Corona Membuat Kita Lebih Takut Sama Bersin Ketimbang Singa

Jadi, selama saya hidup dan menjadi rakyat Aceh hingga saat ini, pos-pos seperti itu akan terus ada. Hanya muncul di waktu dan narasi yang berbeda.

Ilustrasi dunia hadapi covid-19. Breedie/Freepik.com

~ Dulu sweeping GAM, sekarang sweeping corona, hhe

Kamis pekan terakhir Maret, saya mengantar pulang Mak ke Matang Glumpangdua dengan menumpang L300. Saya tau, negeri sedang gonjang-ganjing oleh corona.

Maka dari itu, saya tak mau membiarkan Mak pulang sendiri dari Rembele, Bener Meriah.

Perjalanan kami lancar-lancar saja seperti biasanya. Cuma suasana di jalan lebih sepi ketimbang hari-hari sebelumnya, sejauh yang bisa saya pantau.

Setibanya kampung halaman, saya menginap semalam. Besok pagi langsung balik dan minta dijemput lagi dengan L300 langganan, Apa Raja.

Dari Matang, tak banyak penumpang tujuan ke Aceh Tengah. Setelah singgah dan memuat barang di Terminal Bireuen, jumlah penumpang cuma tiga orang. Dua di belakang sopir, satu lagi di ree atau barisan kedua.

Saya conggok tepat di belakang sopir, lengkap dengan safety masker, kacamata, plus topi.

Di samping kiri dekat pintu ada seorang aneuk muda. Sepertinya mahasiswa keperawatan yang hendak pulang kampung. Memakai jaket, kepala masuwa ini terbungkus topik kupluk sedangkan mulutnya dibekap masker.

Sementara di kursi deretan kedua seorang nenek duduk dengan santunya. Tujuan beliau mentok ke Takengon. Sang nenek tidak bermasker. Beliau dengan tenang duduk di kursinya; lagei hana kejadian sapeu.

Ini suasana teraneh yang pernah saya saksikan dalam kabin L300 selama hidup saya menumpang angkutan antarkota ini. Saya seperti sedang menuju ke bekas reruntuhan reaktor nuklir Chernobyl. Ah, ini mungkin halu.

Balik lagi ke soal minimnya penumpang. Memang tak banyak penumpang yang diangkut mini bus Apa Raja trayek Bireuen-Takengon hari itu. Mobil lebih banyak memuat kotak berisi bantuan alat-alat kesehatan.

Begitu keluar dari terminal, L300 tancap gas. Di dalam kabin, tak ada satu pun yang berbicara.

Tak terasa mobil melewati perbatasan Bireuen-Bener Meriah. Pas di depan Puskesmas Blang Rakal yang berhadapan dengan Pesantren modern Nurul Islam, L300 berhenti. Rupanya, ada pos pemeriksaan cek suhu badan.

Saya tak tau kapan pos itu didirikan. Mungkin pas malam saya menginap di Matang atau baru hari ini?

Semua kendaraan yang lewat diberhentikan tanpa kecuali. Kendaraan pribadi maupun angkutan barang terpaksa menepi membentuk antrean kecil.

“Treun lei bang (turun dulu bang), na (ada) pemeriksaan cek suhu badan,” kata sopir.

“Lon bahkan tiap uroe lon lewat dicek sabee (saya bahkan tiap hari lewat selalu dicek),” lanjut Bang Sopir.

Sepertinya dia ingin meyakinkan para penumpang bahwa pemeriksaan tersebut bukan seperti razia KTP merah putih di zaman konflik Aceh berstatus darurat militer.

Dulu, hampir di setiap jalan besar di Aceh ada rintangan atau pos-pos pemeriksaan tentara. Sekarang, pos itu muncul lagi, mengungkit kenangan jameun masa darurat militer.

Dulu, masyarakat diperiksa apakah membawa senjata atau mereka terlibat GAM. Sekarang, mereka diperiksa apakah terpapar corona atau baru pulang dari mana?

Jadi, selama saya hidup dan menjadi rakyat Aceh hingga saat ini, pos-pos seperti itu akan terus ada. Hanya muncul di waktu dan narasi yang berbeda.

Taukah kamu corona itu apa, Bre? Mungkin kalau sampai hari ini kamu belum tau apa itu Corona, ini ada penjelasan singkat dari Bupati Pidie Roni Ahmad atau yang akrab disapa Abusyik.

Kata beliau dalam video yang sempat viral hingga ke nasional kemarin itu, virus corona berasal daripada senjata biologis yang sudah masuk ke dalam ranah teknologi elektronik. Senjata biologis ini digunakan suatu negara ketika rakyatnya sudah membeludak dan tidak ada tempat lagi buat berteduh.

Kalau kamu merasa apa yang beliau sampaikan terlalu berbau coronaspirasi alias konspirasi corona, jangan disebarkan lagi videonya. Cukup berhenti di kamu, Bree.

Semua orang berhak berpendapat. Semua orang juga berhak panik dan pusing di tengah kondisi awut-awutan sekarang ini. Tapi tak semua pendapat boleh di-mamam begitu saja. Dan tak semua panik dan pusing mesti dijawab dengan pusing dan panik yang sama.

Maaf, jika melebar ke mana-mana padahal saya telah turun dari L300 untuk menuju pos pemeriksaan. Tak banyak antrean yang diperiksa hari itu.

Mobil dari arah Bireuen cuma tiga. Paling depan ada pickup Carry dengan dua penumpang. Di belakangnya ada Kijang kapsul, lalu L300 yang kami tumpangi.

Ada enam penumpang Kijang yang diperiksa. Rata-rata suhu badan mereka 36,5 derajat celcius. Setelah itu dipersilakan mengisi identitas diri di buku catatan petugas medis Puskesmas Blang Rakal. Para penumpang ini ternyata orang-orang dari Lhokseumawe.

Saat tiba giliran saya dan penumpang L300 lainnya, suhu badan sopir, saya dan pemuda di samping kiri 35,5 derajat celcius. Kami dipersilakan lewat tanpa mengisi identitas diri.

Baca Juga:Ketika Narkoba Tak Pernah Jadi Musuh Bersama

Saya tak sempat melihat nenek santuy tadi berapa suhu badannya karena sudah langsung naik ke mobil lagi. Tak berapa lama sesudah nenek itu naik, L300 pun tancap gas lagi.

Setelah melewati tikungan Enang-Enang, entah kenapa tiba-tiba tenggorokan agak gatal dan ada rasa ingin batuk. Apakah saya telah menderita psikosomatik karena terlalu banyak membaca berita corona?

Atau karena ikut antrean bersama rombongan penumpang dari Lhokseumawe, kota pertama di Aceh yang memiliki penderita covid-19 dan telah meninggal dunia?

Sebisa mungkin saya mencoba menahannya tapi tak kuasa. Akhirnya, dengan sedikit perjuangan, rasa gatal tenggorokan itu saya lepaskan dalam bentuk batuk yang pelan.

Sebuah deham yang dilepaskan di antara suara orang dan bunyi raungan mesin. Batuk yang tidak rasional, menyiksa diri, dan sangat tidak melegakan.

Suara batuk seharusnya tidak terdengar besar karena teredam oleh masker yang saya pakai. Namun, di antara deru dengung mesin diesel L300, nada batuk saya ternyata masih terdengar sama abang penumpang di sebelah kiri itu.

Padahal volumenya sudah saya stel serendah mungkin pada baris satu. Kok masih terdengar, ya? Saya membatin, sedikit mengutuk batuk yang tak seharusnya muncul saat itu.

Ternyata penumpang sebelah kiri rada waswas dengan batuk ber-stelan low bass saya itu. Padahal, kami terpaut jarak satu kursi kosong yang tak berpenumpang.

Secara aturan physical distancing sudah benar diterapkan dalam angkutan L300 Apa Raja. Hal ini terjadi secara alamiah karena sewanya cuma empat orang. Seorang penumpang lagi menyetop di jalan setelah mobil melewati pos corona dan duduk di ree depan.

Artinya, jarak kami dalam mobil masih sesuai protokol WHO. Tapi, si mahasiswa tersebut dengan sigap mengeluarkan isi tasnya. Coba tebak, kira-kira barang apa yang bakal dikeluarkan?

Sebelum lanjut, yok kita lihat dulu beberapa meme video tentang orang bersin atau tiba-tiba batuk.

Satu lagi.

Sudah ada jawaban belum, Bre?

Bukan semprotan disinfektan. Bukan pula hen swagerneger (maksudnya hand sanitizer).

Yang dikeluarkan oleh masuwa keperawatan itu adalah sarung tangan karet yang biasa dipakai oleh dokter bedah. Dengan cepat dipakainya sarung tersebut ke tangan lalu tangannya dengan sigap memproteksi mulut.

Kejadian itu makin menggoyahkan tenggorokan saya. Saya terpaksa batuk untuk yang kedua kalinya.

Otomatis, anak muda itu makin tegang. Mungkin dalam pikiran dia, saya salah satu ODP yang baru pulang dari negeri jiran Malaysia. Atau juga salah satu warga perantau yang baru mudik dari Jakarta.

Saya mencoba mengambil hikmah saja di balik kejadian ini. Namun, begitu L300 Apa Raja berhenti, tanda saya telah tiba di tempat tujuan, aneuk muda itu makin panik.

Saya tau diri dan memberinya kode agar turun dulu. Tujuannya, supaya ia tak terkena corona yang mungkin saya bawa pulang dari Malaya atau Jakarta. Dia turun dan tetap menjaga jarak.

Luar biasa, pelajaran yang awalnya diberikan WHO sekarang dipatuhi semua warga dunia, baik yang di kota maupun di kampung.

Sekarang, daftar ketakutan kita pun telah bertambah. Kini kita lebih takut pada orang yang batuk dan bersin sembarangan ketimbang singa atau hewan berbahaya lainnya, CMIIW.

Selain itu, seperti cuit teman saya @yudiranda, “saat ini kita sedang berada di era kentut lebih terhormat ketimbang bersin”.

Diperbarui pada ( 3 Maret 2024 )

Facebook Komentar

One thought on “Corona Membuat Kita Lebih Takut Sama Bersin Ketimbang Singa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *