~ Kritiklah lewat Fehbuk, supaya kritik itu menggema 

Bung Cupa, apakabar, semoga Anda selalu jroh, sehat walafiat. Saya ngeri-ngeri sedap menghayati tulisan Anda tempo hari di Breedie. Saya seperti kena hook di ulu hati setelah di-jab di pelipis. Pukulan Anda telak betul. Tapi saya belum KO, kok. Karena itu saya menulis ini untuk membalas poh sampeng tersebut. Tenang, saya tidak akan menggugat Anda. Karena, kalau itu saya lakukan, Breedie ini akan ikut tenar. Trik marketing yang luar biasa.

Bung panggil saja saya aktivih, bukan aktivis. Aktivih lebih keacehan, diucapkan dengan lidah lokal.

Bung Cupa tahu tidak, saya sudah lama berkecimpung di dunia cinta taman. Taman adalah tempat di mana kita bisa sejenak bersantai dari hiruk-pikuk dunia yang sibuk ini. Di taman kita bisa melihat kupu-kupu terbang, rimbunnya pepohonan, dan hijaunya rerumputan. Bung tentu pernah ke taman, kan? Silakan tambahkan sendiri kelebihan-kelebihan dari taman.

Karenanya, saya tidak bisa bayangkan jika taman-taman rusak. Akan ke mana kita umat manusia ini, human kind, berdiwana? Maukah kita berwisata ke pabrik, lokasi tambang, atau tempat peluncuran nuklir?

Sebagian orang mungkin suka tapi saya tidak. Alasan udara yang jernih hanya ada di taman itu menjadi sebab utama.

Apalagi, taman yang sekarang menjadi punca keributan–Anda tuduh saya sebagai pemicu–adalah taman leluhur kita. Di situ segala hal tentang sejarah nenek moyang kita terpajang. Tapi lihat apa yang terjadi. Kerusakan demi kerusakan terjadi di sana.

Jangankan taman leluhur, taman biasa saja jika rusak saya akan protes semampunya. Saya memang tidak mampu menggalang demo berjilid-jilid, Bung. Saya tidak piawai mengumpulkan massa lalu merancang agitasi dan propaganda, black campaign, dan sebagainya. Saya cuma bisa protes lewat Fehbuk, media sosial yang begitu digemari orang-orang kita di Negeri Antah Berantah.

Kenapa Fehbuk, ya karena medsos ini sudah jadi bahan utama mencari info. Resep masakan ada di sana, video lucu, orang mati berdarah, hoax, rekaman pencurian, fitnah, promosi, semua berjubel. Fehbuk jadi rujukan semua orang. Bahkan media-media mainstream yang dulu jaim tak mau mengutip Fehbuk sekarang kok buat berita bahannya dari situ.

Jadi, saya gunakan Fehbuk karena lebih murah biayanya, Bung. Zaman sekarang ini aktivih macam saya kalau demo-demo di jalanan mikir dulu. Duit logistik yang ada mending untuk traktir teman-teman atau beli buku saja. Demo di jalan itu ribet. Perlu ngumpulin orang, urus izin keamanan, terus undang media untuk meliput. Kan lucu Bung, abis teriak-teriak di pinggir jalan, masuk koran pun tidak.

Kalau Bung Cupa nggak paham, nanti saya terangkan lagi.

Tangan lebih cepat dari otak itu sebenarnya jauh panggang dari kobokan.

Di Fehbuk, saya tinggal buat status yang mengkritik tentang taman leluhur lalu orang-orang akan datang mengomentari. Entah pedas entah tawar komentar itu saya biarkan saja. Walaupun saya giring ke arah tertentu hanya sebagai bumbu-bumbu. Kalau ada yang teumeunak, ya, biarkan sajalah Bung, kan yang dosa mereka juga. Saya tak bisa urus mulut orang. Lagipula ini era demokrasi, waktunya orang bebas bicara.

Ketika banyak orang berkomentar, otomatis akan terlihat dua kubu. Mendukung saya atau sebaliknya seperti kelakukan para sheriff itu. Lihatlah, betapa Bung membela mereka. Padahal, mereka jelas-jelas bertugas dan digaji untuk itu. Kalau memang alasannya taman leluhur begitu luas, ya pakai caralah, Pak, supaya kerusakaannya tidak menjalar. Mereka itu abdi Negeri Antah Berantah, jangan mulut dipakai ngeluh saja. Kalau tidak sanggup, ya, mundur.

Sebagai orang luar yang mendudukkan diri sebagai pengkritik, saya tentu pengennya tau beres. Itu wajar, dong. Teman-teman Sheriff harusnya paham. Bukan malah defensif dan menyerang balik saya. Akui dong kesalahan lalu perbaiki ke depan.

Seperti yang Bung tulis soal kegelisahan Pemimpin Antah Berantah, semua orang kemudian ribut gara-gara status saya. Saya tidak bangga soal itu karena sosmed memang punya efek revolusi luar biasa. Tapi Bung Cupa kok bisa tau, pemimpin kita gelisah? Jangan-jangan Bung orang dalam?

Jika pemimpin gelisah dan bertanya kenapa saya tidak melaporkan kerusakan taman lewat hotline atau instansi berwenang, pertanyaan saya cuma satu. Apa iya laporan itu akan diteruskan ke pimpinan? Sebelumnya sudah pernah kejadian, laporan saya cuma masuk tong sampah. Jadi buat apa saya melakukan hal itu lagi, kan buang-buang waktu?

Terus, waktu pemimpin meminta lembaga meriset soal keributan di Fehbuk itu sebenarnya salah kaprah, Bung. Yang perlu diteliti itu kerusakan di taman leluhur. Apa sebabnya dan solusi apa untuk memperbaiki dan mencegahnya agar di masa depan tak terjadi lagi.

Kalau yang diteliti tentang ribut di Fehbuk lalu hasilnya tangan lebih cepat dari otak itu sebenarnya jauh panggang dari kobokan. Yang perlu dibuktikan, benar tidak cakap saya soal kerusakaan taman leluhur. Apakah bukti-bukti saya itu valid? Jika tidak benar, silakan gantung saya di taman itu.

[Shiba Adzra]

Komentar

Komentar