Mengenal Jeungki, Mesin Penumbuk dari Zaman Old Buah Karya Indatu

~ Jeungki is the ancient way of social and physical engaging

Bentuknya persis buaya. Dengan panjang badan sekira tiga meter, buaya ini siap menerkam mangsa.

Namun, alih-alih bergigi seperti buaya kebanyakan, di ujung kepalanya cuma terdapat alu yang menghujam tepat ke dalam lesung di bawahnya.

Itulah gambaran sederhana jeungki. Alat tradisional Aceh yang dipakai untuk menumbuk gabah dan beras.

Dulu, sebelum tepung beras rose brand masuk desa, mak-mak di kampung menumbuk sendiri tepung yang dipakai membuat kue, terutama kue-kue lebaran.

Biasanya, persiapan membuat kue dilakukan hari-hari akhir puasa Ramadan. Saat itulah, jeungki-jeungki berderak; menghaluskan tepung bit alias tepung beras, sebagai salah satu bahan mengadon kue.

Jam operasional jeungki tergantung dari banyak antrean. Biasanya dimulai usai subuh. Tak jarang baru berhenti saat sahur menjelang.

Zaman dulu, listrik belum masuk kampung. Untuk penerangan dinyalakan suloh atau obor dan panyot (lampu) surungkeng. Ada juga yang memakai panyot biasa.

Tak semua rumah mempunyai jeungki. Hanya orang-orang berada saja yang mampu memiliki mesin ini. Tapi, orang-orang yang tak punya jeungki boleh datang ke tetangga untuk meminjam pakai alat tersebut.

Jeungki biasanya diletakkan di bawah rumoh Aceh yang berbentuk panggung. Tujuannya bila hujan datang, aktivitas menumbuk tidak terganggu.

Saya belum menemukan latar belakang dari mana ide para indatu membuat alat tersebut. Benarkah jeungki produk asli Aceh atau terinspirasi dari negara-negara lain yang dulu menjalin hubungan dengan Aceh?

Yang pasti, di mata saya jeungki adalah sebuah mesin kecil sederhana yang telah berjasa besar menghasilkan kueh seupet dan kue-kue lainnya yang saya mamam saat lebaran. Tanpa jeungki, mustahil masa kecil saya akan selezat dan semanis kue-kue itu.

Kalau di awal saya menganalogikan penampakan jeungki ibarat buaya, sesungguhnya alat ini dijalankan dengan cara diinjak ekornya. Atau, mirip seperti mengengkol pedal sepeda motor.

Baca Juga: Asamkana dan Jejak Manis yang Ditinggalkannya

Ketika ekor diinjak, kepala akan mendongak mengangkat alee (alu). Bila pijakan ekor dilepas, alu yang memikul berat badan jeungki akan terhempas ke dalam lesung, bummm!

Hujaman ini akan menghancurkan apa saja yang ada di dalam lesung, sampai remuk dan hancur. Padi akan remuk menjadi beras. Beras akan hancur menjadi tepung.

Bunyi bummm yang terdengar hingga radius 50 meter itulah yang menjadi ciri khas suara jeungki. Jika disimak, lama-lama bagaikan suara bas diskotek.

Sayup-sayup diselingi bunyi eeet yang berasal dari titik tumpu jeungki. Bebunyian ini akan menghadirkan orkestrasi tersendiri, memecah sunyi malam menjelang sahur.

Batang utama atau badan jeungki dibuat dari kayu keras. Mungkin jenis meranti yang bobotnya sangat berat atau jati. Secara keseluruhan, bobot mati jeungki mungkin setara Toyota Hardtop keluaran 1982.

Dengan bobot segahar itu, sudah pasti saat beroperasi jeungki akan menimbulkan getaran-getaran yang tidak gently bagi area sekitar. Getaran yang kemungkinan membikin jengkel induk ayam yang sedang mengeram.

Walaupun sederhana, saya yakin arsitek perancang jeungki menghitung secara cermat perhitungan algoritma dan matematika terapan yang dirangkainya dalam satu rancang bangun tersebut.

Tak ketinggalan diperhitungkan juga laju mekanikal mesin penumbuk ini. Termasuk jumlah operator yang terlibat.

Jeungki diawaki empat sampai lima orang. Biasanya ini jeungki yang ukurannya besar, yang panjang batangnya mencapai lima meter.

Jeungki besar harus di-engkol minimal tiga orang, tergantung power dari tiap-tiap pengengkol. Untuk itu, setiap operator jeungki biasanya menyiapkan power dengan porsi sahur yang double.

Selama beroperasi, para operator harus seminimal mungkin menjaga tenaga mereka tidak terbuang percuma.

Saat mengengkol, mereka harus menaruh satu kaki di ekor agar batang jeungki yang berat bisa terangkat. Otomatis, hal ini membuat jarak antaroperator tidak kurang dari lima sentimeter.

Inilah yang membuat physical engaging sangat optimal dalam operasional sebuah jeungki. Tak ayal, suasana yang tadinya kaku menjadi riang. Hening berubah menjadi riuh penuh canda, kadang gegap gempita.

Namun, ada juga jeungki kecil yang cukup dijalankan oleh dua orang. Satu bertugas mengengkol, satu lagi duduk dekat lesung.

Yang berada di bagian “forehead” harus sigap mengarahkan material tumbukan mengikuti turun naik alu. Silap sedikit tangan jadi taruhan. Bukan tak enak kalau tergencet alu.

Biasanya, operator di bagian ujung diserahkan kepada senior, yang kakinya tak kuat menggenjot tapi mata masih awas dan tangan lumayan cekatan.

Hal itu juga yang membedakan jeungki dengan mesin-mesin kapitalis masa kini.

Jeungki sebenarnya lebih rumit, beroperasi berdasarkan hasil kesepakatan manusia. Kalau aba-aba dari depan dan belakang tak seragam, hasilnya pasti berantakan.

Baca Juga: Kisah Syekh Ar-Roberto dan Buah Manju Berulat

Karena mengandalkan tenaga manusia, pemilik jeungki tak perlu risau mesinnya kehabisan bahan bakar. Bahkan, dijalankan tanpa henti pun tak soal. Yang perlu ia khawatirkan bila jeungki tak pernah terpakai, bisa-bisa roboh dimakan rayap.

Kini, jeungki memang sudah langka. Mungkin, sebagian memang dimakan rayap. Paling yang bersisa cuma satu-satu, bahkan ada yang sudah masuk museum, hanya jadi pajangan dan tidak bisa di-engkol lagi.

People zaman now telah terbiasa hidup praktis. Perlu tepung tinggal beli ke Indomaret, perlu beras juga begitu. Bahkan perlu jabatan juga tinggal beli, eh.

Jeungki telah dianggap kuno. Tapi, mesin ini pada suatu ketika telah berjasa besar dalam khazanah perkulineran kampung.

Jeungki mampu menghadirkan keceriaan bagi anak-anak kampung yang berlarian ke sana kemari sambil mencicipi kue “pempeng” yang diolah maknya dari tepung ketan.

Akankah 20 tahun ke depan masih ada orang yang mengingat jeungki? Entahlah.

KOMENTAR


Dapatkan beragam artikel dari majalah online Breedie langsung melalui email Anda.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here