Sahur Stories: Banjir Banda

Banjir melanda Banda Aceh pada puasa hari ke-15. Sejumlah kawasan terendam air dengan ketinggian berbeda-beda, dari 50 cm hingga 1,3 meter.

Banjir disebabkan hujan yang mengguyur sehari sebelumnya. Sejumlah foto dan video yang disebar netizen membuat suasana makin mengharu biru.

Semuanya saling memberitahu di mana saja banjir terjadi. Walaupun ada satu dua yang menasehati pemerintah dan mengkritik Banda sebagai kota tanpa saluran.

Namun, sebentar saja memantau linimasa, kita akan tahu sudut kota gemilang yang mana yang didatangi banjir tahun ini. Jurnalisme warga hadir lebih cepat.

Hal ini berbeda dengan situasi 20 tahun lalu. Media sosial belum booming, konon lagi jurnalisme warga. Belum ada drone yang melayang di udara untuk merekam situasi banjir.

Tahun 2000 itu banjir mengepung Banda beberapa hari menjelang puasa.

Sehari sebelum banjir, hujan turun dengan betah. Pagi hingga sore menyiram bumi dengan intensitas sedang.

Di Beurawe, halaman rumah kos kami yang menyempil di ujung gang mulai tergenang sikit-sikit. Ini kondisi biasa kalau hujan.

Gang cebol nan sempit itu tak punya got. Bila air hujan terlalu banyak meruah, tanahlah yang akan mengisapnya pelan-pelan.

Got memang ada tapi letaknya di lorong depan yang berjarak belasan meter. Tak mungkin air-air itu berloncatan memindahkan diri ke sana.

Tapi besoknya, sejak pagi volume genangan kian bertambah. Ujungnya mulai merangkak ke bibir teras. Sementara di halaman, tinggi air masih semata kaki.

Menjelang zuhur teras tergenang. Tak lama, dua ekor ikan cupang kesasar di sana dan berenang ke sana ke mari dengan lincahnya, di atas teras yang kini menjadi akuarium.

Hujan masih turun. Sepintas suasana di kosan syahdu sekali. Entah kenapa. Mungkin karena ini banjir perdana kami di Banda.

“Ah, kalau banjir keknya enak juga ni,” celetuk seorang kawan, bermaksud bercanda.

Azan zuhur berkumandang. Tak lama setelah itu, seperti dikomando, genangan di teras merangsek masuk ke ruang tamu dengan gerakan slow motion.

Lidah gelombangnya yang kecil menjilat dinding dan menyelusup ke bawah pintu kamar. Lalu menyasar buku-buku, baju-baju, dan apa saja yang tergeletak di lantai.

Lama-lama genangan meninggi mencapai mata kaki. Sial, celaka betul celetukan tadi. Banjir yang dicandain akhirnya datang juga.

Tapi dapur tergenang paling parah karena lantainya lebih rendah. Akibatnya, kompor-kompor terpaksa mengapung bersama telur, indomie, dan cabai keriting.

Kecoa-kecoa harus bersembunyi di balik para-para. Dan para cicak memutuskan berbaris di dinding menatap seisi rumah dengan curiga.

Tanpa telepon tak ada berita yang mampir mengabarkan banjir melanda kawasan mana saja selain Beurawe. Tapi semua berpikir kalau Banda Aceh telah digenangi banjir besar.

Dan akhirnya seluruh penghuni kos yang berjumlah empat orang itu memutuskan mudik lebih awal.

Kasur-kasur pun digulung, dinaikkan ke loteng. Beberapa furniture ditumpuk tinggi dan rapi supaya tak terseret banjir. Barang-barang berharga seperti indomie dan rokok telah lebih dulu diselamatkan.

Setelah itu yang tersisa di lidah cuma kata-kata: Selamat tinggal Banda. Selamat berjuang dalam banjirmu sendiri. Kita bertemu lagi bulan depan.

KOMENTAR


Dapatkan beragam artikel dari majalah online Breedie langsung melalui email Anda.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here