Sahur Stories: Mengigau

Terbangun pukul 10 malam setelah tertidur sebentar. Buru-buru, pakai baju, engkol honda, saya mendapati diri sudah ada di jalanan, yang remang oleh lampu-lampu.

Di warung kopi depan kantor polisi, honda saya hentikan lalu cagak satu. Masuk ke warung, pesan mi rebus.

Ini warung langganan. Mi rebusnya enak jika diukur dengan versi pesanan saya yang sederhana: tanpa toge dan kol, plus disertai telur mata sapi setengah matang yang agak hangus pinggirnya.

Mungkin sekarang saya sedang mengigau. Ingin makan mi rebus karena hampir sebulan lamanya mulut dijajah mi caluek, mi urap, mi pecal, dan mi-mi sebangsanya yang gigih menguasai per-takjil-an.

Lidah saya bermimpi mencicipi mi rebus yang di atasnya terconggok telur mata sapi dengan kuning yang tidak sekuning bendera partai. Yang ada acarnya. Yang pedas dengan kuah gurih nan kental.

Sepintas, ini layaknya hari-hari biasa di bulan-bulan yang lewat. Ketika seteguk kopi hitam pancung lewat di tenggorokan baru teringat kalau ini masih musim corona. Covid19 dan WHO masih jadi trending topik dunia.

Alamak, saya tak bawa masker pula. Di depan warung tidak ada guci air untuk cuci tangan. Tak ada pula hand sanitizer.

Bagaimana kalau ada razia? Bisa-bisa saya dideportasi keluar daerah. Dan orang-orang sekampung akan malu punya tetangga bebal macam saya.

Entahlah, saya cuma mau makan mi rebus tanpa bermaksud ingin jadi bebal. Ini mi rebus yang datang lewat mimpi kesekian untuk menghalau saya ke igauan berikutnya.

Mi rebus itu habis dalam hitungan menit. Hanya beberapa mililiter kuahnya yang tersisa sebagai tanda kalau saya bukan insan yang rakus-rakus amat.

Saya foto sisa kuah itu beserta sendok dan garpu yang tertelungkup di atasnya. Sebagai bukti dan kenang-kenangan kalau saya sedang tidak berada di fase halu.

Saya sudah kenyang sekarang. Waktunya membayar. Untunglah anggaran tersedia, biarpun te-ha-er belum cair. Entah siapa juga yang sudi memberi saya te-ha-er di tengah musim corona begini.

Di sisi lain, saya bersyukur harga mi rebus masih terjangkau kantong. Semoga jenama ternama macam Supreme tak tergoda untuk berkolaborasi dengan mi rebus, seperti yang dilakukannya terhadap Oreo.

Bila itu terjadi, bisa saudara bayangkan kelak berapa harga sepiring mi rebus. Dan bayangkan juga, betapa tak berharganya uang sepuluh ribu di kantong kita.

Sembari saudara membayangkan dua hal itu, saya minta izin ke belakang dulu. Saya mau membuang igauan tak pantas ini ke tempat yang pantas.

KOMENTAR


Dapatkan beragam artikel dari majalah online Breedie langsung melalui email Anda.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here