AWAL 2018 dimulai dengan banyak berita heboh. Salah satunya, insiden tertangkapnya istri Wakil Wali Kota Gorontalo, Sherly Jou, menggunakan narkoba. Istri Budi Doku ini ditangkap pada Selasa malam, 2 Januari, di rumah rekannya di Kelurahan Limba, Kecamatan Kota Selatan, Kota Gorontalo. “Ada barang bukti berupa satu buah alat hisap sabu, tiga sachet sabu, korek api gas dan enam handphone,” begitu kata Kepala Badan Narkotika Nasional Gorontalo Brigjen Pol Oneng Subroto, seperti dikutip Breedie dari Viva.

Pak Oneng memastikan Sherly yang kerap tampil berhijab ini bersama temannya itu positif menggunakan narkoba sesuai hasil pemeriksaan urine. Namun, hingga Rabu malam, Sherly dan temannya masih diperiksa polisi.

Wah, kira-kira bagaimana, ya, perasaan Pak Budi Doku mengetahui istrinya “tercyduk” BNN. Pak Budi malam itu, ke mana? Tahun baruan Kok nggak mendampingi istri tercinta? Jangan-jangan Pak Budi lelah tertidur karena seharian bekerja. “Saya memohon maaf, mungkin istri saya khilaf dan ini adalah musibah, Insya Allah ada hikmah di balik peristiwa ini,” kata dia seperti dilansir Tempo.

Padahal, melihat jejak Pak Budi, ia sebenarnya orang kesehatan, lho. Pria kelahiran 6 Mei 1971 ini alumni Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi, Manado. Ia lulus pada 1998 lalu berkarir sebagai dokter di rumah sakit di Manado dan Gorontalo. Setelah itu menjadi kepala Puskesmas.

Di luar itu, ia juga pernah menjadi Wakil Ikatan Dokter Indonesia Gorontalo dan anggota Konsil Kedokteran Indonesia hingga 2011. Saat itu pula, Pak Budi ini terjun ke dunia politik. Ia tercatat menjadi anggota Dewan Pertimbangan Daerah RI daerah pemilihan Gorontalo sejak 2009-2014. Barulah setelahnya menjadi Wakil Wali Kota Gorontalo hingga sekarang. Gorontalo juga ibu kota Provinsi Gorontalo. Kota yang juga sering disebut Hulontalo ini terkenal pula dengan julukan “Kota Serambi Madinah”.

Okelah, Breedie berprasangka baik saja. Kedepankan azas praduga tak bersalah seperti yang dilontarkan Wali Kota Gorontalo Marten Taha. Pak Marten sendiri mengaku prihatin karena istri wakilnya itu tertangkap mengisap narkoba. Padahal, kata Pak Marten, “Kita baru selesai bicara masalah pemberantasan minuman keras dan narkoba. Akhirnya kejadiannya menyangkut orang dalam kita, sebagai wakil ketua TP (Tim Penggerak) PKK.”

Berkaca dari kasus ini, satu hal bisa ditarik: narkoba tak pernah menjadi musuh bersama. Narkoba hanya menjadi musuh beberapa pihak saja. Mungkin Breeders atau orang lain yang keluarganya pernah menjadi korban barang haram itu dan sama-sama konsen ingin memerangi narkoba.

Namun, narkoba tak gampang pula diberantas. Lihatlah kiprah Kolombia dan Amerika Serikat memberantas jaringan perdagangan kokai Pablo Escobar. Butuh belasan tahun hingga akhirnya Si Pablito–julukan lain Escobar–mati pada 1993.

Pemimpin kartel Madellin ini pernah mengontrol 80 persen perdagangan kokain di seluruh dunia. Escobar sendiri mulai masuk ke dunia perdagangan narkotika pada 1973.

Setelah kematian Escobar pun, pasar kokain tak pernah benar-benar mati. Kartel Cali yang menjadi saingan Madellin kemudian mengambil alih bisnis tersebut.

Bisa disebut, pemberantasan narkoba yang dilakukan Amerika itu tak sepenuhnya sukses. Apalagi, pada tahun-tahun itu, Amerika sendiri sedang merancang sebuah hal yang justru bertolak belakang dari kampanye antinarkoba.

Pada 1982, Presiden Ronald Wilson Reagan mendesak kongres agar mendukung program “war on drugs”. Namun, pada saat yang sama, Amerika justru membuat skandal dengan pemberontak Contra di Amerika Tengah.

Amerika bekerjasama dengan mafia narkotika untuk membiayai Contra memerangi pemerintahan sayap kiri Sandinista, pimpinan Daniel Ortega di Nikaragua. Narkoba kemudian dikirim ke Amerika untuk diperdagangkan

Di era Reaganlah, narkotika membanjiri Amerika dengan difasilitasi dan dibekingi secara rahasia oleh CIA dan Pentagon. Ada sekitar 50 persen kokain yang dikonsumsi para pemadat di Amerika.

Skandal itu akhirnya dibongkar oleh Gary Webb, wartawan San Jose Mercury News, sebuah koran kecil di Amerika. Webb memperoleh informasi tersebut dari seorang kekasih bandar narkoba yang bekerja untuk CIA.

Webb sendiri mendapat tekanan luar biasa setelah tulisannya itu diterbitkan. Ia bahkan dipaksa mundur dari tempatnya bekerja. Pada 10 Desember 2004, ia ditemukan sudah tak bernyawa. Polisi menyebutnya bunuh diri dengan dua tembakan di kepalanya. Kisah ini juga dituangkan dalam film Kill The Messenger yang dibintangi Jeremy Renner.

Cerita tersebut lagi-lagi mengingatkan betapa sulitnya narkoba diberantas. Negara, sampai kapan pun tak akan sanggup. Narkoba akan terus mengalir deras ke negeri ini. Ketika negara mengajak rakyat untuk sepakat memberantas narkoba, di situ seharusnya diakui, ini tak mungkin dilakukan. Jika pun mungkin, butuh bertahun-tahun lamanya.

Kasus Sherly, sebagai orang di tampuk atas sebuah pemerintahan, pihak yang harusnya paling getol memberantas narkoba untuk menjaga rakyatnya, malah melanggar hal tersebut. Pertanyaannya, selain Sherly siapa saja pejabat negara yang juga mengonsumsi narkoba. Ketika ketidakjujuran ini tak pernah diakui, maka suatu saat kita juga harus menerima dengan lapang dada satu demi satu generasi Indonesia akan hancur karena narkoba. Indonesia Darurat Narkoba? Terus kita harus bilang, wow, gitu?

Komentar

Komentar