yang diberikan oleh Tuhan. Hujan sangat penting bagi kehidupan di bumi ini, terutama untuk organisme-organisme yang hidup di daratan. Hujan bisa mendukung persediaan air yang dibutuhkan oleh organisme-organisme untuk tumbuh. Sangat krusial untuk kehidupan di bumi, betul tidak?

Betuuul.

Secara ilmu pengetahuan, saya yakin Anda sudah tahu bagaimana proses hujan terjadi. Kalau Anda tidak tahu, kemungkinan Anda duduk paling belakang di kelas dan lagi tertidur. Tolong dibangunkan biar pinter!

Kalau Anda sudah terbangun, hahaha, saya ingin menceritakan satu kejadian beberapa tahun yang lalu. Ini masih ada kaitannya dengan hujan. Alkisah, di sore hari yang syahdu, seorang teman sekonyong-konyong menanyakan, “Gimana sih proses terjadinya hujan?”. Kemudian, dengan ilmu yang ala kadar, saya menjelaskan prosesnya dari awal sampai menjadi hujan.

Beberapa menit kemudian, dia manggut-manggut serius dan mengatakan, “Oh gitu, aku pikir selama ini, di atas langit yang biru itu, ada semacam ember yang menuangkan air ke bawah, maka terjadilah hujan”.

“………………”

Ingin saya pecah-pecahkan kepala di pinggir sungai biar ramai.

Bisa Anda bayangkan sebesar mana embernya untuk menuangkan air hujan ke permukaan bumi ini? Dan bayangkan lagi, seandainya, air yang dituangkan itu tidak menjadi tetes-tetes hujan, tapi menjadi seperti air terjun Niagara di Amerika sana. Punah semua manusia. Hidupmu kocak, teman. Haha.

Okay, kita serius sekarang. Saya ingin bertanya, pernahkah Anda mencium aroma khas ketika air hujan mulai turun dan mengenai tanah yang kering? Ya, saya yakin Anda pasti pernah mempunyai pengalaman itu. Sama, saya juga. Aroma khas itu membuat bulu hidung saya bergetar hebat. Ya, imbang-imbanglah dengan getaran garpu tala di laboratorium Fisika. Saya suka aromanya. Memabukkan, tapi belum masuk kategori haram. Saya bersyukur.

Tahu tidak namanya? Sini, saya bilang. Namanya petrichor. Iya, petrichor. Pe-tri-chor. Bukan tipikor. Kalau ti-pi-kor, itu urusannya KPK.

Sejarahnya, kata petrichor pertama kali dipromosikan oleh Isabel Joy Bear dan Richard G. Thomas dalam sebuah artikel yang berjudul “Nature of Argillaceous Odour”, tahun 1964. Ide kata petrichor diambil dari “petros”, yang berarti batu dan “ichor”, ya, semacam cairan yang mengalir di pembuluh para dewa Yunani.

Beliau-beliau ini menjelaskan bahwa adanya aroma khas disebabkan oleh terlepasnya ke udara minyak-minyak yang diserap oleh tanah dan batuan. Terus, dari mana minyak-minyak itu datang? Ternyata, minyak-minyak itu dihasilkan oleh tumbuh-tumbuhan tertentu di saat cuaca kering. Selain itu, ada kontribusi senyawa lain yang ikut dilepaskan secara bersamaan. Namanya Geosmin, produk sampingan metabolisme dari actinobacteria tertentu yang dihasilkan dari tanah basah. Geosmin berarti bau bumi dalam bahasa Yunani.

Lagi-lagi saya bersyukur, apa jadinya kalau tumbuh-tumbuhan tertentu itu malah menghasilkan minyak sinyongnyong. Pasti hiruk pikuk dunia ketika hujan turun. Suram aromanya.

Pendek cerita, seiring dengan perkembangan zaman, pengetahuan tentang petrichor juga berkembang. Tahun 2015, dua peneliti yang bernama Young Soo Joung dan Cullen R. Buie berhasil mengidentifikasi sebuah mekanisme yang menggambarkan bagaimana aroma khas dan aerosol-aerosol lainnya dilepaskan ke udara atau lingkungan. Kata mereka nih, mekanisme ini mungkin bisa menjelaskan petrichor.

Seperti yang diberitakan oleh MIT News, Buie menyatakan, “Bear dan Thomas berbicara tentang minyak-minyak yang dihasilkan oleh tumbuh-tumbuhan dan bahan kimia tertentu dari bakteri, yang mana hal tersebut mengarahkan kita kepada aroma yang kita dapatkan setelah hujan selama cuaca kering. Menariknya, mereka tidak mendiskusikan mekanisme tentang bagaimana aroma itu memasuki udara. Satu hipotesa dari kami adalah aroma itu datang dari mekanisme yang kami temukan ini”.

Mekanisme yang berhasil mereka temukan adalah ketika satu tetes hujan mengenai permukaan tanah, maka tetes hujan tersebut memipih dan sekaligus menjebak gelembung-gelembung udara yang sangat kecil di dalamnya. Kemudian, gelembung-gelembung udara itu bergerak naik ke atas dan keluar dari tetes hujan. Akhirnya pecah di udara dan mengeluarkan aroma khasnya yang berasal dari senyawa-senyawa yang ada di tanah dan aerosol.

Cukup jelas? Kalau masih belum jelas dan pengen tahu lebih detil, waktu dan tempat dipersilakan untuk cari sendiri.

Yang terakhir, ini hanya sebagai warning saja sih. Pastikan jangan salah mengambil keputusan dengan mencium aroma tae kucing. Itu fatal. Biasanya, tetesan-tetesan hujan yang jatuh menubruk tanah itu bertemu dengan tumpukan tae kucing. Hewan ini, seperti Anda tahu, eeknya sembarangan karena tak ada wc umum yang khusus dibuat untuknya.

Aroma tae kucing sungguh klasik dan Anda akan butuh waktu untuk menemukan sumber aromanya. Nasehat saya, setelah menemukan si tae kucing, buanglah dia jauh-jauh dalam keterasingan.

Dalam rangka mengincar sumber aroma tae kucing, Anda harus mempunyai kemampuan orientasi medan yang elit untuk menentukan posisi titik koordinat lintang utara dan bujur timur tae kucing tersebut. Satu hal lagi, Anda juga harus ahli dalam menerjemahkan data-data aroma tae kucing yang Anda hirup, untuk kemudian menjabarkannya ke dalam sebuah kesimpulan yang akurat tentang posisi letaknya.

Sialnya, waktu akan lebih banyak termakan dan terbuang, kalau ternyata Anda berhadapan dengan kucing yang mempunyai kemampuan, skill dan presisi secara kuantitatif di atas rata-rata dalam menyembunyikan taenya.

Dan terkutuknya lagi, Anda malah menginjak tae kucing target tersebut. Kelar hidup Anda dengan semerbak tae kucing. Anda kalah. Amatir. Medioker.

Practice makes you better, sweet baby.

Meoooww.

[Iwan Nasai – Manusia yang Hidup di dalam Dunia yang Berbentuk Kubus]

Komentar

Komentar