Menulislah dengan Idemu, Jelek pun Tak Apa, Jangan Copas Punya Tetanggamu!

#Editorial ~ Punya tetangga kadang emang lebih gurih

Bulan ini, sebuah tulisan “kesasar” ke kotak spam email Breedie. Sumringah, dong, pastinya. Jarang-jarang ada orang yang mau mengirim tulisannya ke blog yang kurang terkenal ini.

Setelah membaca sejenak, si redaktur mencari judul tulisan itu di Google. Pengen tau aja, apakah tulisan itu masih original atau sudah dimuat di tempat lain.

Sejauh ini sebisa mungkin Breedie menghindari memuat artikel yang telah pernah tayang di media/blog lain, agar terbebas dari duplikasi konten. Kalaupun terpaksa tayang, siaran pers, misalnya, tulisan itu akan dipoles dengan gaya Breedie yang cantik rupawan, agar berbeda setidaknya 50 persen dari asli.

Di Google, semua tampak baik-baik saja. Tidak ada judul tulisan itu yang muncul di tempat lain. “Kayaknya oke punya ni tulisan,” pikir si redaktur sambil menyeruput kopi hitamnya yang pahit.

Maka, dengan hati yang berbunga-bunga dia kemudian mengedit tulisan itu. Baik tanda baca, maupun mencoba memparafrasekan beberapa kalimat yang dianggap tabu dan layak diperbincangkan.

Padahal, dia telah abai satu perkara penting dalam urusan cek-ricek keaslian tulisan. Selain judul, dia seharusnya mengecek isi tulisan itu, setidaknya satu paragraf, ke kotak pencarian Google, untuk menemukan duplikasi artikel. Karena itu, di tengah keasyikan mengedit, di paragraf kelima, dia berhenti di sebuah kalimat.

Baca Juga: Bingung Mencari Tempat Terbaik untuk Menulis? Di Kamar Mandi Saja

Kalimat itu menarik. Sepertinya si redaktur tak pernah menemukan kalimat itu sebelumnya. Untuk memastikan apakah itu betul-betul baru, dia pun menyalin dan meletakkannya di Google. Setelah tab enter ditekan, layu sudah bunga-bunga celosia yang baru saja bermekaran di hatinya.

Ternyata kalimat itu muncul di beberapa postingan blog lain. Setelah ditelisik, penulisnya berbeda dengan si pengirim artikel ke email Breedie. Apakah yang mengirim artikel ke Breedie menjiplak tulisan tersebut? Ataukah memang tulisan itu milik si pengirim tapi sudah duluan diposting di blog tersebut?

Dua pertanyaan ini sudah cukup membuat si redaktur mules. Dan, dia buru-buru ke kamar mandi untuk berak. Sudah nggak kuat soalnya.

Ini bukan kali pertama Breedie menerima sedekah tulisan yang berbau plagiat atau sudah tayang di blog lain. Padahal, blog receh ini selalu terbuka untuk menerima tulisan yang idenya ringan-ringan saja. Tidak perlu yang wah-wah karena kami yakin semua orang bisa menulis. Selain juga tak mampu membayar honornya kecuali dengan segelas kopi hehehe…

Perkara copas mengcopas tulisan mengingatkan kami pada kejadian baru-baru ini. Sebuah tulisan di media milik seorang teman diambil media lain. Menurut sang teman, artikel sejarah yang dibuatnya setelah bertapa 7 hari 7 malam melakukan riset mendalam, diambil sekenanya tanpa izin, hanya beberapa hari setelah tayang.

Baca Juga: Menemukan Mood Menulis Agar Diri Ini Tak Menjelma Kecambah

Selain tidak permisi, media tersebut memuat artikel itu secara utuh bulat-bulat layaknya taik kambing yang baru diberakin. Tidak juga menyertakan backlink untuk menunjukkan ke Google dari mana asal tulisan tersebut.

Apesnya lagi, karena media sang teman umurnya sejagung, ketika kata kunci dari artikel itu dicari ke Google, yang muncul malah tulisan dari media pengopas tersebut. Artikel aslinya malah tenggelam ke jurang terdalam pencarian Google.

Walhasil, teman kami itu ngamuk-ngamuk. Untungnya, perkara ini bisa diselesaikan dengan diturunkannya artikel tersebut dari media pengopas tadi.

Mencomot artikel secara bulat-bulat barangkali sepele. Tapi dampak yang dirasakan si penulis aslinya tentulah tidak demikian. Hatinya bisa berdarah-darah. Kerja kerasnya tidak ada yang menghargai. Karena itu, saran kami, menulislah dengan pikiranmu sendiri. Jelek pun tak apa. Asalkan, jangan copas punya tetanggamu, kasihan dia, biarpun rumputnya lebih hijau. Makanya, rumputmu dipupuk dan dirawat, dong!

KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here