~ Jangan benci sesuatu teramat dalam, kau akan jatuh cinta dengannya.

Secara tak sengaja saya menonton Inter Milan lagi setelah sekian lama membuang mata dari klub yang (bakal) saya benci seumur hidup itu. Dengan vulgar saya harus katakan benci walaupun tak sampai dendam kesumat.

Malam itu, saya tak mampu membuang mata dari televisi yang jaraknya sepelemparan kolor saja. Sebelumnya, televisi menyuguhkan pertandingan Chelsea vs Bournemouth yang terkesan menarik. Namun, di warkop yang kursi-kursinya tak terisi penuh, laga itu tak menarik minat semua pengunjung. Kecuali beberapa pasang mata yang sesekali melirik ke televisi. Sorakan baru terdengar ketika gol. Itu pun tak ramai. Sementara saya, tak fokus-fokus amat karena meladeni panggilan telepon dari seorang kawan yang baru pulang tamasya ke India. Sinyalnya agak buruk malam itu, ditambah suara kendaraan yang lalu-lalang di jalan, bunyi televisi, membuat saya harus menekan kuat-kuat telinga ke handphone.

Ketika laga Chelsea vs Bournemouth usai, saluran televisi berganti menayangkan pertandingan Bologna melawan Inter. La Beneamata bermain di Stadio Renato Dall’Ara, kandang Bologna, dengan membawa pemain anyar mereka, Radja Nainggolan. Hasinya, saya tahu kemudian, Inter menang 0-3 dengan mudahnya. Dan Nainggolan mencetak gol pembuka.

Saya agak kaget, tak menyangka bakal menyaksikan lagi klub yang kini dilatih Luciano Spalletti itu. Saya terakhir kali melihat Inter main melawan Barcelona di semifinal Liga Champions 2010. Dinihari 28 April 2010, Camp Nou menjadi tempat Messi dkk menangis sesenggukan. Setelah unggul 3-1 di leg pertama di kandangnya, Giuseppe Meazza, Inter datang ke Catalan untuk menumbangkan tiki taka Pep Guardiola. Ia memakai taktik yang dikenang banyak orang hingga hari ini: parkir bus, tapi dipuji para pendukungnya sebagai sebuah seni bertahan dalam sepak bola. Satu gol dari Pique pagi itu tak cukup mengantarkan Barca ke final karena Inter unggul agregat 3-2.

Kesedihan di Camp Nou berefek sangat jauh ke luar stadion, kepada suporter-suporter layar kaca yang rela menggadaikan waktu tidur mereka. Tak banyak yang saya lakukan saat itu kecuali mengurut dada. Hari-hari berikutnya begitu sesak. Saya mulai membenci Inter bahkan Mourinho ke mana pun ia pergi. Antipati saya tiba di puncak ketika ia menukangi Real Madrid; musuh turun-temurun Barcelona di La Liga.

Dan sebagai pembenci, Anda bakal bersorak-sorai ketika klub asuhan Mourinho itu kalah. Anda juga akan terus mencari sisi jeleknya. Begitulah lakon pembenci dan saya masuk kerumunan itu hingga sekarang, walaupun sekali lagi tak sampai dendam kesumat.

Begitu juga dengan Inter. Sebagai pembenci yang baik saya tentu mengamati hasil skor Nerazzurri. Saya girang ketika mereka kalah, saya lemas saat mereka menang.

Namun, malam itu di warkop, mendadak semua sedikit berubah. Ada perasaan senang bergelayut di sekujur benak. Saya menelusuri ke setiap sudut warkop. Kelihatannya, cuma saya yang senang. Orang-orang sibuk dengan gadget. Mungkin mereka berpikir, buat apa nonton klub yang nggak seterkenal MU, Madrid, Bayern, atau Barca? Atau, mereka tak tahu yang sedang bermain itu klub apa? Yang pasti, tak ada Interisti di kedai itu.

Tunggu dulu, sebagai pembenci kenapa saya harus senang melihat Inter bermain? Ini aneh tapi begitulah nyatanya. Saya senang melihat klub yang dijuluki Bauscia atau Si Angkuh itu lagi. Saya tak tahu dari mana kesenangan itu datang. Gaya bermain Inter enak dilihat walaupun saya tak paham formasi dan taktik apa yang dipakai. Pemainnya juga baru-baru, tentu saja. Para pemain yang dulu masuk dalam formasi parkir bus Mourinho semua sudah pergi dari klub.

Pelan-pelan kebencian saya terasa memudar. Sedikit tersadar ketika muncul pertanyaan berat. Kenapa saya harus membenci Inter begitu lama? Padahal klub ini punya sejarah besar dan diakui jagad sepak bola. Ketika mereka meraih treble pada musim 2009-2010, Inter dipuji banyak orang. Mereka tim pertama Italia yang melakukannya. Bahkan Juventus tak sanggup melakukan itu. Lebih sengak lagi, dua gelar Serie A Juventus dicopot akibat skandal calciopoli yang melibatkan bekas presiden Inter, Massimo Moratti. Dua gelar itu kemudian diserahkan ke Inter. Skandal itu membuat Juve turun derajat ke Serie B. Kebalikannya, Inter belum pernah turun ke kompetisi kelas dua Italia tersebut.

Inter Milan pernah jadi klub menakutkan di dalam dan luar Italia. Mereka melakukan itu sebelum treble 2009-2010. Kita balik sejenak ke era 1960-an saat Inter datang membawa gaya sepak bola baru yang disebut catenaccio. Gaya ini kemudian diadopsi banyak klub Italia bahkan tim nasional mereka. Bagaimana gayanya? Bertahan dan mengandalkan serangan balik. Hanya dalam waktu empat tahun saja, 1962 hingga 1966, Inter merebut tiga Scudetto. Di luar negeri, mereka menghabisi Real Madrid di final Piala Champions di Wina, Austria. Sayangnya, kejayaan itu sirna bertahun-tahun lamanya hingga seorang lelaki sengak asal Portugal datang untuk membenahi Inter kembali. Hasilnya, seperti tersebut di atas.

Jika kemudian saya senang melihat Inter lagi, tentu bukan karena kebencian itu belum mendarah daging. Tidak sama sekali. Mungkin, ketika melihat Inter main malam itu, pikiran saya dipaksa berenang ke masa lalu. Masa-masa ketika Inter diasuh Mourinho.

Yang luput di masa itu adalah menyaksikan kehancuran Inter bersama Mourinho. Saya tak sempat melihat Barca melumat Inter di ajang yang sama. Kebencian saya tak berbalas, itulah masalahnya. Aneh bukan? begitulah kredo pembenci.

Hanya 30 menit saja saya sempat bermain dengan kenangan itu ketika layar televisi berubah lagi ke saluran lain: City vs Newcastle. Saya memilih pulang, bukan karena saya tak suka melihat kedua klub Inggris itu bermain. Saya pulang supaya kebencian-kebencian terhadap Inter dan Mourinho abadi selamanya.[]

Komentar

Komentar