Sahur Stories: Mi Dadak

Salah satu makanan sahur paling menggemaskan. Segemas-gemasnya anak kucing masihlah gemas mi dadak ini.

Walaupun shef Farah Quin pernah menegaskan mi dadak tak membikin halu lama kenyang tapi inilah salah satu “helper food” yang telah menyelamatkan banyak perut.

Terutama sekali untuk warga indekos saat bulan puasa di musim lockdown di zaman corona.

Selain harganya ramah di kantong, mi dadak sangat berguna saat sahur tinggal sejengkal dari garis edar.

Selain cepat saji, mi dadak bisa cepat dimakan dan membuat perut kenyang seketika.

Konon, sebagian ahli gizi meragukan mi dadak karena berisiko menimbulkan penyakit. Tapi, kalau sahurmu telah di ujung tanduk tak perlulah kau terlalu memikirkan hal itu.

Lagipula, mi dadak bergizi, kok. Kalau punya waktu banyak, sila cek kemasannya. Di sana tertera informasi nilai gizi.

Berapa asupan energi yang disuplai dari setiap bungkusnya. Berapa persentase vitamin A hingga B12. Hingga berapa jumlah niasin, asam folat, asam pantonenat, dan zat besi juga tertera.

Setelah itu, kalau matamu teliti, pastilah akan tiba di bagian cara penyajian.

Tentu kau bertanya-tanya, kenapa mata harus digiring ke situ? Tak lain untuk menambah nilai estetikamu dalam menyajikan mi dadak.

Ketika memakai sebuah produk, janganlah sesekali memalingkan mata dari petunjuk dan penggunaan supaya terbebas dari salah guna bahkan cilaka.

Di petunjuk penyajian ada cara memasak mi secara konvensional__yang telah melewati proses uji coba di lab__yang kita semua telah tahu karena pernah membacanya.

Namun, baru-baru ini saya kaget ketika membaca petunjuk penyajian dari sebuah varian mi dadak. Sebut saja dia indomie mi goreng.

Terdapat dua cara menyajikan. Satu cara umum yang telah saya maupun kita sebagai penikmat mi dadak amalkan sejak dulu kala.

Cara kedua, ini yang bikin kening sedikit mengkerut. Mi dadak disajikan dengan microwave.

Hmm, mungkin saya kurang update. Sejak kapan microwave dilibatkan dalam urusan per-masa-kan mi dadak? Apakah ini sebuah gejala revolusi industri 4.0 yang mendadak merasuki diri produsen mi dadak?

Microwave lebih hi-tech dibandingkan kompor. Tidak semua penikmat mi instan punya microwave.

Kalau ada mungkin cuma segelintir orang kaya yang sesekali ingin tampak miskin agar mendapat jatah bantuan sosial.

Masyarakat indekos mana punya microwave? Punya kompor hock saja sudah sebuah kehedonisan luar biasa.

Ah, mungkin itu dulu, anak kosan sekarang pasti sudah pakai kompor bertabung gas buah melon. Tapi microwave? Apa itu microwave?

Hadirnya microwave dalam penyajian mi dadak seolah menafikan fungsi dispenser yang menjadi alat kebanggaan masyarakat indekosan.

Air panas yang selama ini telah berliter-liter habis untuk merebus mi dadak seolah tak berarti.

Selain itu, kemunculan microwave seolah menyiratkan makanan instan ini akan dimasukkan ke dalam daftar pangan bagi golongan menengah atas.

Mungkin ini selaras dengan spekulasi seorang tetangga saya yang gemar teori konspirasi. Ke depan, kata dia, dunia kian gawat. Tak lama lagi kita akan kembali ke zaman old di mana pangan terbatas dan sulit dicari.

Mungkin, di saat itulah mi dadak akan menjadi makanan mewah. Hanya boleh dimakan oleh orang kaya, dinaikkan gengsinya, dan disajikan di resto bintang lima michelin.

Bila itu yang terjadi, masyarakat indekos akan kehilangan pangan terpenting dalam hidupnya. Setelah itu, makanan sahur paling menggemaskan yang lebih suka kita sebut mi instan itu pun akan wassalam selamanya dari daftar menu. Semoga ini cuma halu.

KOMENTAR


Dapatkan beragam artikel dari majalah online Breedie langsung melalui email Anda.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here