Donggala dan Manusia yang Tak Seberapa

Pukul 7 malam, linimasa penuh dengan sederet nama orang hilang di balik tagar yang dibuat akun Twitter @InfoMitigasi, Sabtu, 29 September 2018. Nama-nama itu terus bermunculan. Jumlahnya sudah ratusan, terus dikicau-ulang entah sampai kapan. Saya terhenyak, meski kecepatan informasi berhasil meruntuhkan sekat wilayah satu dan lainnya, duka dan kecemasan yang massal belum dapat terobati.

Kita, di Aceh, pernah akrab dengan situasi serupa. Petaka Donggala dan mair yang datang meluluhlantakkan segala tegak, pernah kita alami belasan tahun silam.

Saya membayangkan deretan nama di beranda InfoMitigasi itu seperti lembaran kertas, tertempel di sepanjang jalan, pertokoan yang remuk, bangkai-bangkai kendaraan roda empat dan dinding rumah-rumah yang sepi serta gelap. Tapi orang terus mencari-cari di mana kerabatnya yang hilang.

Duka terus diulang, kehilangan terus menjamah sepanjang hidup. Semata menegaskan, betapa tak berharganya manusia yang pintar mendaku kuasa atas tanah, air, udara, dan segala yang hidup di dalamnya. Betapa omong kosongnya klaim “paling benar” yang datang dari mulut manusia.

Saya tak bisa menahan haru saat menyaksikan orangutan merintih di batang pohon yang rebah dipijak buldoser. Maupun bayi primata lain yang kebingungan di gendongan orangtuanya yang telah terbujur kaku di ujung senapan pemburu.

Saya juga tak paham apa hebatnya gerombolan pria berseragam militer di tepi gurun Kamerun yang dengan mudahnya menyeret seorang perempuan dan anaknya. Lalu ujung senapan gerombolan itu menghabisi keduanya tanpa ampun, seperti yang pernah diselidiki secara mumpuni oleh BBC Afrika baru-baru ini.

Kita, kerap kehilangan dunia dengan bermacam cara. Sebagai bagian semesta, kita terus menghilangkan dan dihilangkan, oleh alam dan makhluk seisinya. Semakin pongah, maka sebenarnya kita telah menunjukkan sifat lengah, tak terbantahkan.

Untuk puluhan ribu tahun yang antroposentris, agaknya kita tak juga mampu sebijak kaum animis memperlakukan seisi bumi ini. Apalagi kita akan lebih tergelitik menyimak betapa tak sebandingnya film-film Disney berkisah tentang manusia dan hewan yang saling bersaing setara. Sementara kenyataannya, untuk seratus serigala liar di Jerman saja, tak seberapa jumlahnya dibanding tiga juta anjing piaraan di sana. Dan jumlah hewan liar di dunia terus menyusut setiap tahun. Artinya manusia, selalu ingin membuat sejarah dengan jadi agen tunggal yang “mengendalikan” ekologi global.

Ketika pendiri WatchDoc, Dandhy Dwi Laksono memutuskan berkeliling Nusantara bersama motor bututnya tiga tahun silam, mereka dengan tangguh mengungkap satu demi satu kultur dari pedalaman negeri ini. Di mana manusia hidup setara dengan alam di sekelilingnya. Mereka masih enggan membabat pohon karena menghormati semua yang telah dianugerahinya bagi mereka, berupa keteduhan hidup.

Dan keberlangsungan adat di pedalaman yang dijelajahi Dandhy pun menggenapi gambaran kaum animis seperti yang diungkap Yuval Noah Harari dalam Homo Deus (2015), bahwa bagi animis tak ada celah esensial yang memisahkan antara manusia dan alamnya. “Dunia–yakni lembah setempat dan barisan gunung yang mengelilinginya–milik semua penghuni. Setiap orang mengikuti seperangkat aturan bersama, yang mencakup negosiasi tanpa henti dengan sekelilingnya,” ungkap Yuval.

Meski Homo Deus mengulas kemungkinan tentang imortalitas–jaminan potensi hidup manusia yang tanpa akhir–berkat kedigdayaan teknologi dan ilmu pengetahuan, nilai-nilai humanisme yang ia ceritakan tak kalah mengesankan. Maka ada benarnya. “Ketimbang mengkhawatirkan asteroid yang akan menabrak bumi, sebaiknya kita takut pada diri sendiri,” tulis Yuval.

Tak cukup bertahan dari amukan alam, seperti gempa bumi, banjir bandang dan badai hebat, manusia pun masih memusnahkan satu sama lain, untuk “mempertahankan” dirinya.

Seorang teman pernah berkelakar, “entah, bencana alam bertubi-tubi, supaya kita sadar, sesibuk apapun kita saling memusnahkan sesama, amukan alam lebih parah dari itu, jadi sebaiknya kita saling menjaga.”

Pada akhirnya, sebagaimana sukacita atas raihan medali emas Asian Games oleh kontingen tanah air beberapa waktu lalu, duka bencana alam pun bisa menyatukan perbedaan. Kita berbondong-bondong mengulur bantuan, berbelasungkawa, dan bersimpuh kepada yang Maha Kuasa.

Sejenak kita menyadari batasan-batasan kemanusiaan, tegas menerabas batas suku, agama, ras, dan golongan. Kita menggaungkan lagi kata “sesama”.

Meskipun di depan, arena untuk menegasikan “selain kita” yang dibalut politik “taik kucing” siap memangsa. Tapi begitulah manusia dan daya hidupnya. Berbolak balik, tak henti-henti. Dari Donggala kita berhenti sejenak, melihat ke belakang dengan ekor mata. Walaupun besok kita yakin, cara pandang kita akan berbeda lagi; menghabisi yang lain atau menunggu dihabisi.

Komentar

Komentar