Menanti ‘Belanda Berkupiah’ Naik Dewan

DI dalam kepalanya, ada jutaan hektare masalah sudah ia petakan. Hingga ia benci sekali tidur tepat waktu. Ia merasa dekat benar dengan Tuhan melebihi saya dan Anda. Karena, Anda dan saya tidak berkopiah juga tidak berpolitik praktis dengan ikut-ikut demo tolak ini-itu.

Yang saya suka darinya, ia tidak berpakaian adat Aceh untuk foto pre-war. Pre-war di sini maksud saya adalah perang jelang pilegda 2019. Saya suka dia tidak menjual pakaian orang kawin untuk maksud-maksud politik. Kenapa? Karena, bisa-bisa orang intat linto distigma sebagai mobilisasi massa kampanye di pesta perkawinan. Seulangke bisa dicurigai semena-mena sebagai timses sekaligus mata-mata linto baro. Ini jadi pertimbangan luar biasa menyenangkan. Saya angkat salut untuk itu kepada dirinya.

Bibit politik sudah mulai mekar saat dia pindah ke kota. Ia tergoda pada kemewahan bicara teman dari kawannya yang sudah sukses duduk di DPRA, saat memberi petuah kepada anak muda anggota paguyuban kecamatan. Ia jatuh cinta pada politik praktis melalui cara anggota dewan kawan temannya itu seruput kopi sore di warung seputaran Lampineung, Banda Aceh. Sukses teman dari kawannya itu ia simpan rapi dalam almari cita-citanya hingga waktu tiba.

Ia mendirikan organisasi kepemudaan yang secara struktural terlihat banyak sekali orang. Namun, yang berdiri di atas panggung tiga orang. Selebihnya ada puluhan pemegang remot di belakang layar: Dari PNS alim pecinta jabatan sampai aktivis cari uang rokok ikut di belakangnya. Saya suka cara bersiasat macam itu. Orang yang duduk bersila dalam majelis dan menyebut nama Tuhan yang satu, tapi punya tujuan dan majemuknya kepentingan pribadi yang, termanifestasi dalam realita sikut menyikut dan saling membusuki. Tuhan tidak tidur! Benar. Kita saja yang le tingeut ngen jaga.

Ia berkawan dengan siapa pun. Bahkan dengan rival politik. Mentraktir segelas dua gelas kopi pagi di Aceh adalah siasat merukunkan kepentingan politik yang sengkarut. Coba saja cari masalah dengan politikus di Aceh! Resikonya Anda diundang ngopi ke kantor atau rumah dinas. Pulangnya otomatis dititipkan uang minyak plus uang lelah. Saya sering mendengar kisah ini dari hero-hero organisasi paguyuban kecamatan yang dihimpun oleh kanda-kandanya dalam sekotak timses.

Baiklah, kembali ke cerita awal.

Ia adalah intelektual serba responsif juga reaksioner. Semua masalah ditanganinya di fesbuk. Terutama politik kekuasaan yang dirinduinya itu. Ia akan cengengesan belaka membalas komentar dari statusnya. Jarang sekali ia berargumen panjang lebar dengan logika tepat. Kemampuannya untuk itu cuma dua, kalau bukan membalas dengan komentar “hahaaaa…”, Pasti dengan “.. 😀 😀 😀 😀 “.

Saking sukanya menangani masalah di fesbuk, kawan-kawan memanggilnya “tabib spesialis alam ghaib”. Saya kurang setuju. Saya rasa lebih terhormat dipanggil “Belanda Berkupiah”. Ini mengingatkan saya pada upaya Snouck Hougrounje yang berdarah-darah berhasil mencarut-cemarutkan Aceh dahulu kala.

Ingin rasanya kuajak dirinya main #steemit supaya tak putus uang rokok. Dan sebagai sarana pembelajaran politik kelak di gedung dewan.

[Idrus Bin Harun]

Komentar

Komentar