Memoriku yang Tak Renyah-renyah Amat Bersama Angkutan L300

~ Ke hadapan para penumpang L300 yang tidak bisa saya sebutkan namanya satu per satu

Apa yang mau saya bahas di sini, saya rasa dialami banyak orang lain di belahan Bumoe Aceh yang tidak miskin kaya ini. Izinkan saya mewakilinya untuk membagikan cerita ini sebagai kenangan sekadar.

Sekaligus saya ingin membagikan saran dan pandangan tidak penting terhadap keeksisan sebuah angkutan antarkota bernama L300. Karena biar saudara tahu, perjuangan L300 belumlah selesai. Perjuangan mereka baru dimulai. Butuh seribu purnama lagi.

Kira-kira begitu. Jika saudara perlu mencatatnya, siapkanlah pulpen, ya.

Mari kita mulai …

Jadi begini, selama pengelanaan saya di dunia fana ini yang hampir empat dekade, L300 hadir dan menjelma dari sebuah angan-angan menjadi kenyataan. Dari fantasi hingga fatamorgana. Dari dilema hingga merana. Dan dari dan ke yang lain yang tidak usahlah saya sebut karena saudara pasti tidak akan paham.

Yang ingin saya garis bawahkan, L300 hadir dari satu dimensi ke dimensi cerita hidup saya yang belum sempat dikliping.

Di Aceh, Minibus Mitsubishi L300 mulai bermunculan pada akhir 90-an sebagai sarana transportasi antarkota. Orang Aceh menyebutnya “L300”.

Entah kenapa tidak ada yang memanggil angkutan ini dengan nama yang unik dan khas, seperti yang berlaku pada BE dan Labi-labi. BE akronim dari Bireuen Ekspress. Kalau Labi-labi saudara tahu sendiri dia itu apa.

Nah, angkutan yang satu ini cuma disebut L300 alias el lhee reutoh, tidak lebih tidak kurang.

Setidaknya hingga sekarang saya belum menemukan ada orang menyebutnya dengan nama lain. Naik apa? L300. Padahal, L300 itu kan nama salah satu varian dari mobil besutan Mitsubishi tersebut. Aslinya, Mitsubishi menyebut varian ini dengan nama Delica.

Kenapa tidak dipanggil Delica saja, kan lebih cute?

Kita memang kurang kreatif, maunya serba praktis. Sepeda motor disebut Honda, mobil dibilang moto, odol dikata pepsodent. Benar begitu, saudara?

Angkutan L300 langsung populer di awal milenium baru mengalahkan moda transportasi antarkota yang sempat hits beberapa tahun sebelumnya yaitu BE. L300 mendadak disukai karena angkutan kota berbody semok ini menawarkan jasa antar-jemput penumpang hingga ke rumah.

Serasa naik taksi tapi secara berjamaah.

Kian hari, L300 ini semakin hari semakin populer saja. Mereka akhirnya punya terminal khusus sendiri terpisah dari bus dan angkutan umum dalam kota yaitu the one and only the legend of labi-labi.

Dari segi tarif, L300 memang sedikit lebih mahal dari bus tapi masih lebih “worth it” karena diantar langsung ke tempat. Tentu sangat berguna bagi penumpang yang tinggal jauh dari jalan negara dan membawa barang banyak.

Jika dibandingkan naik bus yang harus turun di jalan negara dan melanjutkan perjalanan dengan RBT (sebutan ojek di Aceh), tentunya L300 sangat membantu meringankan beban kehidupan penumpangnya.

⋅⋅⋅

Saat awal kemunculannya, saya hanya melihat dari jauh tindak-tanduk L300 ini. Misalnya, ketika L300 menjemput dan mengantar kakak saya pulang ke rumah.

Terkadang kakak saya kembali dari Banda Aceh sekadar ingin berkumpul dengan keluarga di Sigli. Sebagai mahasiswa dengan kemampuan secukupnya dalam memasak, sesekali beliau meliburkan diri dari aktivitas perkuliahan.

Hanya untuk pulang ke rumah membawa lidahnya yang sudah jeri memakan masakan buatan sendiri seperti sayur transparan (baca: sayur bening), ikan sambal lado, atau telor ceplok.

Untuk jarak Banda Aceh-Sigli yang lumayan dekat, angkutan andalannya adalah L300 tersebut.

Ketika tiba giliran saya kuliah di Banda Aceh, alur ceritanya berubah. Karena suatu alasan, saya pindah dan menetap di ibu kota provinsi tersebut. Akibatnya, saya tidak bisa merasakan pengalaman pulang-pergi dengan L300 seperti yang kakak saya alami.

Meskipun bukan penumpang tetap, bukan berarti saya tahu sedikit tentang L300. Hal ini karena banyak teman kuliah yang berasal dari kabupaten dan kota di Aceh, yang bolak-balik dari kotanya ke Banda Aceh dengan menumpang L300.

Dari sinilah saya mulai mengenal seluk-beluk L300. Saya menyimak cerita dan pandangan teman-teman saya terhadap moda transportasi tersebut. Mulai dari jemput penumpang, menunggu penumpang yang kebelet pipis di tengah jalan, sampai perjuangan sang sopir mengantar penumpang ke daerah antah berantah.

Bayangkan jika si sopir L300 menganggap penumpangnya adalah jelangkung semua

Belakangan saat selesai kuliah, saya mulai menjadi penumpang tetap L300 karena harus bepergian ke luar kota. Entah itu untuk interview pekerjaan, mengurus keperluan keluarga di kampung halaman, mengunjungi resepsi pernikahan keluarga dan sahabat, mengunjungi teman yang sakit, atau sekadar reuni bukber bersama teman-teman alumni SMU di Kota Sigli.

Dari sinilah sesungguhnya petualangan saya dengan L300 dimulai. Sejak saat itu, saya merasakan sendiri dan menguji cerita teman-teman. Seru pastinya, karena sering saya menemukan beberapa hal yang luput dari cerita mereka.

Suatu kali sepanjang perjalanan, secara tak sengaja telinga saya kemasukan ucapan-ucapan bernada absurd dari seorang penumpang lelaki di jok belakang.

Si lelaki itu, mungkin sedang kasmaran. Salah satu ucapan yang mampu saya ingat dan cerna adalah ketika ia berkata dengan sedapnya kepada si pacar melalui telepon.

“Adek pernah nonton sinetron Putri yang Tertukar? Abang mirip pacarnya Nikita Willy itu (maksudnya Rezky Aditya). Cuma dia berdaging sikit daripada Abang.”

Saya ingin tertawa dengan sempurna saat itu juga tapi dengan banyak pertimbangan terpaksa harus menahannya.

Kali lain, terjadi percakapan antara sopir dan seorang penumpang. Waktu itu ada penumpang kebelet pipis sedangkan posisi mobil menjelang Seulimeum dari arah Sigli.

“Bang, neudong bak mesjid siat, saket iek (Bang, berhenti sebentar di masjid, mau pipis),” pinta si penumpang.

“Pakon hana toh di Saree, bunoe (Kenapa tidak pipis di Saree, tadi)?” sopir balik tanya.

Ada aturan tak tertulis pada beberapa sopir L300, kalau penumpang ingin pipis harus di Saree. Di sini, kebanyakan L300 lintas Timur Utara maupun Tengah Aceh berhenti untuk makan.

“Bunoe hana saket (tadi belum sesak pipis),” jawab si penumpang lagi dengan polosnya.

Mendengar jawaban itu, sopir diam saja seolah mengiyakan. Namun, melewati Masjid Seulimeum, mobil tak kunjung berhenti. Sopir melibas tikungan dengan santainya.

Penumpang itu sepertinya jengkel dan kecewa bukan main. Dia terpaksa menahan lebih dalam keinginan kencing.

Hingga mobil mendekati Sibreh dan peluh dingin mulai membanjiri tubuh disertai pekikan si penumpang tersebut, barulah mobil berhenti.

Ajaib, entah apa yang ada di benak si sopir. Sebercanda itukah ia dengan hajat orang lain? Bukankah pipis yang tertunda akan menghadirkan masalah kesehatan bagi si pemilik hajat?

Mobil pun berhentinya bukan di masjid atau SPBU tapi depan warung kopi. Penumpang sesak pipis itu pun turun dan bertanya kepada penjual warung di manakah ada toilet.

“Itu, Dek, di sana (kira-kira 100 meter dari warung), di belakang truk-truk itu,” si penjual menunjuk ke suatu arah.

Saya dan beberapa penumpang melihat adegan itu dari balik kaca dengan harap-harap cemas. Soalnya, penumpang itu sudah menggapit kakinya, susah payah berusaha menggapai toilet dengan selamat.

Beberapa jeda kemudian, dia kembali dengan muka masam.

Ternyata, toilet yang dimaksud si penjual hanyalah sebuah sumur dan timba tanpa ada dinding pembatas. Entah bagaimana cara dia menuntaskan hajat kecilnya itu.

Si sopir yang menjadi penanggung jawab utama kejadian tersebut, malah dengan nyinyirnya bertanya. “Na ditubiet lam luweu?”

⋅⋅⋅

Kejadian hampir-gagal-pipis itu setidaknya membuat saya mengambil kesimpulan. Demi menghindari kejadian yang sama berulang, sebaiknya penumpang dan sopir menjalin relasi yang berujung kepada kelancaran transportasi.

Saya jabarkan dari sisi penumpangnya terlebih dulu. Tingkah laku berbagai macam tipe penumpang sangat menguji tingkat kesabaran, melebihi cobaan hidup dalam sinetron azab.

Ujian ini tidak hanya dialami oleh sopir tapi kadang-kadang berlaku bagi penumpang yang lain.

Maka dari itu, alangkah baiknya jika penumpang mau memperhatikan beberapa hal demi kemaslahatan bersama.

Pesan Tiket Via Telepon atau Loket Resmi

Sebaiknya memesan tiket melalui telepon atau langsung ke loket resmi, jangan melalui sopir. Kadang sopirnya mengiyakan saja padahal dia sedang di jalan dan tidak mendengar pesan tersebut. Apalagi kalau tidak dibuktikan dengan SMS, Bang Supee sudah pasti lupa seiring kelok-kelok perjalanan mengantar penumpang.

Jangan Buru-buru Kalau Beli Tiket di Terminal

Kalau go show alias langsung menyambangi terminal, harap diperhatikan sesampainya di sana jangan biarkan tas saudara langsung diambil petugas loket untuk dimasukkan ke bagasi L300 dan dibuatkan tiket.

Tanya-tanya aja dulu, siapa tau berangkatnya masih dua hari lagi. Kecuali saudara berniat menitip barang dulu terus pergi lagi karena kelupaan beli oleh-oleh atau sekadar isi pulsa.

Selain Alamat, Berikan Patokan

Untuk penumpang yang minta jemput, harap memberikan alamat yang jelas seperti nama jalan, nomor rumah, dan patokannya. Misal, rumah saudara berada dekat pom bensin atau di belakang kantor gubernur.

Angkutan L300 sebagian memiliki sopir jemput antar. Sopir ini hanya bertugas menjemput penumpang dari rumah ke terminal dan sebaliknya.

Banyak di antara mereka tidak suka menghapal alamat, maunya disebutkan saja patokannya. Makanya, cukup kasih tau saja di mana patokan terdekat lokasi rumah saudara. Tidak disarankan share location dengan mereka karena tidak ada guna sama sekali.

Sebagian sopir jemput ini biasanya sudah tau priority management. Mereka biasanya mengantar penumpang yang jauh dulu baru. Begitu juga kalau jemput.

Harap Pipis Pada Tempatnya

Maksudnya, dalam setiap trayeknya, sopir pasti berhenti di warung langganannya untuk istirahat, makan, dan minum.

Selain ikut makan dan istirahat, penumpang diharapkan memanfaatkan waktu tersebut untuk menuntaskan segala rintangan yang mampu menganggu perjalanan seperti buang air kecil. Kalau pun nggak kebelet, coba berusaha untuk kebelet aja.

Jangan Merokok

Jangan merokok saat berada di dalam mobil, terutama rokok daun yang baunya menyengat minta ampun. Hal ini akan membuat suasana di dalam mobil menjadi bakai karena hidung dan saluran pernafasan akan tersiksa dengan sempurna.

Jangan Merayu

Jangan terlalu banyak menelpon pacar karena akan menyebabkan orang lain muntah mendengar rayuanmu yang norak ke pacarmu itu. Please, deh, kalau mau merayu lihat sikon dulu, saudara.

Sementara, dari sisi pengemudi, setidaknya seorang sopir L300 harus memenuhi beberapa skill competency sebagai berikut:

Interpersonal Skill

Keahlian ini diperlukan karena tingkat stres yang tinggi dalam menghadapi berbagai macam karakter dan latar belakang penumpang.

Mulai dari mahasiswa yang rewel soal posisi tempat duduk. Mamak-mamak yang bawa barang banyak plus anak tapi pesannya cuma satu kursi. Atau bapak-bapak yang malas gerak keluar sebentar karena kursinya dekat jendela, sementara penumpang lainnya mau turun.

Posisi duduk juga menjadi persaingan yang sengit antarpenumpang. Kebanyakan memilih kursi terdepan atau di belakang sopir seperti saya.

Alasannya, pijakan kaki agak lebih luas sekayak penumpang kelas bisnis pesawat terbang yang bisa selonjoran seenak hatinya.

Namun, posisi ini kerap sekali menjadi rebutan terutama dengan ibu-ibu yang membawa barang banyak atau anak kecil.

Saya yang masih kinyis-kinyis waktu itu, ya, mengalah saja dengan yang lebih tua. Daripada mobil nggak jalan-jalan hanya karena tawar-menawar kursi udah kayak di parlemen saja.

Jika saya bersikeras, saudara bisa bayangkan pertumpahan apa yang bakal terjadi di situ. Maka dari itu, dibutuhkan keahlian interpersonal dari seorang sopir untuk menjaga-jaga jika hal semacam ini terjadi.

Strong Analytical

Diperlukan saat situasi emergency, terutama untuk mencari jalan pintas. Sopir L300 paling bisa tiba-tiba masuk ke jalan tikus lalu keluarnya sudah ke jalan negara, hebat bukan?

Tapi ini hanya dilakukan saat situasi banjir dan jalan utama putus. Normalnya mereka akan cari jalan tercepat dengan waktu tersingkat, kalau bisa terbang mungkin sudah terbang.

Having Sense of Humor and Good Taste of Music

Seorang sopir L300 setidaknya memiliki selera humor yang baik. Setiap joke yang dia lemparkan setidaknya mengena di hati penumpang bukannya membuat roaming suasana.

Selain itu, selera musik yang tidak buruk-buruk amat. Karena musik salah satu layanan pendukung dalam L300 selama perjalanan.

Kebanyakan, lagu yang diputar memang tergantung dari selera sopirnya. Mulai dari lagu daerah, pop, dangdut, house music remix, tembang kenangan, hingga ceramah ustad yang udah serasa mendengar stand up comedy.

Selama perjalanan lagu-lagu ini akan berulang hingga beberapa kali tergantung jarak tempuh. Biasanya, penumpang yang selama perjalanan cuma bengong dan mengkhayal, begitu turun sudah mampu menghapal lagu-lagu itu.

Untuk beberapa kasus, anak kuliahan biasanya suka berlangganan L300 dengan driver yang punya selera musik bagus. Terutama yang suka memutar lagu-lagu hits.

Namun, kebanyakan sopir L300 memang menyuguhkan tembang-tembang kenangan buat para penumpang tercinta. Di deretan mixtapenya, bisa ditemukan sederet biduan lawas seperti Pance Pondaag, Tommy J Pisa, Betharia Sonata, dan Endang S Taurina.

Jika beruntung, saudara akan diperdengarkan Nike Ardila, Inka Christie, dan penyanyi-penyanyi sepantarannya.

Single Fighter

Sopir L-300 terkenal single fighter, membawa penumpang tanpa bantuan kernet. Mereka menempuh jarak berkilo-kilometer sendirian, melahap kantuk dan debu tanpa ditemani kondektur. Sudah biasa memang karena fisik mereka kuat.

Rata-rata perawakan sopir L300 kurus, jarang yang gemuk. Mungkin, mereka punya standar berat badan ideal seperti pilot pesawat terbang. Selain itu, style mereka juga kebanyakan casual, bahkan beberapa ada yang smart casual.

Itulah beberapa hal yang sempat saya ingat selama menempuh perjalanan bersama L300. Sejak pindah ke Jakarta pertengahan 2014, saya baru naik L300 lagi saat pulang ke Aceh akhir tahun itu.

Kangen juga saya naik L300 ini. Saya ingin tau perkembangan teknologi apa yang di-justify dalam bisnis L300 ini sekarang. Apakah proses pemesanannya sudah berbasis aplikasi?

Nanti saya pengen tanya-tanya dulu ke teman-teman yang masih setia naik L300 ini. Apalagi sekarang sudah ada transportasi berbasis aplikasi yang bisa jemput antar ke tempat juga. Next time kalau saya pulang ke Aceh, saya akan naik L300 ini, minimal buat menghemat biaya jalan-jalan antarkota.

KOMENTAR


Dapatkan beragam artikel dari majalah online Breedie langsung melalui email Anda.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here