Yang Terabaikan dalam Taktik Meredam Konflik Gajah dengan Manusia di Aceh

~ Semoga semut tidak ikut-ikutan gajah berkonflik dengan manusia

Apakah populasi gajah di Asia dan Afrika bisa dilindungi atau dilestarikan di seluruh area mereka sekarang? Kalau jawaban Raman Sukumar, dalam bukunya The Living Elephants: Evolutionary Ecology, Behavior, and Conservation, adalah “Tidak.” Manusia, dalam perjalanannya di lanskap alami bumi dan tingkat konsumsi terhadap sumber dayanya, tidak menunjukkan tanda-tanda menurunkan hasrat. Bahkan, jika populasi manusia dan tuntutan kita pada sumber daya alam ini stabil, potongan besar lanskap saat ini akan tetap menghilang, bersama dengan berbagai macam makhluk hidupnya, termasuk gajah.

Apakah gajah bisa diselamatkan? Untuk pertanyaan ini, Raman Sukumar menjawab, “Iya.” Gajah Asia dan Afrika mempunyai kemungkinan bertahan hidup yang jauh lebih baik dibandingkan, katakanlah, harimau, badak, atau ribuan serangga dan tumbuhan yang ditakdirkan binasa di daerah tropis. Gajah, yang penyebarannya di berbagai lanskap di daerah tropis dan subtropis Asia dan Afrika, adalah makhluk hidup yang cukup mampu beradaptasi.

Jawaban Raman Sukumar terngiang kembali di kepala, ketika saya membaca berita tentang konflik gajah-manusia di koran Serambi Indonesia. Mungkin, ini karena adanya kekhawatiran saya pada keberlangsungan hidup gajah, terutama gajah yang hidup di Aceh. Saya tidak tahu apakah ini disebut kekhawatiran yang berlebihan, atau sok peduli, atau saya saja yang terlalu lebai.

Beberapa tahun belakangan, saya mempunyai kebiasaan membaca sampai tuntas setiap berita mengenai konflik gajah-manusia di koran tersebut. Seperti sepekan lalu, sekitar 20 ekor gajah merusak 80 hektare perkebunan jagung di perbukitan Gampong Reudep Melayu, Kecamatan Glumpang Tiga, Pidie. Petugas Badan Konservasi Sumber Daya Alam atau BKSDA Aceh, dengan menggunakan mercon besar, menghalau gajah ke perbukitan Glee Rimba.

Jauh sebelumnya, gajah sempat merusak tanaman masyarakat Blang Sikunyet Lhok Gajah, Gampong Amud Masjid, Kecamatan Glumpang Tiga. Petani di gampong ini bilang, mereka, yang sudah resah dan kehabisan akal menangkalnya, berharap BKSDA bisa mengusir gajah itu, tetapi petugas BKSDA hanya sekadar melihat-lihat di lokasi, lalu bergegas pulang.

Laku petugas BKSDA ini mengingatkan saya pada ocehan seorang teman yang terlahir bijak ke dunia fana ini. Kata dia begini: kita tidak boleh kehilangan harapan, meski dalam keadaaan paling buruk sekalipun. Lalu, dia mulai berceramah tentang optimisme, keyakinan, dan seterusnya, dan seterusnya.

Mungkin, petani-petani itu tetap terus menjaga harapannya. Sebentuk penghiburan diri mereka setelah diabaikan begitu rupa. The next question is: sampai berapa lama mereka sanggup begitu? Entahlah, saya tidak tahu juga sampai berapa lama. Seminggu, sebulan, setahun, atau bertahun-tahun, semua tergantung pada individu manusianya.

Yang berikut ini, bisa jadi adalah salah satu petani yang mulai tidak sanggup lagi.

Sekitar dua tahun lalu, ada seorang warga di Gampong Tunong Keumala Dalam, Kecamatan Keumala, Pidie yang merasa kalau petugas lapangan belum melakukan tindakan nyata untuk mengusir gajah, walaupun dia sudah melaporkannya. Dia bilang, “Jangan sampai warga hilang kesabaran dengan melakukan tindakan yang dilarang seperti membunuh atau meracun gajah. Sebab, petani ditimpa kerugian akibat padi di sawah dan tanaman di kebun menjadi sasaran perusakan hewan besar itu.”

Gajah, saya pikir, berada dalam posisi yang sama dengan petani-petani itu. Gajah juga resah melihat area jelajahnya sudah sedemikian sempitnya. Gajah juga terkejut melihat alam yang menyediakan berbagai macam jenis tumbuhan untuk makanan mereka, berubah bentuk menjadi perkebunan dan pertanian. Pada akhirnya, mau tak mau, perkebunan dan pertanian akan menarik perhatian gajah dan kemudian menjadikannya sebagai sumber makanan.

Sushrut Jadhav dan Maan Barua dalam jurnalnya The Elephant Vanishes: Impact of Human-Elephant Conflict on People’s Wellbeing¬†menyebutkan bahwa, pada satu diskusi grup di lokasi penelitian, Golaghat dan Sonitpur, Assam, India, masyarakat mengatakan, “Gajah tidak datang untuk menyerang kita. Gajah datang untuk perutnya, sama seperti yang kita lakukan untuk perut kita.”

Omong-omong, bagaimana solusi yang ditawarkan oleh BKSDA dan pihak-pihak terkait lainnya?

Berdasarkan pengamatan dari satu kasus ke kasus lainnya, rata-rata, yang dilakukan oleh BKSDA, atau pihak-pihak terkait lainnya, ialah menggiring gajah liar dari lokasi konflik ke lokasi yang lain. Dari hemat saya yang rajin lari pagi ini, penggiringan itu sepertinya bakal menjadi sia-sia, jika tidak dibarengi dengan monitoring setelah penggiringan. Ketiadaan monitoring membuat arah pergerakan gajah menjadi tidak diketahui. Dan, bisa saja gajah malah masuk ke konflik baru di lokasi lain.

Selain itu, metode tradisional menggunakan mercon masih menjadi andalan untuk mengusir gajah dari lokasi konflik. Namun, hasilnya kurang memuaskan, saya kira. Kadang, karena sadar tidak ada ancaman serius setelah ledakan, gajah tidak memedulikannya.

Kata Raman Sukumar di bukunya, gajah yang tidak berpengalaman mungkin akan lari ketakutan dengan taktik bunyi-bunyian sederhana. Namun, kalau gajah berpengalaman, biasanya jantan dewasa atau beberapa kelompok tertentu, mereka tidak bisa dibodohi.

Untuk solusi lainnya, saya jadi teringat keinginan BKSDA Aceh pada pertengahan tahun ini yang akan membuat parit atau pagar listrik untuk membatasi antara habitat gajah dan manusia. Memang, di beberapa tempat, barrier parit sudah dibangun, tapi bukan berarti tidak ada kendala. Di Kecamatan Pintu Rime Gayo, Bener Meriah, misalnya, parit mengalami longsor. Menurut Pak Raman Sukumar, parit menjadi lebih efektif di area dengan curah hujan rendah, yang tanahnya lebih kuat dan lapisannya lebih berbatu.

Masih berhubungan dengan parit gajah, di Seuneubok Bayu, Kecamatan Indra Makmu, Aceh Timur, saya menemukan kejadian yang menggelikan. Kejadiannya adalah: gajah berhasil memasuki perkebunan warga yang hanya berjarak empat kilometer dari parit.

Kata seorang warga di Seunebok Bayu, parit yang dibangun dengan tujuan menghalau gajah tidak berfungsi efektif, karena mamalia itu masih bisa tetap masuk dan merusak tanaman petani.

Haduh.

BKSDA dan pihak-pihak terkait lainnya, dalam hal ini mungkin harus berpikir mencari taktik nan jitu lainnya. Jangan sampai orang-orang berpikir, perlu menunggu 2045 untuk mengatasi konflik gajah-manusia ini. Mungkin, ini masa yang elok bagi BKSDA dan segenap pihak lainnya, untuk merenungkan sejauh mana perjuangan mereka mencari cinta selama ini.

“Kau nggak lihat sisi kerja keras BKSDA, atau pihak lain, dalam mengatasi masalah konflik ini? Mereka sudah berusaha melakukan yang terbaik, Bung,” ujar teman saya, ketika mendengar keinginan saya menulis tulisan ini.

Tentu, saya menghargai kerja keras BKSDA dan pihak-pihak terkait lainnya, untuk memberikan hasil terbaik dalam mengatasi masalah konflik gajah-manusia. Dan, saya juga suka membayangkan BKSDA, layaknya pahlawan di film-film super hero, berhasil mengontrol dan meminimalisasi konflik gajah-manusia di Aceh.

Entah ini berguna atau tidak, tapi saya rasa ini penting untuk disampaikan. Siapa tau bisa menjadi solusi. Setahun belakangan, saya menyimpan jurnal yang ditulis Liudmila Osipova dan teman-temannya, Fencing Solves Human-Wildlife Conflicts Locally but Shifts Problems Elsewhere: A Case Study Using Functional Connectivity Modelling of the African Elephant.

Liudmila Osipova juga menulisnya di The Conversation. Meskipun dia membahas tentang pagar, saya kira mempunyai kesamaan dalam fungsinya dengan parit.

Kami, tulis Liudmila Osipova, ingin melihat bagaimana pagar listrik yang akan dibangun di sekitar lahan pertanian di Kenya Selatan, memengaruhi jalur migrasi gajah. GPS collar pada 12 gajah yang berasal dari area itu, digunakan dan diikuti pergerakan serta prilakunya. Setelah dua tahun pengumpulan data, informasi tersebut digunakan untuk memetakan di mana dan bagaimana gajah menghabiskan waktunya di area penelitian. Jalur pergerakan mereka disusun kembali dan sebuah model konektivitas dibuat, yang menekankan pada rute migrasi yang paling penting antara taman nasional.

Setelah model divalidasi, lanjut Liudmila Osipova, rencana pembangunan pagar dimasukkan dan dikalkulasi kembali, untuk memperkirakan apakah pagar akan mengubah pergerakan gajah antara taman nasional. Hasil menunjukkan bahwa, pagar tidak mengganggu koridor migrasi atau mengurangi konektivitas antara taman nasional. Namun, area dengan jumlah sumber daya yang terbatas (lahan basah, dataran rendah berair, dan konservasi) diprediksi menjadi lebih intensif digunakan oleh gajah, setelah pagar dibangun. Ini bisa mengakibatkan overgrazing dan kerusakan habitat, karena gajah tidak punya akses lagi ke tempat biasanya dikunjungi. Selain itu, pagar tidak akan menghentikan gajah untuk bergerak. Jadi, konflik pada dasarnya akan berpindah ke area yang tidak berpagar.

Hasil ini, tulis Liudmila Osipova lagi, menimbulkan pertanyaan: Berapa banyak lagi lahan yang akan harus dipagar untuk mengatasi konflik kehidupan liar-manusia? Selain biaya tinggi dan kesukaran dalam pemeliharaan, semakin banyak lahan dipagar, kian sedikit habitat tersisa untuk gajah.

Dari kedai kopi kampung ini, saya mengangkat gelas kopi saya tinggi-tinggi, sebagai tanda hormat atas kerja keras BKSDA dan pihak-pihak terkait lainnya. Dan, menyeruputnya pelan-pelan, sebagai sebuah harapan, agar saran Liudmila Osipova dan teman-temannya dalam jurnalnya bisa terdengar oleh siapapun: lakukan analisis dampak lingkungan, sebelum mengimplementasikan tindakan untuk mengurangi konflik kehidupan liar-manusia, dan untuk mempertimbangkan tidak hanya dampak lokal, tapi juga dampak yang berskala luas. Mungkin, kita mengabaikan hal ini.

Komentar

Komentar