BIVAK Emperom, tempat kawan-kawan aktivis Komunitas Kanot Bu (KKB) bergiat, bukan sekadar tempat untuk berkumpul dan ber ha ha hi hi. Lebih dari itu, ia adalah ruang tanpa batas yang mengantarkan kita pada kumpulan imajinasi lintas dimensi. Semua benda yang ada di bivak ini seperti memiliki ruh dan energi, yang mau tak mau memaksa mereka yang datang untuk (pura-pura) kreatif.

Pemilihan nama ‘bivak’ sendiri untuk disandingkan dengan Emperom, nama sebuah kampung di pinggiran Kota Banda Aceh, sudah cukup representatif untuk memantik ruang imajinasi kita. Pun nama ‘Kanot Bu’ yang secara harfiah berarti ‘periuk nasik’, secara tersirat bisa dimaknakan sebagai sebuah ruang untuk mengolah berbagai ide dan kreativitas, sehingga layak disajikan kepada para penikmat. Apa pun wujud dan rupanya.

Tak heran, bekas botol air mineral yang teronggok kaku di Bivak Emperom pun seolah-olah memiliki pancaindera. Pun rerumputannya, bingkai-bingkai berisi torehan yang abstrak maupun realis, dinding-dinding bermotifnya, kuas yang terserak, atau cat yang meleleh di lantai. Semua memiliki kisah yang patut kita dengarkan dengan intuisi.

Petang itu, 21 Januari 2018, aku menemui Idrus Bin Harun di Bivak Emperom. Kami sudah janjian sebelumnya. Aku tiba ketika Matahari sudah bungkuk benar. Hanya menunggu beberapa saat saja sebelum ia benar-benar terkapar dan hilang diterkam waktu. Kedatanganku disambut tembok-tembok bermotif yang terkesan dingin, namun menyimpan kehangatan yang lebih hangat dari uap kopi sekalipun.

Setelah memarkirkan sepeda bermesinku, kutekan tombol sembarang di kepalaku. Seketika imajinasiku ikut bergerak. Dalam liar khayalku, tembok-tembok itu terlihat bagai gurita raksasa. Yang membuka juluran tentakelnya begitu melihatku datang. Menggiringku mengikuti jalan setapak berbatu yang membawaku pada jantung singgasananya. Di sana Idrus tampak tak lebih dari seonggok patung untuk melengkapi dimensi tersebut. Syukurlah, begitu menyadari kedatanganku, dan begitu aku menyapanya, ia langsung mendongakkan kepala. Ia berhenti sebentar dari membuat gambar seseorang yang celananya melorot sembari duduk di atas kompor minyak.

Idrus yang dalam wujud aslinya bersenjatakan kuas dan segala perangkatnya, adalah organ inti dari KKB. Dia adalah gerbang yang membawaku berkenalan dengan Reza Mustafa, Fuadi Keulayu, dan anggota KKB lainnya. Sesungguhnya, antara aku dan Idrus punya cerita lama yang belum selesai. Dan kedatanganku kali ini adalah untuk menyelesaikan cerita yang tertunda itu. Pun dengan Reza, kami juga pernah punya sekeping cerita yang begitu konyol untuk dituliskan. Di sebuah siang, di bawah terik, kami pernah sama-sama bloon di hadapan petugas berseragam yang sedang razia kelengkapan surat-surat kendaraan.

Pekan sebelumnya aku mengirimkan sepotong pesan pendek tanpa basa-basi kepada Idrus yang rambutnya gondrong. Padahal, tanpa rambut yang gondrong pun, ia sudah tampak sebagai seniman sejati.

“Mmm… bisa nggak note-note aku di blog diterbitkan Tansopakoe?” (Tansopakoe adalah penerbitan indie Kanot Bu)

“Sudah dikumpulkan naskahnya dalam Word?”

“Sudah. Ada beberapa yang belum.”

“Kumpulkan. Print out. Bawa ke Kanot Bu, kita bahas sama kawan-kawan.”

“Soon ya..”

“Jangan berbulan-bulan.”

“Ha ha ha. Enggak. Kan itu aku bilang soon.”

Bermodalkan percakapan singkat itu, energi dan ruh Bivak Emperom memanggilku. Aku datang dengan berpuluh-puluh naskah yang sudah tercetak. Untuk kutunjukkan kepada Idrus. Belakangan muncul Agus Fernanda dan dua rekannya yang baru pulang mencari kopi dan siomay. Belakangan lagi muncul Reza yang baru bangun dari tidur. Semakin lengkap dan ramailah pergunjingan tentang buku itu. Walaupun, jika kami mau jujur, lebih banyak menggunjingkan tentang Steemit.

Mengapa Steemit penting dan harus kami sertakan untuk digunjingkan? Karena untuk situasi saat ini, hanya Steemit yang bisa kami andalkan untuk ‘mencarikan’ dana, demi terwujudnya buku yang sudah lama aku idam-idamkan ini. Saat menyebut nama Steemit, aku malah terbayang pada sosok Alva Sagala yang atletis, penuh semangat, cerdas, dan seorang pialang saham di jantung Kota New York sana. Wajar jika aku mengandalkannya bukan? Dan terhitung sejak postingan ini, berapa pun reward yang kudapat dari tulisan-tulisanku, akan kujadikan modal untuk menerbitkan buku tersebut. Hingga jumlahnya cukup.

Masih segar dalam ingatanku torehan lisan Kak Mariska Lubis pekan sebelumnya, yang secara eksplisit mengatakan, apa yang kita peroleh di Steemit bisa kita subsidi untuk menerbitkan buku-buku kita di alam nyata. Dengan cara ini kita tak perlu menggadaikan apa pun bentuk idealisme kita demi mewujudkan rupa anak-anak imajinasi kita.

Waktu bersalin gelap, kami masih tetap duduk di bangku yang sama. Di jantung singgasana gurita raksasa dengan tentakel yang dingin sekaligus hangat. Tembok-tembok bermotif aneka warna cat. Idrus tiba-tiba mencetuskan ide, ia memintaku untuk membuat sendiri ilustrasi-ilustrasi yang akan mewakili setiap narasi yang kutulis. Wow… kurasa inilah saatnya bagiku untuk menggambar rupa zenja.

[Ihan Sunrise – Insomniac, goweser, coffee addected]

Komentar

Komentar