~ Sanger dari kopi turun ke cangkir, kalau cinta 😉 ?

Barangkali aku termasuk salah satu orang yang terlanjur menyugesti diri dengan kopi. Bahwa kopi sumber inspirasi. Sumber semangat. Hari terasa lebih asyik dan hangat bila diawali dengan secangkir kopi.

Secangkir kopi pahit diselingi sedikit rasa manis yang menjadikannya legit. Lalu ditambah krema yang kental.

(Krema itu apa? Penjelasannya ada di paragraf bawah).

Hmm…adakah yang lebih nikmat dari mencecapi itu? Ada, tentu saja ada. Mencecapi kekasih…(Ini lagi maksudnya apa? Silakan maknai sendiri, Breeders)

Nyaris setiap pagi sebelum memulai aktivitas, aku selalu memulai hari dengan secangkir kopi. Rasanya seperti ada yang tak lengkap bila belum menikmati kopi di pagi hari. Omong-omong, aku menjadi penikmat kopi sejak masih usia sekolah dasar. Ibuku berbeda dengan ibu bangsa kebanyakan yang menyuguhkan teh untuk anak-anaknya.

Sekarang usiaku sudah lebih seperempat abad. Tak perlu kita hitung berapa liter kopi sudah masuk sempurna ke kehidupanku.

Kini aku sedang tergila-gila dengan sanger. Racikan kopi yang sepertiganya dicampur krimer kental manis. Ini bukan kopi susu. Cocok bagi mereka yang bukan pencandu kopi, tetapi tetap ingin menikmati aroma dan cita rasa kopi yang khas.

Belakangan, seiring promosi yang kian masif, sanger naik daun. Minuman ini terus dipromosikan sebagai minuman lokal khas Aceh yang pamornya diharapkan bisa seperti kopi nantinya. Menjadi minuman kelas dunia. Beberapa tahun terakhir bahkan sudah digelar secara rutin Festival Sanger.

Bisa kukatakan kalau sanger ini menjadi minuman terfavorit kedua di Aceh setelah kopi hitam. “Kalau di Italia ada kapucino, di Aceh ada sanger,” begitulah komentar Fahmi Yunus, yang digadang-gadangkan sebagai “Bapak Sanger” saat menikmati kopi bersama rombongan dari Kementerian Kehutanan dan Uni Eropa di salah satu kedai kopi di Blang Padang pada Rabu, 21 November 2018 lalu.

Sejarah di balik lahirnya sanger

Banyak yang memplesetkan sanger menjadi ‘sangar’. Tak sedikit pula yang mengatakan kalau sanger merupakan akronim dari istilah ‘sama-sama ngerti’. Berdasarkan sejarahnya, nama sanger memang berasal dari istilah sama-sama ngerti yang disingkat sanger. Belakangan istilah ini menjadi populer dan dengan sendirinya menjadi nama sebuah racikan minuman.

Konon di akhir-akhir era Orde Baru, saat itu Indonesia sedang mengalami krisis yang membuat kantong-kantong masyarakat melilit. Tak terkecuali kalangan mahasiswa. Dengan kondisi seperti itu mau tak mau gaya hidup terpaksa disesuaikan dengan situasi kantong. Para mahasiswa yang biasanya hobi minum kopi susu (boleh dibaca: kopi krimer kental manis) sebagai pembangkit energi dan semangat, terpaksa mencari alternatif lain yang harganya lebih bersahabat.

Namanya saja mahasiswa. Pastilah selalu muncul ide-ide brilian dari otak mereka. Dalam situasi kantong terjepit sekalipun mereka tak kehilangan sisi kreativitasnya. Mereka pun bersiasat. Melakukan tawar menawar dengan si pemilik warung. Ingin tetap menikmati kopi susu yang gurih, tetapi dengan harga miring. Solusinya, kopinya dibanyakin, susu (krimer)nya dikurangin. Inilah hasil dari kesepakatan tak tertulis dari “sama-sama ngerti”. Dengan begini simbiosis mutualisme tetap terjaga.

Cinta dan kopi, Sama-sama pahit, tetapi sama-sama digilai.

Saya jadi teringat cerita Profesor Sarwidi, pakar Rekayasa Kegempaan dan Dinamika Struktur dari UUI Yogyakarta dalam ceramahnya di Banda Aceh pada 12 September 2018 lalu. Ia mengatakan, dalam situasi sulit tak jarang malah menciptakan kondisi sebaliknya. Memunculkan peluang baru. Hal ini biasanya terjadi di lokasi-lokasi bekas bencana alam yang lama kelamaan menjadi destinasi wisata baru. Aktivitas ekonomi pun terjadi.

Begitu juga dengan munculnya sanger sebagai varian baru dalam khazanah kuliner Indonesia khususnya di Aceh. Siapa sangka, di balik kesusahan mahasiswa zaman itu, sanger kini menjadi minuman yang digilai sejuta umat. Tak peduli dia berkantong tebal atau kempes. Sanger bukan lagi monopoli mahasiswa berkantong kering. Bapak-bapak parlente bertampang sangar juga ikut-ikut mencecap sanger.

Beda Penyajian Beda Cita Rasa

Bila Breeders sering mendengar istilah kupi sareng, sanger juga bisa diracik seperti itu. Belakangan sejak kopi Arabika “mewabah”, sanger yang tadinya diracik dengan kopi Robusta dengan cara disaring secara manual, kini disajikan dengan cara berbeda.

Bubuk kopi dipres dengan mesin espresso untuk mendapatkan sari pati kopi yang lebih kuat. Kremanya, yaitu cairan kuning tua yang muncul saat sari pati kopi terekstraksi lebih pekat dan terasa. Belakangan aku sendiri lebih suka menikmati sanger espresso ketimbang sanger yang diracik secara manual. Sudah lupa kapan terakhir minum sanger Robusta. Ya, beda cara penyajian tentu saja menghasilkan cita rasa yang berbeda. Dan soal rasa, setiap orang pasti punya pilihan yang berbeda.

Ada kebiasaan kecil yang kulakukan sebelum mengaduk cairan kopi dengan krimer di dalam cangkir, menghirup aromanya kuat-kuat. Membiarkan aromanya meresap jauh memasuki ujung-ujung syaraf. Kurasa itulah efek sugesti tertinggi yang kudapat saat minum kopi.

Menikmati Kopi Meresapi Cinta

Cinta dan kopi, menurutku memiliki persamaan. Sama-sama pahit, tetapi sama-sama digilai. Justru di situlah terasa nikmatnya. Rasa pahit yang melekat di ujung lidah, sama seperti nyeri perasaan karena sesak oleh rindu. Dari rasa pahit itulah kejujuran sebuah rasa tercipta. Ini kataku, apa kamu percaya?

[Ihan Sunrise]

Komentar

Komentar