Tabloid Bola berhenti menyapa para bola mania. Informasi ini pertama kali saya dapat dari link yang di-posting ke grup WA HA Merdeka. Grup ini beranggotakan wartawan yang telah menerbitkan koran Harian Aceh selama setengah dekade lebih. Walau sudah melewati tahun-tahun kritis, media harian yang dirintis Pak Yan dan kawan-kawan akhirnya kolaps juga.

Walaupun saya tidak hobi bola—aneh juga juga orang tak suka bola, amit-amit deh ikut bahas bola, najis tau—saya punya banyak alasan untuk mengungkap perasaan terhadap orang-orang yang rela berjuang matian-matian begadang nonton bola tengah malam ketimbang ngorok di ranjang. Apalagi ini media Bola.

Supaya tidak panjang, saya akan memaparkan tiga alasan kenapa saya harus ikut naik panggung podium kematian Tabloid Bola. Anggap saja sebagai ucapan terima kasih kepada mendiang Bola, yang telah memberi inspirasi buat saya dan cerita tentang dapur media cetak untuk Breeders kali ini. Oya alasan nomor dua, saya sarankan boleh dilewatkan.

Pertama: Sejarah Tabloid Bola

Saya tidak tahu kapan Tabloid Bola terbit perdana untuk menyapa para penggila bola. Yang ingin saya ceritakan adalah kesan pertama saya dengan tabloid itu dan desainnya yang inspiratif. Pertama kali melihat tabloid itu saat berkunjung ke rumah kawan. Betapa takjubnya saya waktu melihat tumpukan Tabloid Bola di kamar kawan tersebut. Namanya Irvan. Tumpukan Bola mencapai dua kaki. Jelas si pemulung, eh, pengoleksinya bukan orang sembarangan. Yang bikin mulut saya makin menganga adalah poster-poster yang ditempel di kamarnya. Selalu ada garis patahan tengahnya emblem logo Bola. “Poster-poster ini bonus dari Tabloid Bola,” begitu kata kawan Irvan.

Dalam hati saya, ini kawan kok rela buang buang duit demi mengeloksi tabloid per edisi tersusun rapi setiap Bola terbit. Kalau di rumah saya, koran maupun tabloid yang sudah basi selalu menjadi alas jemur tepung ibu saya. Jelas, ini tak bisa dibantah.

Dari kawan Irvan pula saya tertular sedikit bhah bola. Pada akhirnya saya juga rela mati-matian mengumpulkan uang jajan demi selembar seragam Juventus. Dan sebuah poster David Beckham bernomor punggung tujuh di dalam kamar yang saya beli khusus di sebuah toko buku, bukan dari bonus Tabloid Bola. Saya tak suka Bola, maka saya beli poster terpisah. Ayo, siapa yang suka nempel poster pemain bola Serie A di kamar sebelum era gadget?

Ketika kawan-kawan bertanya kenapa pilih jersey Juve dan poster Beckham, saya tidak bisa menjelaskan. Dalam hati saya, bodo amatlah soal pilihan yang tidak selaras itu.

Baju Juventus direkomendasikan Irvan sedangkan poster Bekham saya suka saja terutama pada angka tujuh yang dipakainya. Jadi siapa saja pemain bola bernomor punggung tujuh, itulah favorit saya. Kalau boleh meminjam kata-kata Andrea Hirata, saya kena sakit gila nomor 73, terobsesi dengan simbol dan angka-angka.

Saat Irvan menyodorkan edisi terbaru Tabloid Bola, yang menarik perhatian saya bukan beritanya. Melainkan tokoh karikatur si gundul yang kepalanya mirip kacang mete. Dialah penarik minat saya membaca Bola, selebihnya tidak ada.

Itulah kesan pertama saya dengan Bola yang 26 Oktober 2018 lalu terakhir terbit. Salah siapa banyak media cetak berhenti terbit? Apakah milineal boleh ditunjuk hidungnya karena mereka tak mau membaca koran lagi?

Kedua: Ide Tulisan

Informasi kedua tentang berhenti terbitnya Bola saya dapatkan dari status WA Pemred Breedie yang memposting desain terakhir cover tabloid itu. Sebuah edisi pamitan yang sempurna.

Desain covernya sederhana saja. Ada tulisan selesai dan terima kasih. Walaupun mudah ditebak itu edisi terakhir, yang menarik perhatian adalah ikon Si Gundul; bikin betah membaca Bola.

Seperti yang sudah saya sebutkan, bagian ini boleh dilewatkan. Hanya mau jelaskan posting cover terakhir Tabloid Bola adalah sumber ide tulisan ini dimulai.

Tiga: Ide Perwajahan dari Bola

Bagian ini tidak boleh dilewatkan walau tulisannya agak panjang.

Ketika mulai bekerja di perusahaan media, baru terasa kalau Tabloid Bola harus masuk dalam listing tujuh media yang wajib saya baca. Minimal lihat-lihat bentuk formasi pemain kalau pun enggan membacanya. Terus terang saya tidak suka Bola, maupun berita olahraga lainnya, kecuali gosip pemain.

Apa boleh buat, pil jamu makjun astrap sudah bulat, ya telan saja. Ini tuntunan profesi ketika saya bekerja di media. Bukan sebagai wartawan liputan olahraga. Jelas salah jika Breeders menebak saya mantan wartawan bola. Oh tidak. Bukan, jauh panggang dari api. Saya hanya anak-anak perwajahan halaman koran Harian Aceh (HA).

Dalam dapur redaksi media cetak, ada namanya departemen pracetak. Tugas utamanya mendesain halaman-halaman koran untuk dicetak dan diedarkan setiap pagi. Kami, anak-anak perwajahan saling kejar-kejaran dengan deadline. Desain harus siap sebelum jam 11 malam.

Akhirnya profesi perwajahan koran—sebutan klasik tukang layout, istilah keren desain grafis—media cetak masih saya jalani hingga sekarang. Walaupun bukan di koran harian, satu majalah triwulan dan satu tabloid mingguan Rimba Raya yang tiap akhir pekan selalu siap dikirim ke percetakan.

Masalahnya bukan itu. Profesi layout koran agak sulit dijelaskan ketika orang di kampung menanyakan kabar basa-basi semacam, Oh, kerja di koran sekarang? Di bagian apa? Pokonya lengkap deh dengan unsur 5W. Saya tidak akan menjawab sebagai tukang layout koran, atau perwajahan maupun desain grafis. Saya akan menjawab singkat: saya wartawan yang mengatur semua berita untuk dicetak besok, khak!

Ternyata jawaban singkat ini tidak ampuh untuk menghalau pertanyaan ngeri berikutnya yang berunsur How (1H). Bagaimana dengan gajinya Pak Layout? Ya, ini pertanyaan paling berat dijawab. Terutama nominal angkanya dan yang bikin jengkel sebutan kata Pak Layout. Dikiranya profesi ini sama seperti kerjaan Pak Polisi, Bu Dokter, dan Pak Jaksa, dan pak-pak lainnya.

Pernah juga saat saya sebutkan tugas sebagai perwajahan dikiranya seniman lukis wajah wayang. Kalau saya sebut desain grafis saya kurang percaya diri. Selain terlalu tinggi derajat pangkat dan level yang saya duduki, profesi desing grafis—di kalangan orang tua—dikira sebagai anak muda yang buka studio percetakan untuk membuat brosur, undangan, dan spanduk caleg.

Maklum saja, mereka lebih mudah menemukan cetakan wajah caleg yang penuh warna-warni ketimbang baca koran. Atau, sekadar mengomentari ada tulisan salah jabatan di wajah koran hari itu. Perkara salah peletakan jabatan pada gambar orang itu murni salah anak-anak perwajahan koran. Kalau salah ejaan atau typo (Baca: Sayangi jempol jangan typo-kan hidupmu kawan ) itu kesalahan fatal dari barisan para redaktur.

Oya, kembali ke Bola. Saat bertugas sebagai anak perwajahan koran di HA, kawan-kawan mempercayakan saya sebagai manajer. Ketika itu, HA masih media rintisan. Lalu, departemen pracetak dileburkan menjadi sub departemen, menjadi anak bawang Redaksi. Status manajer saya pun berubah menjadi koordinator layout. Sungguh karir jabatan yang tidak menjanjikan. Siap-siap dilempar parang saat melamar anak gadis orang.

Nah, koordinator layout inilah yang paling santai kerjanya dibandingkan anak-anak perwajahan lainnya. Kalau saya bosan layout salah satu halaman tinggal alihkan ke kawan. Namun, kian lama tugas itu menemukan pertarungan sesungguhnya. Begini Breeders, menjadi koordinator perwajahan di media rintisan ternyata cukup berat dan keras. Sumpah-serapah menjadi asupan setiap menjelang deadline.

Kalau anak-anak perwajahan halaman dalam sudah siap duluan, ia diperbolehkan pulang. Saya tidak. Pulang paling telat karena bertanggung jawab terhadap tata letak halaman koran slide pertama, yang berisi warna berita utama (cover), halaman pendukung utama, halaman sambungan, dan halaman warna cover belakang. Dari empat halaman ini, halaman utama dan sambungan terakhir di-layout. Sementara dua halaman pendukung sudah lebih dulu dikerjakan tapi sering siap di jam deadline juga.

Bagi anak-anak perwajahan koran harian halaman dalam—slide hitam putih yang berisi berita-berita pendukung halaman utama—sangat menakutkan bila disuruh kerjakan halaman warna slide pertama. Sepanjang masa saya di HA, kawan-kawan selalu mengelak bila saya minta dialihkan desain halaman itu. Sesekali rolling-lah gitu, biar ada penyegaran dan bisa pulang lebih cepat, begitu alibi saya. Nyatanya, kawan selalu nolak dengan alasan yang mustajab: halaman slide warna itu berat, untuk kamu saja…Khak!

Kenapa demikian, apa yang membuat itu menakutkan? Anak-anak yang masih kurang jam terbang perwajahan koran, sering stack pada perubahan mendadak tata letak halaman utama dan sisi sebelahnya berita bola. Nah, kalau halaman utama butuh skill khusus untuk perubahan mendadak permintaan redaktur yang berubah “rewel” karena deadline di ujung hidung. Sementara halaman halaman bola butuh sentuhan khusus desain grafis yang paling paripurna.

Akibatnya, laku tidaknya koran tergantung perwajahan cover utama selain nilai beritanya. Selain itu, bagus tidaknya koran tergantung pada desain berita bola. Di situlah saya berada. Sudah tidak suka dengan berita dunia olahraga, ujung-ujungnya profesi saya malah berkutat dengan lapangan bola, eh, halaman bola.

Di awal-awal saya mendesain halaman bola, agak kewalahan, sih. Karena interesting desain halaman koran saya ada pada halaman teknologi. Jadi agak berat hati desain halaman bola kalau tidak hobi. Nah, Tabloid Bola menjadi pelarian saya pertama kali layout halaman bola HA. Tablolid itu menjadi tempat mencari inspirasi desain yang nendang dan golll…. hingga koran sebelah pun lewat.

Meme Messi siap-siap pulang kampung

Oya Breeders, ada yang tahu kenapa koran harian, apapun isi headline utama, baik politik, hukum, kriminal bahkan gosip pun terbit di halaman utama, slide sebelahnya tetap olahraga? Lebih spesifik lagi, apapun berita olahraganya yang selalu tampil di halaman belakang tetap Messi atau Ronaldo. Padahal olahraga bukan semata bola. Pecatur yang lebih jenius otaknya dari pemain bola, selalu ridha disisipkan di halaman hitam putih, satu kolom kecil pula. Itu pun sebagai pelengkap kolom kosong kala berita soal Wags (wives and girlfriends) pebola kekurangan gosip.

Jawaban ngawur dari saya: Entah koran sudah dimonopoli sebagai bacaan pria, maka halaman cover belakang selalu berita bola. Sedangkan kaum ibu-ibu sudah cukup dengan tabloid gosip wanita? Yang tidak bisa kita bedakan sebelah mana cover utamanya, karena desain sampul depan maupun belakang tabloid gosip sama saja. Kadang sesuai dengan karakteristik dan jiwa wanita, baik sisi depan maupun sisi belakang sama saja, sumber munculnya gosip.

Satu lagi, kalau halaman belakang koran berisi bola, cover belakang tabloid gosip tentang Luna Maya, sampul majalah lain lagi! Cover depan ilustrasi berita utama, sedangkan sampul belakang selalu ditempel iklan. Lagi-lagi kenapa demikian? Breeders tanya sendiri pada awak redaksi, tambah panjang saja tulisan ini. Stop! Cukup di sini. Klik saja tombol berbagi di bawah ini.

Komentar

Komentar