Dodo, Incunesia yang Menyuruh Saya Pergi ke Neraka

MIMPI apa saya semalam. Tak ada angin tak ada hujan, tapi disambar petir. Ada kebahagiaan yang dibekap segunung iba pada diri sendiri. Di sela itu utang moral terasa bak tertimpa balok ke atas kepala, memusingkan lalu mabuk dan gila.

Padahal semula hanya hendak mengabari teman saya si Dodo, bahwa band favorit lintas zaman, Incubus, menggelar konser di Gambir Expo Kemayoran, Jakarta, tepat hari Rabu, 7 Februari 2018, malam.

“Wak, gila, Brandon di Indonesia wak!! Hahaha,” kata saya via pesan Whatsapp ke Dodo, tiga hari sebelumnya.

Incubus adalah band Rock, Funk Metal, atau alternatif bla bla. Mm, penguasaan Mike Einziger dkk pada berbagai jenis musik yang terbukti dengan sederetan album mereka selama lebih dari dua dekade ini, bikin saya susah mematok genre apa yang tepat menggambarkan grup musik asal California, Amerika Serikat ini.

Sejak SMP, saya dan Dodo hanya bisa berbagi kaset dan tautan kanal Youtube untuk mengupdate informasi, pertunjukan, dan lagu-lagu baru Incubus. Dodo memang lebih militan, tapi dia tak pernah mengaku jadi Incunesia (sebutan untuk para fans Incubus di Indonesia) garis keras.

Meski sebenarnya, saya menebak kegilaan Dodo pada Incubus terlihat dari perbandingan jumlah karya yang kami kumpulkan masing-masing. Saya hanya mengoleksi dua CD bajakan dan 15 unggahan video Youtube berisi pertunjukan Incubus dari berbagai belahan dunia. Sisanya beberapa lagu yang telah malang terkenang lewat kord-kord gitar yang sering saya lantunkan di kebun belakang rumah.

Tapi Dodo, bukan hanya piranti, bukan hanya album, tapi juga rambut gondrong dan kumis Brandon Boyd, vokalis Incubus, ikut ditirunya selama bertahun-tahun. Dia militan, dia ‘jihadis’ Incubus dalam hal ini. Dan kekonyolan itu cukup menandakan betapa ia menggemari band itu lebih dari saya.

Kadung beberapa jam kemudian, pesan Whatsapp saya tadi tak juga direspon Dodo. Berhari-hari tak ada balasan. Saya menganggapnya biasa saja. Apa boleh buat, jadi semacam pemakluman bersama karena kami tinggal di Aceh, provinsi di ujung barat yang teramat jauh menjangkau ibu kota Jakarta. Konser-konser besar musisi luar negeri yang dibanderol harga tiket selangit pun kerap diadakan di sana. Saya hanya sempat menatap keseruan itu lewat reportase di media massa.

Tepat tadi malam, saya membaca berita portal Liputan6. Judulnya ‘Incubus Manggung di Jakarta, Malam Ini’. Iseng, saya kirimkan saja tautan berita ini ke Dodo via Whatsapp.

Tetap tak ada respon. Pesan sampai, tapi tak terbaca. Saya membatin, pun tak ada masalah bagi saya. Setidaknya kita berbagi kesedihan yang sama karena tak sempat menonton Incubus yang kesekian kalinya konser di Indonesia. Dodo mungkin malas saya sindir melulu.

Saya kembali mengupdate informasi di peramban, Rabu malam jam 19.36 WIB. ‘Penggemar Incubus Mulai Padati Lokasi Konser’, tulis viva.co.id. Saya kirim itu ke Dodo. Tak tanggung-tanggung, artikel berjudul ‘Anna Molly Bakar Semangat Incunesia’ dari portal Kompas juga saya layangkan ke dia.

“Bro, Incubus Broh.. Cak Brandon bantai lagu favorit Ko wak! Anna Molly! Hahaha,” sentil saya ke Dodo.

Iseng, tapi masih tetap berlaku santun sejak dalam pikiran, saya kirim tautan demi tautan. Ya, mesti santun menghibur teman, karena terus menyentilnya beberapa hari ke belakang.

Setengah jam kemudian, Dodo membalas. Singkat, tapi petir.

“Go To Hell, Man!” tulis dia di Whatsapp.

Saya cermati pelan-pelan foto yang dikirimnya. Selfie, dengan kumis dan jenggot keparatnya, di belakangnya melambai spanduk berupa kain tegak ke bawah bercetak logo band, saya mengejanya: I N C U B U S, posisi di tengah-tengah kerumunan orang, asap panggung menggelegar merah, lampu sorot, dan itu menunjukkan, dia, berada di depan stage pertunjukan Incubus.

Ya, Dodo sedang di Jakarta. Anak kelahiran Banda Aceh tahun 92 ini menonton Incubus. Dengan segera pula kesantunan itu berakhir.

“Hannjiiiiiiiinnggg! Jahannaaaam! Kampreet!! Sadis ko wak! Nonton Incubus gak ajak-ajak!” maki saya, beruntung itu hanya tulisan di pesan Whatsapp.

“Hahaha, Sori wak telat balas, lagi seru ni, hahaha,” balas Dodo. Tawanya seakan-akan ia melempar sekantong tahi babi ke muka saya, benar-benar haram.

Saat itu saya tertawa sejadi-jadinya, gila memang. Berikutnya Dodo mengirim beberapa cuplikan video masing-masing berdurasi 10 detik, memperlihatkan gegap gempita musik Incubus di Gambir Expo Kemayoran. Sial, ada Brandon Boyd, Mike Einziger, José Pasillas, Chris Kilmore, dan Ben Kenney di sana. Mereka tengah menyanyikan lagu penutup berjudul ‘Warning’ yang penuh distorsi. Dodo mempecundangi saya, fans band legenda yang tak punya nyali menonton konser secara live selama bertahun-tahun, secara telak.

Dasar Dodo. Jelang konser berakhir, ia mengirim pesan ke saya, “Sekarang awak bisa mati dengan damai.”

Saya kembali tergelak, perut mulai kram. Entahlah, sesama fan garis keras, dan dia lebih beruntung kali ini, di depan stage Incubus, ia meneriakkan saya, “Mardha, pergilah ke neraka!” Hah, sialan kau Dodo.

Komentar

Komentar