Mati Lampu dan Harga Daging Meugang Pertanda Puasa di Aceh Telah Tiba

#Editorial

~ Tanpanya, puasa terasa hambar

Di belahan Nusantara lain, bahkan di seluruh dunia lain, penetapan kapan puasa dimulai bergantung pada keputusan ulama. Di Aceh, pertanda puasa telah dan atau segera tiba bisa ditandai dengan dua fenomena lain. Pertama, seringnya mati lampu. Kedua, harga daging meugang yang meroket “to the moon” tanpa bilang-bilang.

Jika menjelang puasa listrik tidak sering padam, patut kita banyak bertanya, jadikah puasa tahun ini? Lalu, bila pada hari meugang harga daging tak mampu membikin kantong koyak, juga sangat boleh kita bertanya lagi, apa iya nggak ada puasa tahun ini? Atau, apakah puasa diundur?

Mati lampu dan mahalnya daging meugang menjadi dua bentuk “keistimewaan” Aceh yang pasti tidak akan kita temui dalam kitab-kitab regulasi. Seharusnya, kedua “kekhususan” ini segera dipatenkan, sebelum direbut negara-negara lain, misalnya Malaysia.

Mati lampu adalah tradisi yang mewujud dalam peradaban kontemporer. Sedangkan meugang dipercaya datang dari masa lalu dan sampai sekarang kokoh sebagai tradisi turun-temurun dari indatu.

Omongan meugang sebagai “tradisi” ini akan diulang-ulang banyak orang di hari meugang. Beberapa sambil memamerkan masakan daging meugang di media sosial, sambil “berkhutbah” sedikit tentang apa itu meugang.

Tapi, sejauh mata memandang, tak ada kiranya yang mempertanyakan esensi dari meugang. Konon lagi, “menggugat” meugang sebagai tradisi. Milenials Aceh sepertinya tak punya lagi nyali “memberontak” bak indatunya. Tidak ada yang bertanya, apa alasan kita perlu mempertahankan meugang ini?

Mungkin juga ada yang bertanya ke orang-orang tua tapi yang didapat jawaban: Hana muphom adat, kah!; Bangai, kah! Kueh, kah! Dan kah-kah lain sebagainya. Pokoknya, meugang itu tradisi yang perlu dipertahankan.

Lagipula, untuk apa menggugat tradisi, ya kan? Kayak tak punya kerjaan aja.

Karena itu, sampai hari ini meugang sangat penting bagi ureung Aceh. Di situ terselip marwah. Di situ terkandung harga diri. Mau berapa pun harga daging meugang—lembu, sapi, atau kerbau—tetap akan terbeli. Itu tak soal. Soal duit dan kekayaan orang Aceh jangan diadu. Gengsinya tinggi. Dibilang miskin sama BPS saja bisa ngamuk-ngamuk.

Mati Lampu dan Harga Daging Meugang Pertanda Puasa di Aceh Telah Tiba
Ilustrasi daging meugang. (freepik.com)

Baca Juga: Tentang Spanduk Kemiskinan Aceh yang Heboh Itu

Di hari meugang, nyaris tidak ada rumah di Aceh yang tak memasak daging meugang. Entah mirah entah puteh. Pokoknya, semua berpuas diri menyantap daging sebelum berpuasa esok hari.

Toke-toke lembu bisa menjadi salah satu pihak yang meraup untung dari kondisi naiknya harga daging meugang. Hitung-hitungan awam secara ekonomi, makin banyak permintaan, makin tinggi harga, sementara barang sedikit.

Dan oleh karena itu kita patut pula bertanya, kenapa otoritas tidak memperbanyak barang, dalam hal ini lembu dan atau sapi dan atau kerbau saban hari meugang, supaya harga tetap netral. Dengan begitu, semua rakyat, dari yang genrenya sultan sampai yang papa sanggup membeli.

Bisa jadi perkara itu tak segampang bacot kami. Namun, ada kasus fiktif di mana seorang anak magang yang baru kawin tidak sanggup beli daging meugang walaupun sekilo. Sebab, THM alias Tunjangan Hari Meugang belum dicairkan oleh kantornya. Rupa-rupanya, kantor si anak magang—yang berplat merah—lebih sibuk menangani pandemi kopid ketimbang menemteramkan perut pegawai rendahan macam dia.

Lalu, apa yang dia lakukan? Mungkin sedikit depresi tapi si anak magang berbaik sangka saja. Maka dari itu, sepanjang hari meugang tersebut terpaksa mukanya dibenamkan dalam pot bunga milik mertua. Dan malamnya, dia pun tumbang di rakaat kedelapan tarawih karena perut belum “kena” daging. Ketika bangun suasana gelap gulita. Ternyata, lampu meunasah telah padam.

KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here