~ Hujan-hujan begini ya pasti ML

Ini sudah masuk bulan “Ber”, siapkan ember, karena hujan sedang suka-sukanya turun. Suka-suka maksudnya tak kenal waktu. Kapan saja, di mana saja. Di tempatmu sedang banyak hujan? Tenang, kita senasib.

Hujan adalah rahmat yang mesti kita syukuri. Namun, hal kedua yang penting setelah itu adalah jangan biarkan perutmu kosong ketika hujan. Dampaknya fatal, bisa-bisa masa depanmu terancam.

Ada satu cemilan yang pas kala hujan turun. Pisang. Pas hujan jelang siang atau siang jelang sore, ibu-ibu pasti sering menyebut enaknya makan pisang rebus. Kalau bapak-bapak sering bilang, enaknya pisang goreng.

Intinya, pelarian saat hujan itu lebih ke buah pisang. Mau direbus atau digoreng sama saja. Yang penting, suasana hangat saat hujan mengguyur bumi.

Selain tidak bisa banyak beraktivitas saat hujan turun, untuk membunuh rasa bosan menunggu hujan reda, bapak, ibu, kakak, abang atau Dek Gam dan Dek Nong lebih memilih menu olahan pisang ini.

Entah dari mana snack ringan olahan pisang ini bermula. Mungkin, orang dulu kalau pulang dari kebun atau ladang pasti bawa pisang. Jangan dianggap serius ya, belum ada riset soal yang satu ini.

Pisang di Aceh berlimpah dan banyak jenis. Tumbuhnya di mana-mana bahkan sembarang tempat. Di kebun atau di pekarangan rumah sudah biasa. Jika kamu pernah menjumpai pisang tumbuh dengan gagah perkasa di tengah parit, itu baru luar biasa. Bisa langsung dinamakan itu jenis pisang liar.

Ornament pisang by Pixabay.

Tak perlu heran kenapa pisang tumbuh subur di setiap jengkal tanah Aceh yang tropis ini. Bahkan kalau satu pisang ditebang bakal tumbuh seribu pisang yang lain. Jelas heroik sekali si pisang ini. Dan kamu tak perlu takjub dengan mulut menganga begitu.

Ada tips supaya kamu tak ter-tahe-tahe ketika menunggu hujan reda. Pasang kuda-kuda dan olah pisang itu segera. Direbus atau digoreng? Suka hatimu.

Ada resep singkat kalau mau. Pertama, pastikan di dapur rumahmu ada pisang bukannya boh pik. Ambil pisang itu dan cuci dengan serius. Jangan bercanda ketika mencuci pisang, kualat nanti, katanya begitu.

Kedua, setelah pisang dicuci, hidupkan kompor, taruh panci di atasnya, masukkan beberapa gelas air ke dalam panci, cemplungkan pisang-pisang itu ke dalamnya. Usahakan ketika mencemplungkan pisang tidak seperti melempar bola kasti. Bila perlu, tebarkan sejumput garam ke dalam panci supaya kamu kelihatan lebih serius. Tunggulah beberapa saat maka jadilah pisang rebus.

Resep singkat lainnya, pisang-pisang yang dicuci tadi dipotong-potong. Wujud potongannya terserah kamu saja. Segitiga boleh, jajaran genjang juga oke. Bila perlu pakai penggaris, lakukan saja supaya potongan pisangmu simetris.

Pisang rebus di saat musim hujan (Foto Pixabay)

Langsung setelah itu celupkan potongan-potongan pisang itu ke dalam tepung beras. Tepung dimaksud tentu tak turun tiba-tiba dari langit, harus disediakan juga sebelumnya. Ya, minimal ada stoklah di rumahmu. Jangan tanya jenis beras apa, pokoknya yang disebut tepung beras.

Tepung beras tersebut harus dicampur air, barulah pisangnya di-lawok-lawok. Gerakan meulawok ini harus penuh perasaan. Supaya pisangnya tak hancur dalam genggaman.

Panaskan minyak goreng. Ketika minyak sudah terasa panas betul, celupkan jarimu, eh, masukkan potongan-potongan pisang itu ke dalamnya. Tunggu hingga tepung beras tadi kering dan memeluk erat pada pisang. Ketika warnanya sudah berubah kuning kecoklatan, sudah pasti itu pisang goreng. Angkat, tiriskan, dan nikmati pisang goreng tersebut.

Selain itu, juga ada resep ketiga. (Maaf, jadi kebanyakan resep). Namun, resep ini antara ribet dan tidak. Maksudnya, ada yang bilang ribet, ada yang bilang tidak. Cara kerjanya, kulit pisang dikupas, lalu pisangnya dilempar ke tepung tadi. Remas pisang itu secara ganas hingga hancur dan bercampur tepung. Lakukan berulang-ulang hingga pisang benar-benar lembek seperti adonan.

Setelah itu, buat bola-bola kecil dari adonan itu. Usahakan diameternya tidak mini, tidak juga raksasa. Jangan semua adonan dibentuk jadi satu bola. Kreatiflah.

Ada juga yang menyarankan ke dalam adonan ditambahkan kelapa parut setengah tua dan gula pasir. Boleh juga dilakukan asal tak mengganggu konsentrasi.

Bola-bola itu kemudian digoreng hingga warnanya berubah dari putih pucat menjadi kuning coklat. Jadilah dia godok-godok. Orang Malaya sana bilangnya cengkodok pisang. Kalau ragu, kamu ke Malaysia dan tanya orang-orang di sana apa betul itu namanya.

Di sisi lain, karena simpel, praktis dan murah meriah, tak heran kuliner olahan pisang pasti bakal jadi rebutan di kala musim hujan. Pisang goreng menjadi rival terberat bagi bakso maupun mie goreng.

Bila di kota yang sudah tidak ada semak yang dipenuhi pohon pisang, dan lupa belanja pisang, satu-satunya jalan, ya, nekat saja terobos hujan menuju ke warung bandrek terdekat. Dijamin di situ ada pisang goreng. Kalau malas juga, bisa dipesan via ojek online. Orang kota, ya kan?

Nah, yang saya ceritakan dari awal tadi itu kebiasaan orang-orang di kota. Kalau kami di Gayo, makan pisang rebus atau goreng saat hujan sudah terlalu mainstream. Pasalnya, mau hujan atau tidak suhu di Gayo itu tetap dingin. Pisang goreng atau rebus tiap hari selalu ada. Kalau nggak percaya coba saja lewat Simpang Balek. Pisang goreng yang dijual di sepanjang jalan itu selalu ludes. Itu bukti lidah kami begitu akrab dengan pisang.

Yang jarang ada di tempat lain dan sudah menjadi kebiasaan saat hujan mulai turun di Gayo adalah ML, Breeders. Iya, ML. Kami begitu menikmatinya. Asal musim hujan, mau malam atau siang, ya pasti ML. Jika tak percaya, singgah sekali, biar kamu juga tahu gimana nikmatnya melebihi pisang goreng atau pisang rebus. Tapi, sebelum kamu menebak saya berniat busuk, ketahuilah ML itu cuma singkatan dari MATI LAMPU. Puas?

Komentar

Komentar