Asamkana dan Jejak Manis yang Ditinggalkannya

~ Jejak asamkana di lidah anak kampung

Makanan ini tak istimewa tapi cukup sebagai pemantik kenangan masa bocah. Asamkana, pada suatu kala adalah salah satu cemilan bocah-bocah kampung setelah mereka disapih.

Setelah satu atau dua gigi mereka tumbuh, biasanya yang mereka makan adalah asamkana. Manisnya ada, kecutnya tak seberapa, itulah asamkana.

Saya mengenal asamkana sekitar umur tiga tahun, kalau tidak salah, setelah mulai mendapatkan jatah uang jajan. Dengan modal 100 rupiah saya bisa menjejali kantong dengan empat biji asamkana.

Harga pasti saya lupa, yang jelas murah sekali untuk ukuran kantong warga kampung saya yang hidup rukun dalam suasana aman dan nyaman ala kamtibmas DOM.

Saya berandai-andai jika tidak ada DOM di Aceh, asamkana tak pernah ada. Dan lidah saya tidak akan pernah tau bagaimana rasanya.

Asamkana dikemas sederhana. Sejumput manisan dari Boh Mee atau Asam Jawa__yang tumbuh di Aceh__yang telah dicampur beberapa bahan lain seperti cabai, disajikan dalam kemasan plastik kecil bening yang terikat rapat oleh karet gelang.

Tujuannya supaya udara-udara berbau subversif yang tidak disukai ordebaru dan bala tentaranya ketika itu, tak masuk ke dalam dan merusak cita rasa asamkana. Yang ini tentu bualan saya.

Namun, karena corak kemasannya yang sangat simpel itulah, terkadang ada orang yang menyebutnya bukan asamkana melainkan asai meukana; asal jadi barang.

Saya tak tau pabrik mana yang memproduksi asamkana. Lagi pula, hal ini bukanlah urusan saya.

Yang jadi urusan saya, ketika ingin membelinya, barang itu telah ada di warung Wa Kuthang.

Manisan ini diantar muge atau pedagang eceran yang biasanya sepekan sekali singgah. Sungguh, lagi-lagi, saya tak tahu nama si pedagang tersebut karena tidak pernah berkenalan.

Semacam penyuplai resmi asamkana ke warung Wa Kuthang, pedagang tersebut tau kapan stok barang telah habis. Biasanya, ketika asamkana tinggal dua atau tiga lagi, besoknya sudah diantar yang baru.

Di kedainya yang berdinding papan dan berlantai tanah, Wa Kuthang menaruh asamkana ke dalam toples plastik. Lalu toples diletakkan di muka warung, bersanding dengan toples-toples lain yang berisi bonbon karet, kuaci, dan mi krip-krip.

Mau beli berapa biji tinggal sebut, kasih uangnya, Wa Kuthang akan mengambilnya. Anak-anak seperti saya dilarang mengambil sendiri, takut seisi toples akan tumpah ruah.

Sore adalah waktu terbaik bagi saya untuk membeli asamkana. Tentu tidak tiap hari. Ada larangan tertentu yang menyebabkan saya tak boleh mamam asamkana setiap hari.

Asamkana bisa disimpan lama. Setidaknya tanggal kedaluwarsa tak tertera di kemasannya. Apakah ada pengawet di dalamnya? Lagi-lagi, ini bukanlah tugas saya mengeceknya.

Yang menjadi tugas saya adalah memakan asamkana itu setelah membelinya.

Namun, sebelum asamkana masuk mulut dan melewati tenggorokan, saya punya ritual tersendiri, yang jarang saya ungkapkan ke publik. Seumpama saya membeli empat buah asamkana, tidak saya makan sekaligus, lho.

Jangan sesekali Anda menduga saya bocah yang rakus. Hanya satu yang dimakan sedangkan tiga lagi saya simpan dalam kantong celana.

Asamkana yang satu ini biasanya dipegang-pegang dulu. Kalau ada halangan seperti ajakan main tiba-tiba, proses memakannya tentu ditunda. Rasa-rasanya pun terlalu sayang untuk dimakan seketika itu juga.

Tapi yang mau saya bocorkan adalah ritual memakannya. Begini caranya, cukup gigit ujung bungkusan plastiknya yang runcing. Gigit sedikit saja dan pakai perasaan supaya isinya tak crot ke mana-mana.

Baca Juga: Secuil Memori denganmu, Perempuan Berinisial Huruf Kelima dari Abjad

Kalau Anda bertanya kenapa harus begini, memang seperti inilah sebuah ritual dijalankan, ada fase-fasenya.

Setelah ujungnya terbuka sedikit, pencet bungkusan hingga isinya keluar. Lalu, rasakan asam manis yang pertama mendarat di lidah. Yummmm…sep ma mangat!

Ingat, jangan terlalu banyak dan sekaligus memakannya.

Asamkana bukan penunda lapar juga bukan pemuas dahaga. Pada prinsipnya ia seperti rujak. Jika tak paham, Anda boleh baca lagi teori tentang rujak, itu pun kalau ada yang menuliskannya.

Sementara, dari sifat-sifat lahiriahnya, penganan ini wajib dicoba oleh siapa pun di dunia ini. Dari level pejabat tinggi hingga orang miskin, semua dipersilakan menikmati.

Presiden Jokowi pun boleh mencobanya kalau beliau mau. Beliau bisa menikmati asamkana sambil menengok menteri kesayangannya yang berinisial LBP bergerilya mengatur Aceh hingga Papua dengan perkasanya.

Ah, soal menteri ini, jangan dibesar-besarkanlah.

Produk Asam-Kana. Breedie.com
Asam Kana Aceh. Breedie.com

Cara menikmati asamkana sedikit demi sedikit konon untuk mempertahankan sensasi yang saya dapatkan. Setiap kali lidah mengemut asamkana, saya seperti terlempar ke pulau kecil tak bernama yang terpencil di tengah samudra.

Di situ saya berbaring di pinggir pantai menikmati matahari di bawah pohon kelapa sembari menanti kapal pesiar datang menjemput. Sungguh sensasi yang ngeri berujung gila, tapi itulah dia kenikmatan mengemut asamkana.

Belum lagi di setiap kemasan dapat bonus sebiji asam Jawa. Ketika mulut dan lidah bekerjasama mengupas kulit luar biji lalu sesudah itu bibir menghempaskan biji ke tanah, itulah satu lagi sensasi yang sulit dilukiskan.

Apalagi, jika biji itu saya simpan kemudian sebagai kenang-kenangan. Sungguh saya tak tahu kenapa harus melakukannya saat itu.

Asamkana sekarang mulai langka. Wa Kuthang juga telah lama tiada. Warungnya telah berpindah tangan ke anak menantu. Atau dijual ke orang lain, saya tidak tahu, karena juga bukan urusan saya.

Yang pasti, tidak ada lagi asamkana yang dijual di warung itu.

Baca Juga: Sepahit Kopi, Sesanger Cinta

Belakangan, saya tahu asamkana telah berekspansi ke ranah ekonomi digital. Manisan ini dijual di toko-toko online. Sepintas, gengsinya telah naik karena bukan lagi menjadi makanan bocah-bocah kampung.

Di lain hari, seorang kawan mengatakan asamkana kini masih diproduksi dan dijual di toko-toko suvenir Aceh untuk turis. Asamkana pun berubah dari penganan warung menjadi oleh-oleh darmawisata.

Tapi, saya tak pernah mencicipinya lagi. Sebuah jarak sepertinya telah terbangun antara saya dengan asamkana. Saya tidak tahu kenapa, mungkin saja lidah saya sudah terlalu banyak dijejali cemilan Indomaret.

Atau, jangan-jangan asamkana memang diciptakan untuk meninggalkan jejak kenangan di lidah saya. Ya, lidah anak kampung yang mendadak sombong begitu bertemu makanan kota.

KOMENTAR


Dapatkan beragam artikel dari majalah online Breedie langsung melalui email Anda.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here