TAK ada angin, tak ada hujan, Breedie mewawancarai Idrus Bin Harun, pendiri Kanot Bu, komunitas yang bermarkas di Bivak Emperom, Lamteumen, Banda Aceh. Kanot Bu sebuah gerakan kebudayaan yang diawali Idrus, Reza, Edi Miswar, Fuadi, dan beberapa orang lainnya dari Meureudu, Pidie Jaya. Di Kanot Bu, semua jenis seni tersaji. Mulai dari sablon, lukisan, mural, lagu, dan bentuk-bentuk seni yang lain. Mereka meraciknya dengan sentuhan kreativitas masing-masing.

Video wawancara ini sengaja dituturkan dalam bahasa Aceh walaupun sesekali dicampur bahasa Indonesia. Maklumlah, lidah tak bertulang. Begitu banyak kosakata Indonesia mencampuri bahasa Aceh, dan itu bukan sesuatu yang salah. Breedie hanya ingin berbeda saja mengemasnya. Jika ada Breeders yang tidak mengerti isinya, silakan hubungi redaksi Breedie di email red.breedie@gmail.com. Segala keluhan akan ditampung dan ditempatkan dengan layak.

Video direkam dengan kamera smartphone Oppo yang dipacak di atas tripod pinjaman milik Kanot Bu serta diedit dengan VideoPad. (Ehm, semoga orang Oppo melihatnya). Tata suaranya masih kacau balau. Sesekali diselingi kokok ayam yang bertengger di atas pokok belimbing wuluh. Ayam ini begitu senang menganggu sesi wawancara, entah apa maksudnya. Selama wawancara, Idrus didampingi Reza Mustafa, juga pendiri Kanot Bu. Tapi Reza sengaja tak tampil di kamera karena ingin menjadi orang di balik layar. Sesekali ia mengingatkan Idrus dan menambahkan informasi.

Oya, gambarnya juga jauh dari sempurna. Wawancara juga tidak tuntas karena tiba-tiba memori internal Oppo itu penuh. Itu saja, selamat menikmati jika layak.

Komentar

Komentar