Lahir Sebagai Dinas Kominfotik, Besarnya Jadi Menkominfo, Dong!

#Editorial

~ Panggil Aku DINKO!

Adalah Pak Slamet Wahyudi yang berdomisili di Brebes, Jawa Tengah, nekat menamai bayinya yang baru lahir dengan nama Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik yang, kalau tak keberatan, boleh disingkat dengan Diskominfotik.

Secara kedinasan, ini adalah nama lembaga pemerintah yang mengurus bidang Komunikasi, Informatika, dan Statistik. Tapi di tangan Pak Slamet, nama ini sepertinya sangat bertuah. Dan cocok dilekatkan pada nama buah hatinya.

Usut punya usut, ternyata nama tersebut hasil buah nazar Pak Slamet. Dilansir Kompas.com, Rabu, 7 April 2021, Pak Slamet merupakan ASN alias Aparatur Sipil Negara yang mengabdi di Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik Kabupaten Brebes. Beliaw mengabdi di dinas ini sejak honorer hingga menjadi PNS. Selama 18 tahun pengabdian, lembaga tersebut menjadi sumber kehidupan bagi keluarga Pak Slamet.

Jadi, sepertinya Pak Slamet merasa perlu memberikan penghargaan kepada kantornya sekaligus sebagai sebuah bentuk kebanggaan bagi ia pribadi. Sebelum sang istri tercinta, Ririn Linda Tunggal Sari melahirkan, Pak Slamet bernazar akan memberikan nama pada calon bayinya.

“Nama panggilannya Dinko,” jelas Pak Slamet. Kalau Dinko, kesannya keren, Pak. Tapi akan lain rasanya ketika anak Bapak nanti ditanyakan nama lengkapnya.

Namun, apa yang dilakukan Pak Slamet patut diberikan jempol banyak-banyak, mulai dari jempol tangan sampai jempol kaki. Pasalnya, jarang-jarang kita menemukan orang tua macam beliaw. Jarang-jarang pula kita menemukan PNS—salah kasta tertinggi dalam status sosial masyarakat Indonesia—yang sangat bangga akan tempat kerjanya. Jiwa korsa PNS Pak Slamet—mengutip kata Pak Ndul—memang sangat core of the core.

Baca Juga: Wawancara dengan Pelaku Sejarah Perjuangan Tes CPNS

Ayah dan Ibu Indonesia (cie, macam bahasa propaganda aja) pada umumnya lebih suka menyematkan nama-nama baik plus keren pada anak-anaknya. Misalnya, mulai dari nama-nama islami, sedikit berbau nama artis, atau mencomot nama-nama pemain sepak bola.

Tapi Pak Slamet beda, beliaw bersedia keluar dari pakem dan mengambil jalan sedikit “melenceng” dari kebiasan Ayah Ibu Indonesia.

Mungkin, terlepas dari nazar, Pak Slamet paham sebagai mantan penyiar radio yang open minded terhadap isu-isu kekinian, beliaw perlu menghibur penduduk Indonesia yang tengah kusut masai dibalut pandemi.

Saat corona masih berkecamuk busuk tanpa menunjukkan tanda-tanda kapan off, Pak Slamet melontarkan isu agar kita setidaknya terpingkal sejenak. Pak Slamet tahu, “ulahnya” itu akan diliput media-media arus utama ibu kota selayaknya Kompas. Dan karena ini zaman edan viral, isu-isu demikian akan gampang dilahap banyak netizen yang haus bahan gibah.

Dan terbukti, kita sekarang dapat sejenak melupakan pil pahit wabah karena terhibur oleh “konten” yang dibuat Pak Slamet.

Ya sih, Pak, sejauh ini cukup menghibur. Tapi mungkin Pak Slamet lupa ingat bahwa di negara +62 ini, konten-konten seperti itu tak hanya membuat orang tertawa tapi juga mengoloknya. Lebih tepatnya mem-bully.

Baca Juga: Reportase dari Dundee, Skotlandia: Melihat Cara Inggris Menghadapi Corona

Nama bagus saja—yang ketika lahir si anak, seekor kambing dipotong oleh Mak Bapaknya untuk merayakan—bisa jadi bahan ejekan. Konon lagi sebuah nama yang selama puluhan tahun disandang oleh sebuah institusi kedinasan.

Pak Slamet sudah pasti paham betul akan hal itu. Dan dia sudah menyiapkan aneka tips untuk menepis setiap rundungan yang akan datang pada anaknya kelak. Sebagai orang tua, itu juga menjadi hak Pak Slamet untuk melakukannya.

Selain itu, kita positif pikir saja dan berdoa semoga kelak anaknya Pak Slamet menjadi Menkominfo. Iya dong, Bree, dari lahir udah “kepala dinas” besarnya minimal jadi menteri. Ini bukan mengejek, lho, Pak, tapi doa. Iya kan Dinko?

KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here