Kita dan Mariana Utara, Siapa Lebih Bahagia?

#Editorial

~ Sudahkah Anda bahagia hari ini?

Mungkin, bagi banyak suporter klub-klub besar sepakbola, Mariana Utara adalah lelucon terbaik tahun ini. Mungkin juga, bagi suporter timnas, Mariana Utara adalah canda terbaik untuk meredakan jengkel di tengah hiruk pikuk negeri yang dimangsa aksi pelemahan KPK, kebakaran hutan, hingga tragedi Papua.

Menonton kekalahan tim nasional Persemakmuran Kepulauan Mariana Utara, sebuah daerah kepulauan dan persemakmuran Amerika Serikat, membuat kita menepis ingatan akan aksi hebat KPAI yang menghentikan audisi bulutangkis. Membuat kita rehat sesaat melihat buzzer berkeliaran di linimasa demi membela yang bayar.

Saya mungkin terlalu jauh. Tapi begini, jika boleh berandai-andai, apa yang akan terjadi pada suporter timnas kita bila kualitas tim kebanggaannya seperti Mariana Utara?

Akan jadi apa stadion itu? Jadi peyek, tentu saja. Rumput-rumput akan dicongkel, jaring gawang akan dirobek. Bangku-bangku stadion akan punah dimakan tendangan para suporter yang kecewa.

Ini masih sebatas urusan di kalangan suporter. Coba tebak apa yang bakal yang terjadi di level atas sepak bola Indonesia? Mencari pelatih baru, merombak timnas, bisa jadi lebih dari itu akan dilakukan.

View this post on Instagram

Bersepeda Tanpa Alasan, Sebuah Langkah Progresif Menikmati Hidup Sudah beberapa pekan ini saya memutuskan bersepeda, lagi. Kata lagi seharusnya ditebalkan dan berisi penekanan yang tak biasa. Soalnya, hal ini pernah saya lakukan pada 2010. Sembilan tahun lalu, entah gara-gara apa saya kepincut bersepeda lagi. Ada dorongan yang begitu kuat untuk bersepeda. Namun, tanpa didasari niat supaya sehat atau menjadikannya olahraga. Saya seperti disuruh bersenang-senang dengan sepeda. Saat itu, telah 13 tahun saya berpisah dengan sepeda. Selama fase itu, saya sama sekali tidak tertarik dengan kereta angin itu. Saya tak mau menjamahnya, mengelusnya, karena memang tidak memilikinya. Konon lagi menjejakkan kaki ke pedal untuk sekadar merangkak beberapa meter ketika berada di dekat sepeda teman. Sepeda menjadi benda biasa. Seperti kaos butut yang berubah fungsi menjadi kain lap. Ketika keinginan bersepeda muncul lagi pada 2010, saya menyalurkannya dengan gegap gempita. Seperti ibu-ibu yang kesasar ke toko penuh barang diskon 50 persen. Dua sepeda kumbang oemar bakrie saya beli. Belakangan, sepeda rongsokan milik saudara ipar hampir terbeli. Sebelum … semuanya berakhir sia-sia. Hanya sebulan saya bersepeda lalu setelah itu kembali ke kehidupan “normal” seperti manusia pada umumnya. Lalu, setumpuk hipotesis terhidu tanpa dipesan. Sesuatu yang dimulai terlalu bersemangat, terkadang berakhir dengan kekecewaan. Bahkan, beberapa gagal. Maaf, anggapan ini limited edition untuk saya, jangan di-generalisasi-kan. Pada kasus sepeda, saya memulainya dengan metode sales ember keliling. Sesuatu yang akhirnya harus saya akui salah total. Jadi begini Bree, tahun itu, ada beberapa teman memiliki sepeda tapi jarang mereka gunakan. Mereka saya ajak. Lebih tepatnya merayu. Ajakan itu mengena. Namun, karena kesibukan masing-masing, waktu bersepeda bersama cuma bisa terlaksana akhir pekan. #sepeda #sepedagunung #sepedaindonesia #gowes #bike #bikelife #oemarbakrie #olahraga #pedal Mau baca lebih lengkap? Linknya ada di bio ya #breeders Pantau juga rubrik lain seperti #zipper #breevid #IoT #addict #play #blog #screenshot #widget #dresscode breedie.com | Easy but Spicy

A post shared by ʙʀᴇᴇᴅɪᴇ (@breediedotcom) on

Hal ini wajar-wajar saja. Kita telah lama dielu-elukan dan mengelukan diri sebagai bangsa besar. Karena itu, sebagai bangsa besar, kita dituntut tidak cepat berpuas diri. Tidak boleh kalah. Jika kalah akan malu.

Mariana Utara tidak demikian. Mungkin, karena terpencil dan dikepung lautan Pasifik, mereka cukup bersahaja menikmati kekalahan. Tidak ada yang pingsan di lapangan saking emosinya menahan kekalahan. Tidak ada tekel-tekel maut yang kerap terjadi pada tim-tim kalah.

Sangat mencengangkan pula melihat reaksi anak-anak Mariana Utara ketika sebiji gol tercipta. Pemain, ofisial, hingga tukang urut tim merayakannya secara meriah. Seolah-olah itu gol balasan. Padahal, cuma gol hiburan.

Mereka telah kalah telak sejak babak pertama. Tanpa diprediksi oleh pengamat bola yang pintar sekali pun, Mariana Utara tak ada harapan lagi. Tapi mereka tetap bermain hingga menit terakhir dengan penuh loyalitas. Tanpa saling menyalahkan, para pemain tetap melanjutkan serangan dengan rasa bangga. Mereka berjuang penuh percaya diri.

Mariana Utara sadar mereka bukan lawan sepadan Indonesia. Mereka bukan Malaysia, Thailand, atau Vietnam. Tak perlu mengamuk kalau kalah. Maka, ketika jala gawang sebuah tim besar dari negara besar seperti Indonesia bisa robek oleh satu gol saja, mereka bangga. Lebih tepatnya bahagia. Kita, mungkin tidak pernah dan tak akan sebahagia itu jika kalah 15-1. Sudah begitu takdir kita sebagai warga negara +62.

Komentar

Komentar