Google akhirnya memutuskan menutup Google+ (G+) atau Google plus plus. Hal ini dilakukan karena Google galau melihat perkembangan media sosial tersebut kurang diminati pengguna.

Ketimbang aplikasi tersebut ibarat mati segan hidup tak mau, Google akhirnya melakukan hal yang tidak mau disangka kebanyakan orang. Ya iyalah, untuk apa juga capek-capek memikirkan tindakan Google.

Lewat keterangan tertulis, Google mengatakan keputusan menghentikan layanan tersebut sudah dipikirkan matang-matang sejak Desember 2018. Selain alasan rendahnya penggunaan, Google juga membahasakannya sebagai ‘rendahnya tantangan’. Entah apa maksudnya.

Alasan yang lebih masuk akal mungkin karena adanya celah keamanan atau bug di media sosial tersebut. Akibatnya, 500 ribu data pribadi pengguna mulai dari nama, email, pekerjaan, jenis kelamin, umur, dan lain-lain, terekspos. Insiden keamanan ini sudah terjadi selama tiga tahun, sejak 2015 hingga Maret 2018 tapi Google baru mengumumkannya Oktober tahun lalu.

Jadi, terlepas dari itu, sejak 2 April akun Google+ dan semua halaman Google+ akan dihentikan. “Kami akan mulai menghapus konten dari akun Google+ konsumen. Foto dan video dari Google+ di Arsip Album dan halaman Google+ juga akan dihapus,” ujar Google.

Nah, pengguna yang sudah terlanjur menjadikan Google+ sebagai tempat meletakkan “sesuatu”, sebaiknya bergegas mengunduh dan menyimpan konten sebelum April. Mulai awal Maret, data termasuk penulis, isi, dan foto dari setiap postingan komunitas di komunitas publik sudah dapat diunduh. Namun, bagi pelanggan G Suite, Google+ untuk akun G Suite akan tetap aktif.

Ditutupnya Google+ ini tidak menimbulkan reaksi sedih bahkan aneh dari pengguna sejauh yang kami tahu. Bahkan, CEO Breedie M Fauzan Yusuf bergembira. “Kerja share [artikel] jadi berkurang karena berkurang satu medsos. Nggak capek harus mikirin share lagi.” 😀

Komentar

Komentar