Menemukan Mood Menulis Agar Diri Ini Tak Menjelma Kecambah

~ Ilmu itu liar, catatan adalah tali kekangnya…itu benar adanya

Ketika bertemu dengan seorang tokoh atau orang besar, lebih tepatnya mereka yang produktif pada bidang literasi, acap kali, sekilas saya juga ingin melakukan hal yang sama seperti mereka lakukan.

Apalagi ketika membahas suatu fenomena terkini, kemudian dilanjutkan dengan berdiskusi, di situ ingin rasanya saya menjadikan materi diskusi tersebut menjadi sebuah tulisan yang apik. Belum lagi si teman diskusi ini terkadang melemparkan sebuah topik yang urgen dan keren.

Ya, sebegitunya seakan-akan banyak hal yang ingin saya tuangkan melalui pena ketika merasakan hal tersebut. Akan tetapi, saat ide itu saya bawa pulang, ia pun berceceran di jalanan. Dan, pada akhirnya, mood untuk menulis itu pun hilang.

Nah, pada saat seperti itu juga saya berpikir, menyesal, dan menyadari karena saya tak pernah mencatat ide yang (konon) terlahir cemerlang. Mungkin saya menganggap itu hanyalah sekadar omongan untuk pemolek momen pertemuan saya dengan tokoh atau lawan bicara.

Padahal, komunikasi dan interaksi merupakan cara kita mendapatkan sekaligus menyerap informasi atau berita. Lebih tepatnya juga jika dianalisa secara mendalam akan menjadi sebuah pengetahuan baru bagi saya sendiri.

Hal yang sudah saya utarakan di atas masih sering terjadi pada diri saya sampai hari ini. Padahal saya bergelut di bidang literasi, lebih tepatnya pewarta berita. Namun, ketika ingin mencoba menulis sebuah model tulisan lainnya, seperti opini atau pendapat yang lebih renyah dibaca, saya buntu memikirkan ide tersebut.

Ibaratnya saya sudah terlanjur membawa air bersih dalam galon tapi di tengah jalan galon itu bocor—dan saya pikir air itu bisa didapatkan di mana-mana, tapi air bersih yang bisa diminum tentu tak bisa ditemukan dengan mudah.

Hal itu terjadi juga ketika saya dituntut pada sebuah tugas untuk menulis sebuah artikel. Terpaksa saya harus memutar otak kanan dan kiri lalu menuangkan ide apa saja untuk memenuhi tuntutan tersebut.

Baca Juga: Bingung Mencari Tempat Terbaik untuk Menulis? Di Kamar Mandi Saja

Seperti yang lainnya juga, menulis merupakan sesuatu yang harus dipelajari. Kita diajari menulis mungkin sejak berada di bangku sekolah dasar. Tapi untuk memperdalam keilmuan menulis itu sendiri butuh proses, teknik, bahkan waktu yang panjang. Tentunya juga perlu dibimbing oleh guru, mentor atau siapa saja.

Saya sendiri mulai memahami dan ikut berkontribusi sekaligus belajar memperdalam teknik penulisan ketika pertama kali bergabung pada sebuah media mainstream di Aceh. Saat itu kami dituntut untuk menulis beragam model berita, mulai dari straight news, features, dan lain sebagainya.

Para mentor saya waktu itu bisa dibilang bukanlah mentor abal-abal. Mereka adalah orang-orang yang memiliki keilmuan dan pengalaman bahkan sudah melahirkan beberapa karya yang diproduksi berdasarkan buah pikir dan keahliannya masing-masing, khususnya pada bidang literasi.

Mulai saat itu sempat terlintas dalam pikiran saya, jika saya sungguh dan tekun di bidang ini, tentu saja saya juga bisa seperti mereka. Walhasil saya pun mencoba, mendengar, dan bertanya pada mentor-mentor ini. Mereka terus memberi dukungan agar saya tak berhenti menulis.

Beberapa tulisan yang saya tulis, mereka edit dan sempurnakan serta layak untuk dibaca. Mulanya komentar terhadap tulisan yang saya tulis biasa-biasa saja, ada yang diubah dari A-Z hingga perlu ditulis ulang.

Namun, seiring berjalannya waktu, mereka terus menuntun saya agar memperbaiki skill menulis. Mulai dari mengoreksi bahasa dasar tulisan, kata, kalimat, titik, dan koma hingga menarasikan sebuah perkataan dan pendapat narasumber ke dalam sebuah tulisan, sampai membaca ulang berkali-kali agar paham dan menemukan di mana letak kesalahannya.

Walhasil sampai hari ini saya terus melakukan apa yang selalu diajarkan oleh mentor-mentor saya ketika menulis sebuah tulisan atau artikel.

Namun, sebagai manusia normal saya tak ingin berprinsip seperti kecambah: tumbuh bagus tapi berumur pendek. Saya tak ingin berada pada fase-fase ini saja, saya juga ingin meng-upgrade kualitas tulisan saya.

Namun, hal yang ingin saya lakukan untuk meng-upgrade tulisan tak kunjung pernah saya lakukan. Sampai rasa jenuh dan bosan pun melanda. Ketika berada pada posisi berjumpa dengan para penulis, semangat itu datang kembali, timbul dan tenggelam seperti boh ara hanyot.

Baca Juga: Beberapa Tips yang Kece Badai untuk Penulis Hantu

Harapan kepada pembaca tulisan saya ini, khususnya para penulis dan mentor, jangan berhenti untuk terus membimbing, mengoreksi, dan memberikan masukan serta menjelaskan kesalahan-kesalahan yang ada pada tulisan saya ini. Bagi saya, setetes ilmu yang Anda berikan sangat berarti.

Dan semoga, perkataan yang saya tulis ini juga tidak tumpah ruah di jalan nantinya. Karena tulisan adalah bentuk memori yang tidak akan hilang, sebelum bumi ikut menghilang. Lihat saja apa yang ditulis oleh moyang kita terdahulu, nyatanya sampai hari masih banyak ditemukan dan diingat, kecuali bagi yang sudah hancur atau fana.

KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here