SULIT sekali bosan mendengar musik rock yang satu itu. Sengaja kadang saya putar berulang-ulang, supaya tangan si musisi mampus terkilir jemarinya. Ya, mustahil memang, sebab bukan dimainkan secara langsung melainkan rekaman. Berharap orang cedera di video rekaman, seabsurd Reza Mustafa (teman saya) bisa main gitar walau hanya sekedar dengan kunci dasar. (Paling pembelaannya buat pledoi, seperti yang sudah-sudah, kita tunggu saja)

Kalau saja, Canon Rock saya putar lewat vicidi bukan yutub, bisa jadi piringan sudah aus, berkali-kali dilap dengan ujung kaos tetap akan leukit, ngerem selalu. Solusinya lembiru, lempar beli baru. Tapi itu tak terwujud lagi, seiring vicidi sudah dianggap usang karena ditikung teknologi mutakhir.

Bagaimana dengan Anda? Apakah suka mendengar Canon Rock sebagaimana saya? Kalau tidak, yah, mau bagaimana lagi selera orang kan beda-beda. Baiklah, ada beberapa alasan, kenapa saya belum juga bosan mendengar musik yang diciptakan oleh Johann Christoph Pachelbel itu.

Pertama dan juga terakhir adalah karena lagu itu disambut baik oleh telinga saya dan saraf-saraf yang berkaitan juga mendukungnya. Sehingga nada yang ditulis pada 1680 itu membuat saya nyaman dan damai jika sedang ditimpuk sepi. Bayangkan, jika sendiri dalam sebuah ruang tanpa lagu-lagu yang membuatmu nyaman. Tentu opsi-opsi bunuh diri akan datang. Apalagi jika dikurung dengan setumpuk album Berg#k, bersiaplah Anda melayat ke rumah saya. Jangan coba-coba mengiringi saya ke pemakaman dengan lagu Boh hatee gadeuh aleh ho nyanyian si itu. Kebangun lagi saya nanti.

Hehehe. Gak gitu juga kali, saya tak sebercanda itu, bunuh diri dilarang agama, dosa. Keberadaan lagu Berg#k juga patut diacungi jari manis. Ia penghibur masyarakat kita, di tengah kerasnya hidup yang serba belepotan. Oke, mari kembali ke Canon Rock. Upaya-upaya agar saya cepat bosan mendengarnya sudah saya lakukan, dengan me-reply secara beruntun pastinya. Namun masih saja sulit dilupakan, macam the first love gitu.

Canon Rock berjudul asli Canon In D Major ditulis oleh komposer berkebangsaan Jerman. Bejibun musik lahir dari Johann Christoph Pachelbel yang tutup usia pada 1706 di Austria. Canon In D Major dalam perjalanannya sempat tenggelam, namun kemudian bangkit kembali karena diaransemen dan dipopulerkan oleh musisi Taiwan, Jerry Chang pada 1998. Sampai kini Canon In D Major melegenda dan menginspirasi banyak gitaris dunia. Kemudian Canon In D Major digubah dan di-cover dalam berbagai genre musik, salah satunya rock.

Penamaan Canon yang dimaksud Johann Christoph Pachelbel bukan merujuk pada salah satu merek perkakas para fotografer, bukan juga senjata tempur beramunisi yang digunakan kala perang itu. Canon merupakan bagian dari musik itu sendiri yang ditandai dalam pengulangan dan peniruan dalam beberapa bagian melodi. Karena populer saat digubah versi rock oleh Jerry C, maka Canon in D Major lebih dikenal dengan Canon Rock.

Canon in D Major original

Begitu kira-kira dari apa yang saya baca-baca sekilas perihal Canon Rock jika tidak salah rujukan. Selengkapnya susuri sendiri di mesin-mesin pencari terdekat. Berikut beberapa cover video dalam beberapa versi alat musik dan hubungan-hubungannya yang saya hubung-hubungkan dengan kisah-kisah gagal dan senang dalam dunia persilatan asmara. Tak semua tentunya.

Di atas ini versi akustik, sangat cocok jadi musik pengiring buat nembak si doi. Jika tak diterima cintamu memakai musik ini, ikhlaskan saja, mungkin doi penggemar garis keras Berg#k.

Yang ini versi biola duet dengan cello. Sangat cocok untuk mengiringi kesedihanmu agar lebih mendramatisir, setelah kamu gagal mendapat tolakan dari seseorang yang kamu kejar selama berabad-abad. Jika diresapi lebih mendalam versi ini dengan membayangkan perjuanganmu kandas mendapatkan cintanya, dipastikan air mata mengalir lancar sampai terkuras tandas.

Gak mungkin juga kamu nembak seratus calon, tak satupun diterima. Oleh karena itu versi piano ini sangat pas merayakan hidupmu yang baru saja dapat sinyal bahagia. Mari selebrasi dengan berlompat-lompat seperti jemari pianis di atas tuts hitam putih itu.

Ini si Jerry Chang, terduga yang mempopulerkan Canon Rock. Video amatir inilah yang melambungkan namanya dan Canon Rock mulai dimainkan oleh musisi dunia akhirat.

Bocah yang kini sudah jadi oppa-oppa korea, Sungha Jung, ikut unjuk jari juga. Bocah yutuber ini memang tak ada yang meragukan kepiawaiannya dalam menggelitik senar gitar.

Dua video ini dan satu lagi video sebelum paragraf pertama adalah yang sering saya putar berulang-ulang. Lihatnya kemampuan skill dewa mereka. Memindahkan jari dari satu kunci ke kunci lain begitu mudahnya.

Andai saja saya bisa main gitar, tak usah muluk-muluk atau dewa-dewa kalilah, cukup sekedar bisa memainkan nada dan melodinya Canon Rock, bagiku sudah lumayan. “Apa? lumayan ndasmu?” ini kata kawanku untukku. Sial, sejauh ini nada-nada dasar saja masih hancur-hancuran kumainkan. Apa-apa yang kumainkan dicap merusak. Apalagi berharap sebeken Canon Rock. Mimpi.

[Zulham Yusuf]

Komentar

Komentar