Lamek, Juned, dan Brahim, Sebuah Bacot Unfaedah di Tengah Krisis Corona

~ Krisis adalah sebuah bentuk dari leadership yang LDR

Kalau kota Banda Aceh semakin buram akibat virus corona, barangkali ini menjadi waktu yang tepat buat saya melemparkan diri ke rawa-rawa, dan mulai menanyakan ke ikan-ikan: apakah masih ada harapan untuk masa depan yang lebih baik?

Saya membayangkan kerumunan ikan akan menggiring saya ke satu sarang, yang dihuni oleh seekor ikan tua bijak.

Ia, tepat di depan muka saya yang cemas, mengatakan, “Selalu ada harapan untuk itu, di masa tersulit sekali pun.”

Belakangan ini, kepala saya pusing setiap membaca berita mengenai virus corona, yang telah menyerang habis-habisan manusia di seluruh dunia.

Tak mau pusing saya kian parah, saya memindahkan perhatian ke media sosial. Mungkin saja, di media sosial, saya bisa menemukan kesenangan-kesenangan kecil.

Kata orang-orang, hal-hal yang menyenangkan bisa membuat kesehatan mental menjadi lebih baik.

Ebgst, kepala saya makin berdenyut sakit.

Saya merasa ngeri melihat informasi-informasi tentang virus corona yang dibagikan, tanpa saringan sedikit pun.

Apalagi, disertai dengan komentar-komentar dan status-status berlebihan yang hanya menimbulkan kebisingan. Menanggapinya, saya bergumam di dalam hati, “B-a ba, c-o co, ditambah t, bacanya ba-cot.”

Saya membutuhkan sesuatu yang bisa membangkitkan gairah hidup di tengah wabah virus corona ini.

Beberapa bulan lalu, hidup saya masih begitu menyenangkan dan menggairahkan. Saya masih bisa bercengkerama langsung dengan teman-teman, bergibah tentang apa saja, dan tergelak mendengarkan cerita-cerita lucu.

Saya mengingat jelas cerita lucu tentang Lamek, seorang teman, yang berorasi pendek seperti aktivis di hadapan mahasiswa baru.

Saat itu, Lamek menekankan kepada mahasiswa baru untuk peka dengan keadaan sekitarnya.

Mahasiswa yang membanggakan, bagi Lamek, adalah mahasiswa yang mampu berpikir secara kritis.

Namun, kritis sejak dalam pikiran, bukan berarti kata-kata “KRITIS” bisa dengan mudah keluar dari mulut Lamek.

Maka, dalam orasi pendeknya, tersemburlah suara-suara yang menyerupai terompet sumbang.

“Kita,” seru Lamek dengan tangan terkepal, “selaku mahasiswa, harus selalu KRISIS!”

Setiap perkataan, kata Mamak saya, adalah doa. Mungkin perkataan Lamek, yakni mahasiswa harus selalu krisis, telah menjadi doa yang makbul dan diijabah, yang membuat banyak mahasiswa kerap dilanda krisis pada akhir-akhir bulan.

Bahkan, saya tak jarang mendapatkan ada beberapa mahasiswa yang sudah mengalami krisis di awal bulan, atau di pertengahan bulan.

Terutama yang indekos, mereka terpaksa menambah gizinya hanya dengan indomie, atau berutang di kedai kopi, di warung, termasuk juga kepada temannya sendiri.

Saban cerita ini diungkit kembali, Lamek bakal memonyongkan mulut, lalu pura-pura menyibukkan diri. Entah apa yang disibukkannya. Yang pastinya, Lamek tidak sedang berpikir secara KRISIS.

Baca Juga: Romantika Sekuntum Rindu Dek Cut dan Dek Gam dalam Bus Lobur Mahasiswa

Berbeda dari beberapa bulan lalu, hidup saya di beberapa tahun yang silam terasa dua kali lebih senang dan bergairah. Umur masih muda dan otak masih bertenaga besar untuk melahirkan kreativitas-kreativitas dalam meledek teman.

Pernah di suatu sore, saya meledek Juned, seorang mahasiswa salah satu perguruan tinggi, yang baru tiba di tempat kami biasa duduk.

Saya bilang, “Serugi-ruginya pemuda ialah pemuda yang sudah mandi, berpenampilan keren, dan wangi, eh, nggak punya pacar.”

Dan cuma dalam sekian detik, ia membantah dengan sedemikian sengitnya.

Katanya, “Enak aja. Itu dulu. Sekarang udah nggak jomblo lagi. Udah punya pacar, tapi pacarannya jarak jauh. LDR-LDR.”

“Cieeh, gaya kali LDR. Emang apa kepanjangan LDR?”

“Masa kepanjangan LDR aja nggak tahu. Tahu la,” balas Juned, dengan muka yang tampak sedang berpikir keras.

“Apa coba kepanjangannya?” desak saya.

Ia menjawab, “LEADERSHIP!”

Saya terpingkal sambil memegangi perut, menahan agar pankreas saya tidak lepas. Sejak kapan kepanjangan LDR, dari LONG-DISTANCE RELATIONSHIP berubah menjadi LEADERSHIP.

Oh, Juned, Juned.

Di tahun-tahun yang bersamaan, saya juga mulai mengenal Brahim, saudara Juned dari kampung. Ia mengelola sebuah bisnis sederhana yang bergerak di bidang jasa perbaikan kulkas.

Brahim ini merupakan sosok yang eksentrik dan sangat santai dalam memandang dunia. Masalah-masalah atau situasi-situasi sulit seperti tidak hadir dalam hidupnya.

Padahal, kata Mark Manson dalam The Subtle Art of Not Giving a Fuck, “Hidup pada dasarnya adalah serangkaian masalah yang tak ada habisnya. Solusi untuk satu masalah hanyalah ciptaan yang lain.”

“Him, bagi aku, kau itu bukan kayak teknisi kulkas,” ujar saya di depannya dan teman-teman suatu kali. “Kau ini lebih cocok disebut seniman.”

Ia tertawa, mengisap rokok dan menghembuskan asapnya.

Yang Brahim tak sadari, di balik asap rokoknya yang terbang ke sana kemari, sebenarnya ada pertanyaan yang ikut melayang-layang juga, dan itu mengusik pikiran saya.

Apakah masalah atau situasi sulit memang benar-benar tidak hadir dalam hidup Brahim?

Rupanya, usut punya usut, Brahim sama saja dengan manusia-manusia lain. Ia juga mempunyai masalah-masalah dan pernah terjebak di situasi sulit.

Namun, ia memiliki cara sendiri dalam mengatasinya. “Kalau kira-kira dia ngerasa kepalanya mau meledak karena masalah, biasanya dia tarik selimut, terus tidur,” kata Juned.

Baca Juga: Kita dan Mariana Utara, Siapa Lebih Bahagia?

Memikirkan Brahim lebih lama, saya menemukan sesuatu yang menyegarkan, layaknya menemukan oase di gurun, di tengah masalah cemasnya saya tentang wabah virus corona dan rontoknya gairah hidup saya.

Apa itu?

Saya mesti memperbanyak tidur.

Kalau kata Limbad, “Arrgggh hhrggh urggrhh zzZ zzZ zzZ!”

Itu.

KOMENTAR


Dapatkan beragam artikel dari majalah online Breedie langsung melalui email Anda.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here