Romantika Sekuntum Rindu Dek Cut dan Dek Gam dalam Bus Lobur Mahasiswa

~ Cinta bersemi di dalam robur

Kecuali soal Lobur, cerita di bawah ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.

Dek Cut dan Dek Gam adalah dua sejoli yang tengah dimabuk asmara. Cinta mereka disemai di tengah prahara konflik Aceh, saat film India tengah in de mode menjelang milenium ketiga.

Bak peribahasa mengatakan “garam di laut asam di gunung, bertemu jua dalam belanga.” Dek Cut dan Dek Gam pun demikian.

Ceritanya diawali dari sebuah pertemuan di dalam sebuah bus. Dek Gam adalah mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Kota Madya Banda Aceh, pun begitu dengan Dek Cut.

Siang itu begitu terik, Dek Gam duduk di kursi deretan paling belakang. Pemuda bersetelan oblong “Metallica” dan celana jin sobek di bagian lutut itu tengah asyik menggeluti angka-angka di dalam buku logaritma yang membuatnya setengah mual.

Sementara itu, Dek Cut duduk di kursi deretan paling depan. Semuanya baik-baik saja sebelum sopir menginjak pedal rem karena seseorang tiba-tiba melintas di depan bus.

Tubuh para penumpang pun terdorong ke depan. Saling berantukan satu sama lain.

“Aduuuh!” Dek Gam yang kalut karena catatan di dalam tasnya tumpah ruah dan terinjak-injak oleh kerumunan yang tengah panik waktu itu berteriak sangat keras karena kepalanya beradu dengan tonjolan besi.

Teriakan tersebut disertai umpatan dengan menyebut nama segala binatang dari empat penjuru bumi.

Di saat yang sama, jauh di kursi depan sana, makian Dek Gam tadi terdengar sangat maskulin bagi Dek Cut. Dia seperti mendengar Shah Rukh Khan tengah bernyanyi “Tujhe Dekha To Yeh Jaana Sanam” dalam film Dilwale Dulhania Le Jayenge.

Seperti ada desiran angin yang berembus di antara lipatan jilbab pink Dek Cut.

“Syiuuh.”

Ia pun menoleh ke belakang, mencari-cari siapa gerangan pemilik suara indah tersebut, di celah-celah tubuh para penumpang yang tengah kelimpungan karena terkejut.

Pada saat yang sama, dari kursi paling belakang, rupanya Dek Gam pun sedang menatap ke arah Dek Cut.

Tatapan tersebut menohok tepat ke dalam mata si dara jelita bergincu merah menyala itu.

Ilustrasi bus robur Aceh
Ilustrasi bus robur Aceh

Di antara tubuh-tubuh penghuni bus yang berbau keringat, tak jelas, dan amis, pandangan kedua insan itu pun beradu padu, tak mau lepas.

Dek Cut dan Dek Gam bak sedang berada di tengah hamparan taman bunga Celosia, menyanyikan lagu “Tujhe Dekha To Yeh Jaana Sanam.”

Pertemuan mereka di hari itu tak ubah peribahasa.

“Dek Cut di Aceh Jaya, Dek Gam di Pidie Jaya, bertemu jua di dalam Lobur.”

Lobur adalah sebutan untuk angkutan umum yang dulu menjadi alat transportasi populer di kalangan mahasiswa dan pelajar Kota Madya Banda Aceh. Tidak ada yang tidak kenal Lobur zaman itu.

Bus tersebut akan berkelak-kelok dari satu lintasan ke satu lintasan, pagi-siang-sore, terik hingga badai.

Lobur setia, mengantar ribuan calon sarjana, menemani mereka hingga kelak tali di topi toga sang mahasiswa dipindah dari kiri ke kanan pertanda telah menyelesaikan kuliah.

Ada artikel yang menjelaskan bahwa Lobur telah ada di Kota Madya Banda Aceh sejak 80-an. Tarifnya saat itu murah meriah, hanya Rp25 perak per penumpang.

Karena itu disebut Lobur, akronim dari “Lo Bisa Bayar Pakai Uang Receh.” Tapi di artikel yang lain, aslinya Lobur bernama Robur, asal pabrikan Volkseigener Betrieb VEB Robur-Werke Zittau, Jerman.

Ketika Labi-Labi mulai gencar pada 90-an, Lobur hanya mengutip Rp50-100 untuk setiap trayek. Sementara Labi-Labi menarik sewa Rp300-500 per penumpang.

Penumpang hanya perlu mengetukkan koin ke tiang pegangan sehingga berbunyi, “tiiing!” sebagai aba-aba apabila telah sampai pada tujuan. Bunyi dentingan tersebut sangatlah khas dan familiar di telinga orang-orang.

Terkadang ada orang yang iseng menuliskan “I Love You” atau “Aku Cinta Padamu” di kursi bus tersebut. Biasanya itu ulah mahasiswa yang lagi bosan, bukan sange.

Kini Lobur tak seperkasa dulu. Saya menemukan salah satu bus ini terduduk sebagai onggokan besi tua di bawah pohon beringin di samping Gedung PLPISB Universitas Syiah Kuala.

Dengan ciri khas moncong menjorok ke depan, Lobur bernomor polisi BL 7032 A memiliki setengah bodi yang dicat warna hijau gelap.

Di bawah nomor tadi tertulis 03.04, menandakan tahun masa berlaku pelat nomor tersebut.

“Superior Coach”, demikian tertulis pada pelat di tepi bibir pintu depan sebelah kiri.

Dari pintu tersebut terlihat sebuah setir yang tampak kesepian, merindukan genggaman seorang lelaki berbadan sederhana mengenakan kemeja belau yang disorongkan ke pinggang celana, dengan handuk yang melingkar di leher, seperti di hari-hari keemasannya dulu.

Tak ada lagi tempat duduk di dalam bus tersebut, kecuali sebuah kursi kayu yang agaknya dibawa oleh seseorang dari luar.

Ruangan itu tentunya dulu dipenuhi oleh tawa, cinta, bahkan rasa permusuhan sebab si adik yang tengah jadi gebetan tiba-tiba dilirik seorang senior yang tampan lagi aktivis. Mak jang.

Itu dulu. Kini Lobur hanya jadi memorial bagi situs memorial lainnya. Para mahasiswa yang baru saja wisuda sering menjadikan Lobur sebagai latar belakang foto wisuda mereka, lalu dilupakan kembali, seperti Dek Cut yang akhirnya lupa pada Dek Gam sebab terpana akan Bang Leman yang tampan lagi aktivis dan berkumis.

KOMENTAR


Dapatkan beragam artikel dari majalah online Breedie langsung melalui email Anda.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here