Kisah Syekh Ar-Roberto dan Buah Manju Berulat

~ Perkara sebuah manju menjadi pelik di tangan yang mulia Syekh Roberto

Alkisah, di sebuah negeri antah-berantah hiduplah seorang syekh. Syekh Ar-Roberto namanya, seorang abid lagi kaya yang kesohor seantero dunia maya.

Suatu hari Syekh Ar-Roberto mendapat kabar bahwa tiga orang syekh dari Hadramaut, akan datang berkunjung ke tempatnya. Kabar ini pun diterima dengan senang hati.

“Aku tidak ingin tamu-tamuku kecewa. Mereka harus disambut dengan penuh suka cita,” katanya pada diri sendiri sembari memilin-milin janggut di depan jendela rumahnya pada sore itu.

Madrasah Syekh Ar-Roberto pun didekor habis-habisan. Tak kurang seribu undangan disebar untuk meramaikan anjangsana ketiga tamunya, termasuk mengundang sejumlah wartawan untuk meliput.

Umbul-umbul warna-warni telah dipacak di sekeliling pagar. Sementara, dua janur raksasa ditaruh di pintu gerbang, mengapit sebuah spanduk berisi ucapan selamat datang dengan foto Syekh Ar-Roberto dalam ukuran extra large sedang beruluk salam di dalamnya.

Memasuki madrasah, berdiri empat buah tenda kerucut yang diletakkan dengan formasi kiri kanan masing-masing dua tenda. Sebuah karpet merah dibentangkan dari pintu gerbang hingga ke teras madrasah, membelah kedua letak tenda yang saling berseberangan itu.

Agak jauh ke kiri teras madrasah, diletakkan sebuah panggung tempat para santriwati akan menyuguhkan kasidah. Untuk mendukung performa panggung para santriwati, telah disiapkan pelantang raksasa di kedua sisi panggung.

Namun, puncak acara akan berlangsung di teras utama. Di situ telah disiapkan sebuah meja bundar untuk perjamuan makan malam antara Syekh Ar-Roberto dengan ketiga tamunya, yang akan dihadiri para penggawa kadipaten.

Lingkungan di mana pesantren Syekh Ar-Roberto termasuk lingkungan elite yang telah lima kali didaulat oleh Badan Pendaulat Kesultanan (BPK) sebagai kawasan ‘Beriman’ atau Bersih dari Malapetaka Kemiskinan. Karena itu, sudah lama Syekh Ar-Roberto kurang berkenan dengan kehadiran seorang penjual buah manju* miskin yang kerap menggelar lapak di seberang jalan madrasah.

Gelar ‘Beriman’ di tempat itu bisa-bisa tercoreng karena keberadaan penjual manju tersebut dinilai bisa memberi kesan tak ‘Beriman.’ Apalagi, sebentar lagi akan banyak orang yang berdatangan ke tempat itu bertepatan dengan hari penyambutan ketiga tamunya.

Akhirnya, sehari sebelum kunjungan itu, Syekh Ar-Roberto memutuskan memberhentikan Ferrari F430 Spider miliknya di depan lapak si penjual manju. Bagi si penjual manju, waktu tiba-tiba bergerak begitu lambat, seperti adegan ‘bullet time’ dalam The Matrix, ketika Syekh Ar-Roberto melangkah turun dari dalam mobilnya.

Syekh Ar-Roberto pun kelihatan charming, mengenakan kacamata Ray Ban gradasi dengan balutan eksklusif blazer beledu hitam serta serban kafiyeh yang diselempangkan di atas bahu. Serban yang dikenakannya tiba-tiba terangkat oleh angin, membuat rumbai-rumbainya berjumbaian, menari-nari di udara, tentu saja dalam gerak lambat.

“Atas nama ke-Beriman-an, aku memintamu untuk tidak berjualan lagi di sini. Kau tahu, ini demi nama baik wilayah ini, wilayahmu juga. Berkenankah wahai saudaraku?” tanya Syekh Ar-Roberto dengan nada persuasif.

“Baiklah, jika itu syekh yang minta,” jawab si penjual manju sambil terpukau oleh kehadiran tiba-tiba sang syekh yang kini berada di depannya.

“Tapi, aku harus memberi makan anak istriku di rumah. Sejak tadi empat buah manjuku ini belum juga terjual.”

“Biar aku borong keempat manjumu itu.”

Si penjual manju pun pulang dengan muka berseri-seri.

Keesokan paginya, puluhan kendaraan tampak mengular di depan madrasah. Para tetamu masih berdatangan menjelang hari tunggang gunung.

Tiga tamu Syekh Ar-Roberto tampak sangat puas telah mendapat servis yang sebegitu baik dari tuan rumah. Namun, tidak dengan Syekh Ar-Roberto.

Ketika perjamuan makan malam selesai, Syekh Ar-Roberto dan semua orang yang ada di meja makan itu tampak bercengkerama sesaat. Pada saat itulah Syekh Ar-Roberto ingat pernah membeli empat buah manju.

Sebenarnya, tidak ada yang terlalu ‘wah’ untuk sebuah ritual pengupasan manju yang dilakukan oleh empat orang syekh di dunia ini. Ini perkara wartawan saja yang terlalu melebih-lebihkan apa yang terjadi pada malam itu.

Ketika ketiga tamunya mengupas manju-manju tersebut, di mana Syekh Ar-Roberto menjadi orang yang terakhir mengupas, mereka saling memuji hasil kupasan masing-masing. Puji-pujian yang diberikan bukan lagi pada taraf biasa, tetapi membanding-bandingkan manju yang dikupas dengan amal ibadah masing-masing.

“Wah, kanda, lembut sekali hasil buah manju yang kanda kupas ini,” ucap Syekh A, mencicipi potongan manju milik Syekh B.

“Selembut hati dan perangai orang yang mengupasnya,” imbuh Syekh A.

“Aduh, ini, yang satu ini, coba dinda lihat. Warnanya, beuh, kematangannya, beuh. Ini sebuah gambaran kedigdayaan iman dan kesalehan yang nirmala,” kata Syekh B, mencicipi potongan manju milik Syekh C.

“Wah, kalau yang ini, luar biasa harumnya. Semoga kuburan orang yang mengupasnya kelak berbau harum juga,” ujar Syekh C, mencicipi manju yang dikupas oleh Syekh B, disusul kor “amin” dari semua orang yang ada di ruangan itu.

Kini, tinggal Syekh Ar-Roberto saja yang belum mengupas.

“Ayo, syekh, kami ingin melihat seperti apa hasil kupasan syekh,” aju seorang tamunya.

Syekh Ar-Roberto awalnya tidak mempermasalahkan adegan ‘saling puji’ yang dilakukan ketiga tamunya itu. Namun, ia kepikiran juga seperti apa pujian yang akan diterimanya nanti.

Sebagai syekh, ia patut disejajarkan dengan ketiga tamunya itu dari segi ketakwaan. Bahkan, ia merasa setingkat lebih tinggi jika dibandingkan dari segi makrifat.

Tak banyak bicara, Syekh Ar-Roberto pun mulai mengupas manju yang ada di tangannya. Segala doa ‘penangkal busuk’ dirapalnya saat itu.

Kupasan pertama, mulai tampak permukaan manju yang kuning menggoda. Syekh Ar-Roberto merasa lega.

Kupasan kedua, tangannya mulai bisa merasakan tekstur buah manju yang sedikit lembek pertanda isi yang kelewat matang. Lagi-lagi ia bersyukur.

Bisa-bisa ilmu agamanya disebut kelewat matang juga nanti, pikir Syekh Ar-Roberto. Ia pun semakin bersemangat.

Kupasan ketiga, semua orang terdiam. Seorang syekh terdengar mengucapkan istigfar, sebaliknya, wajah Syekh Ar-Roberto terlihat merah padam.

Manju tersebut tampak dipenuhi keropok dan keropeng. Ada seekor serangga yang menggeliat-gelit di salah satu keropok.

Seorang syekh sempat berteriak geli seperti teriakan Mulan Jameela dalam lagunya ‘Makhluk Tuhan Paling Sexy’ demi melihat binatang kecil bertubuh penuh burik yang memiliki sepit di kepalanya itu terjatuh ke atas meja. Suasana pun hening sejenak.

“Wah, wah, Syekh Ar-Roberto baru saja menghapus keburukan di muka bumi ini,” Syekh A tiba-tiba menceletuk, mungkin niatnya ingin mencairkan suasana hati seseorang yang ada di ruangan itu.

“Benar, serangga itu melambangkan iblis dan hawa nafsu yang menggerogoti hati atau iman umat manusia. Ia harus dibersihkan,” tindih Syekh B.

“Yap, dan, Syekh Ar-Roberto adalah yang terpilih. Tuhan tidak sembarangan memilih orang-orang yang menjalankan tugas seperti itu,” sambung Syekh C.

Bagi Syekh Ar-Roberto, hal ini tidak bisa diterima. Ia merasa orang-orang tengah merisaknya dengan kalimat-kalimat seperti itu.

Apalagi, setelah itu sebuah media elektronik menerbitkan judul berita yang semakin membuat keki. “Dari Tiga Syekh, Hanya Punya Syekh Ar-Roberto Saja yang Busuk.”

Bahkan, sebuah media yang suka menulis berita affair mencomot berita di atas lalu mengganti kata ‘punya’ dengan ‘barang.’ Jadinya, berita yang ditayangkan berjudul “Dari Tiga Syekh, Hanya Barang Syekh Ar-Roberto Saja yang Busuk.”

Tak mau kalah, sebuah media yang telah mengabdikan diri dan dibaiat sebagai media pemburu klik, menurunkan judul yang lebih ‘wow’ dengan cara mengubah vokal A menjadi U pada kata ‘barang.’ Jadinya, berita yang ditayangkan berjudul “Dari Tiga Syekh, Hanya Burung Syekh Ar-Roberto Saja yang Busuk.”

Syekh Ar-Roberto pun diradang gelisah tak berkesudahan, tak enak tidur, tak enak makan. Sekalipun telah beribadah sepanjang malam, rasa kesalnya tak jua meredup.

Kepada siapa murkanya akan dialamatkan kalau bukan kepada si penjual manju?

Ia pun mencari-cari keberadaan si penjual manju ‘sialan’ itu. Beruntungnya, si penjual manju masih berjualan di dekat situ.

“Kau telah membuatku malu!” bentak Syekh Ar-Roberto sambil mengeplak meja si penjual manju.

“Apa ada ini syekh, ana tidak mengerti?”

“Ana, ana…ana kepala bapak kau. Gara-gara kau muruahku sebagai seorang ulama ternistakan. Kau telah menjual manju busuk kepadaku!” desak Syekh Ar-Roberto sembari mendelik dan mengacung-acungkan telunjuknya ke hidung si penjual manju.

Orang-orang pun mulai berkerumun setelah mendengar kegaduhan di tempat itu. Melihat ini, Syekh Ar-Roberto kian berang dan menyebut si penjual manju penipu.

“Baiklah syekh, jika ini persoalan muruah dan martabat, baiknya dikembalikan pula kepada cara yang sama.” Si penjual manju mulai memutar otak agar Syekh Ar-Roberto bisa segera pergi dari lapak daganganya.

“Maksudmu?”

“Begini syekh, sebenarnya saya sudah membaca berita soal syekh. Nah, untuk mengembalikan muruh dan martabat syekh, saya izinkan syekh mengupas salah satu dari manju saya. Jika hasil kupasan syekh tidak busuk, berarti yang terjadi pada malam itu hanyalah sesuatu yang bersifat accidental tanpa ada campur tangan Tuhan. Muruah syekh pun terbaiki, bukan? Lagian, di sini banyak yang bisa menjadi saksi. Saya juga akan mengupas salah satu dari manju saya. Sebaliknya, ini menjadi pembenaran bahwa saya telah menipu syekh karena menjual manju busuk kepada syekh jika hasil kupasan saya busuk kelak. Namun, jika hasil kupasan syekh yang busuk sementara milik saya tidak, saya berharap syekh tidak datang ke sini lagi dengan cara-cara seperti tadi.”

“Ah, palingan kau sudah tahu mana manju yang busuk dan yang tidak. Kau mau menipu aku lagi?” elak Syekh Ar-Roberto.

“Tidak syekh, silakan syekh yang memilih, mana manju untuk syekh, mana manju untuk saya.”

Orang-orang harap-harap cemas apakah syekh setuju dengan tawaran si penjual manju atau tidak. Bagi mereka, ini merupakan pertarungan antara iblis yang diwakili oleh si penjual manju dengan malaikat yang diwakili oleh Syekh Ar-Roberto.

Jauh di lubuk hatinya, Syekh Ar-Roberto merasa tertarik dengan apa yang telah diajukan oleh si penjual manju. Tidak ada salahnya dicoba, pikirnya.

“Baiklah!”

“Oke?”

“Oke!”

“Deal ya, syekh?”

“Deal!”

“Salim dulu syekh, sebagai tanda jadi.”

“Ah, banyak kali apa kau, ayo mulai saja!”

Manju pun dipilih.

Tanpa banyak bicara, Syekh Ar-Roberto mulai mengupas manju yang ada di tangannya. Segala doa ‘penangkal busuk’ telah dirapalnya di dalam hati.

Kupasan pertama, mulai tampak permukaan manju yang kuning menggoda. Syekh Ar-Roberto merasa lega.

Kupasan kedua, tangannya mulai bisa merasakan tekstur buah manju yang sedikit lembek pertanda isi yang kelewat matang. Lagi-lagi ia bersyukur.

Kupasan ketiga, Syekh Ar-Roberto berhenti.

Lagi-lagi ia mendapati permukaan manju yang dipenuhi keropok dan keropeng. Seekor serangga terlihat menggeliat-gelit di salah satu keropok.

Ini sudah tidak bisa dibiarkan, berang Syekh Ar-Roberto di dalam hati. Ia pun mengamuk dan menendang keranjang serta meja milik si penjual manju sehingga manju-manju yang ada di atas meja berserakan, lalu beranjak begitu saja.

Selagi Syekh Ar-Roberto memutar kunci Bayerische Motoren Werke miliknya, tiba-tiba si penjual manju sudah berdiri di depan kaca. Ia membawa sesuatu di tangannya.

“Apa ini?”

“Oh, tidak syekh, anggap saja ini sebagai permohonan maaf serta rasa terima kasih saya,” ujar si penjual manju sambil menyorongkan sebentuk kantong plastik hitam berisi manju kepada Syekh Ar-Roberto.

Dua Minggu kemudian, orang-orang kembali berkerumun di dekat lapak si penjual manju. Tampak penjual manju tersebut digiring melewati kerumunan oleh dua petugas ke atas mobil patroli dengan tangan terborgol.

Ia dituduh menjadi orang yang paling berperan atas kematian Syekh Ar-Roberto. Saat si penjual manju menanyakan alasannya, polisi dengan santai menjawab, “karena manju.”

Seminggu sebelumnya, Syekh Ar-Roberto dikabarkan menghilang. Tidak ada yang tahu keberadannya, hingga malam itu, ketika orang-orang di madrasah hendak menunaikan salat berjemaah, tiba-tiba terdengar sebuah teriakan dari salah satu ruangan.

Orang-orang pun menuruti asal suara tersebut. Suara teriakan itu berasal dari seorang santriwati yang tengah berdiri kaku dengan wajah pucat kesi di ambang pintu sebuah ruangan yang sering dipakai oleh Syekh Ar-Roberto sebagai tempat suluk.

Orang-orang tergidik demi mendapati seseorang telah terbujur kaku dan membiru di sudut sana. Tak ada lalat hijau yang berdenging atau hinggap di tubuh orang itu, hanya saja, beberapa ekor serangga bertubuh kecil penuh burik yang memiliki sepit di kepala tampak merayap-rayap di pinggiran keropok empat buah manju yang berserakan di atas lantai.

*Mangga

Komentar

Komentar