Saya, Drama Korea, dan Prasangka-Prasangka

~ 말도안돼 

Aigoo. Entah kesuntukan macam apa yang membuat saya akhirnya menonton drama Korea, sebuah pilihan yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya.

Saya menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar. Menggerutu dan kesal. Merengut dan sebal. Kadang berpikir dan larut dalam ragam emosi.

Semuanya hanya karena sebuah drama yang dalam waktu-waktu yang lalu akan langsung saya tabalkan sebagai drama menye-menyean. Sebagai roman picisan belaka.

Sebelum ini, saya dan drama Korea seperti dua kutub magnet yang saling bertolak belakang. Mungkin tak sampai kepada level benci. Tapi drama Korea adalah jenis tontonan yang saya tak mau buang-buang waktu untuknya.

Saya mungkin masih lebih memilih dipaksa menonton sinetron azab Indosiar dibanding drama-dramaan yang selalu berakhir dengan ‘mereka bahagia untuk selamanya’.

Jika sinetron azab saja sudah tak bisa dinikmati, Anda sudah mafhumlah di mana saya menempatkan derajat drama Korea dalam kamus hidup saya.

Tapi The World of The Married (TWTM) membuat ini berbeda.

Bermula dari review oleh Nicky Stefani di Asumsi, saya kemudian menghabiskan jam demi jam untuk episode demi episode TWTM.

Apa yang menarik dari TWTM ini adalah perspektif yang mereka tawarkan. Perspektif tentang rumitnya cinta orang dewasa.

Tentang perselingkuhan. Tentang perceraian. Tentang kesetiaan dan ketidaksetiaan. Tentang komitmen dan pengkhianatan. Tentang realitas cinta yang tak seindah bunga-bunga yang bermekaran.

Tentu saja TWTM bukan serial pertama yang mengangkat tema seperti ini. Dan tentu tak akan menjadi yang terakhir. Tapi TWTM sukses memberikan perspektif yang segar dan berbeda dari sinema pada lazimnya.

Kita bisa memilih setuju atau tidak setuju dengan nilai yang mereka tawarkan.

Tapi perspektif seberbeda apapun yang ditampilkan dengan cara berpikir yang rapi, dengan penalaran yang runut, dengan mengandalkan argumentasi yang kuat, akan selalu menjadi teman berpikir yang menyenangkan.

Setidaknya saya menemukan itu dalam TWTM.

Baca Juga: Sahur Stories: Mi Bang Won

Kita tidak akan masuk ke detil cerita TWTM di dalam esai ringan ini. Toh, memang bukan itu tujuannya. Walau secara ringkas bisa dirangkum bahwa serial ini berbicara tentang kehidupan yang kompleks dari keluarga Lee Tae Oh dan Ji Sun Woo.

Dari luar, kehidupan pasangan ini adalah kehidupan keluarga idaman. Pasangan yang saling mencintai. Kehidupan yang mapan. Karier yang sukses. Dan semua definisi kebahagiaan duniawi lainnya.

Lalu muncul masalah ketika Tae Oh berselingkuh dengan Da Kyung. Ia yang menikah karena cinta kemudian berselingkuh karena cinta, ia yang membangun komitmen atas nama cinta juga kemudian melakukan pengkhianatan karena alasan yang sama.

Rumit, bukan? Tapi seperti kata Tae Oh dalam satu episode: “Kau tak akan mengerti jika tak mengalaminya.”

Permainan berbahaya (((BERBAHAYA))) seperti inilah yang disuguhkan dalam 16 episode TWTM.

Tapi ini hanya akan menjadi cerita klise biasa jika hanya berkisar pada romansa belaka.

Yang membuat TWTM ini menarik adalah karena ia mampu menyuguhkan kompleksitas pernikahan dan perselingkuhan, juga cinta dan pengkhianatan, dalam beragam sudut pandang yang tak lumrah dibicarakan.

Dari sini kita bisa melihat narasi tentang cinta yang tak begitu-begitu melulu seperti drama percintaan pada umumnya.

Dari sinilah kemudian kita bisa mengamini cerita serial ini unik dan berbeda, dan mungkin ini alasannya kenapa drama ini bisa begitu kencang diperbincangkan di beragam media.

Saya dan Drama Korea

Lalu apakah TWTM ini bisa merefleksikan kualitas drama Korea pada umumnya? Apakah ini menjustifikasi bahwa drama Korea begitu diminati karena memang cerita mereka yang berkualitas?

Sejujurnya saya tak tahu. Lagi pula saya tak punya referensi apapun tentang drama Korea. Sebelum TWTM, saya bahkan tidak pernah sama sekali menonton serial drama dari negara yang terkenal dengan operasi plastik ini.

Okay, mungkin ini pengakuan. Kalimat terakhir dalam paragraf di atas tak sepenuhnya jujur.

Saya pernah sekali, iya sekali, mencoba menonton drama-dramaan dari Korea. Itu terjadi bertahun-tahun yang lalu, pada medio awal dekade 2010-an.

Saat itu saya memaksakan diri untuk mencoba memahami mengapa TV series dari Korea begitu digandrungi oleh anak-anak muda dari generasi saya. Itu kira-kira pada periode awal hallyu (Korean Wave) merebak di Indonesia, atau setidaknya di Aceh.

Lalu bagaimana hasilnya? Saya hampir mual sebelum mencapai menit kelima.

Sejak itu saya tidak pernah menonton drama Korea lagi. Cukup sekali dan itu sudah. Drama korea, dalam pandangan saya, lebih rendah derajatnya dari FTV-FTV Indonesia yang terkenal klise dan membosankan.

Pernah ada waktu memang ketika teman-teman saya merekomendasikan beberapa series. Reply 1988, Descendant of The Sun, dan beberapa judul yang lain. Saya pernah hampir menonton, tapi urung melaksanakannya hingga negara api pandemi corona menyerang.

Sudah adalah sudah. Sekali cukup, tetap cukup.

Saya bertahan cukup lama dengan prinsip itu hingga akhirnya The World of The Married muncul.

Seperti drama Korea lainnya, awalnya saya abai. Bahkan ketika drama ini menjadi topik pembicaraan yang ramai di Twitter–satu-satunya plaform media sosial yang saya aktif di dalamnya saat ini–saya masih tak tertarik.

Dalam bayangan saya, TWTM tak lebih dari drama Korea lainnya. Klise, datar, dan saya tak mau (lagi) mual-mual karena alasan yang sepele.

Tapi saya sadar satu hal. Semua generalisasi adalah keliru–termasuk untuk kalimat barusan!

Meski saya tak pernah suka dengan drama Korea, saya sadar bahwa pandangan semua drama Korea sama saja adalah sebuah pandangan yang mengandung prejudice.

Prejudice atau prasangka sering kali keliru. Ia menjadi awal dari lahirnya stereotip. Ia acap kali tak memiliki basis data yang valid, tidak ilmiah, dan tak bisa dipertanggungjawabkan.

Lagi pula, tentu ada alasan kenapa drama ini dibicarakan, mendapat rating yang tinggi, diresensi dengan serius, hingga menjadi hype di media sosial.

Baca Juga: Media Sosial Alternatif Agar Tetap Eksis

Atas premis itulah saya mencoba menonton drama ini, walaupun harus melawan prasangka saya sendiri. Walau harus harus menurunkan ego sebagai laki-laki yang (seharusnya) sudah memasuki fase (berpikir) dewasa.

Lagi-lagi ini prejudice, kan? Mana ada hukumnya laki-laki dewasa tak boleh menonton drama Korea.

Hasilnya? Saya masih terganggu dengan beberapa hal. Soundtrack yang menyebalkan–mungkin ini preferensi pribadi, teaser di akhir episode yang mirip sinetron Indonesia, atau lubang-lubang minor di dalam plot cerita.

Tapi secara umum ini adalah tontonan yang segar, dengan perspektif yang tidak biasa.

(Sebenarnya saya menambahkan kata ‘orisinal dan’ sebelum kata ‘tidak biasa’. Tapi kemudian saya tahu drama ini didaptasi dari drama Doctor Foster jadi ya tidak orisinal-orisinal amat).

Drama ini juga mampu mengejutkan saya dengan lompatan-lompatan cerita yang menarik.

Saya selalu senang dengan tontonan atau bacaan yang membuat saya ‘terganggu’. Tentu dalam artian yang positif.

Bacaan atau tontonan seperti ini akan membuat saya berpikir, merenung, berkontempelasi, dan berupaya memahami sudut pandang orang lain, kendati tak serta-merta mengamininya.

Selalu ada hal yang kita bisa bersepakat untuk tak bersepakat tentangnya. The World of The Married memenuhi kriteria itu.

Saya–seperti halnya juga Anda–tentu punya pandangan ideal sendiri tentang cinta dan pernikahan, tapi relasi hubungan yang dibangun atas nama cinta seperti yang ditampilkan dalam TWTM ini patut disaksikan kendati kita tak bersepakat dengannya.

Dan selalu ada hal yang baik ketika kita mampu menyingkirkan prasangka dan ego. Semacam sisi positif yang menyenangkan.

Saya kini setidaknya memiliki beberapa perbendaharaan bahasa Korea. Saya bisa melafalkan an-nyeong-ha-se-yo dengan padanan yo yang ditinggikan seperti orang-orang dalam drama itu mengucapkannya.

“Noona, noona. Annyeong haseyo.”

“Daebak, kamsahamnida. Aigoo. Saranghae.”

Geli? Iya, saya juga sama.

KOMENTAR


Dapatkan beragam artikel dari majalah online Breedie langsung melalui email Anda.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here