Cerpen: Minimi

Sore itu suamiku memberitahu, ada tamu. Aku baru saja mandi. Dengan rasa ingin tahu, pergi ke ruang depan. Tiga anak muda, gelisah tak dapat lurus, mencoba duduk di sofa hijauku.

Begitu aku duduk, anak muda berhidung mancung di sebelah kiri bergeser maju. Menatapku.

“Bu, kami ingin tahu apakah kami masih bisa ujian.”

“Ujian masih dua bulan lagi. Tentu bisa. Asal kalian tidak sakit atau alpa.”

“Itulah maksud kami Bu. Kami akan ke gunung.”

Suara anak muda itu seperti batu tercemplung sumur bagiku.

“Kalian tidak usah melakukan itu. Kalian tetap sekolah. Dua bulan lagi pergilah ke gunung seperti yang kalian suka.”

“Kami sudah tidak tahan. Seminggu yang lalu mereka masuk kampung lagi. Mereka menembaki siapa saja. Saya sedang mengancingkan seragam. Teman-teman menunggu saya di kedai. Mendadak mereka bertemperasan masuk. Mengejar kami seraya membuang amunisi. Kami dikejar sampai Cot Meukaso. Kami lari terus. Kami coba bersembunyi. Mereka memberondong setiap semak yang bergerak. Sepupunya di Lorong Ceurape kena. Kepalanya pecah. ”

Dengung sepeda motor yang lewat tetap tinggal di dalam kepalaku.

“Setiap hari kami berusaha datang ke sekolah, Bu. Kami pergi tepat waktu, di tengah jalan bunyi minimi mereka berderak di mana-mana. Kami harus tiarap dalam selokan. Baju basah, kotor, bau. Buku-buku remuk. Kami pergi lebih pagi, labi-labi kami dihentikan. Kami dibariskan, disuruh mengulang lagu dan semboyan. Satu huruf salah, kami digebuk satu-satu. Seringkali kepala kami terlalu penuh bintang untuk melanjutkan berangkat. Kami duduk menunggu. Dan kemudian tak ada labi-labi mau mengangkut kami.”

Anak muda berkulit bersih di tengah menyambung lirih.

“Kemarin dulu ada L300 dihentikan. Dua kawan kami dari Kelas Fisika 3 diturunkan. Ibu pasti kenal mereka. Yang biasa membantu Ibu menyiapkan alat Lab,” mendeham.

“Jilbab mereka seperti dicelup kesumba ketika ditemukan.”

“Kian hari kami semakin tidak punya kendali akan hidup kami.” Anak muda mancung menarik nafas.

“Kami letih. Ketakutan, serba salah. Di gunung setidaknya kami termasuk golongan yang pasti. Lagipula, mereka membutuhkan tenaga kami. Di sini kami hanya jadi mainan.”

“Sakdiah kemarin menikah, Bu. Suaminya orang gunung.”

“Tiarfah juga menikah Bu. Dia pindah ke Batam.” Cekikikan kecil. “Kau naksir dia, kan, Jal? Kalah langkah kau.”

“Ibu tahu Widi sudah pulang ke Yogya? Ibunya menemukan surat di bawah pintu. Magrib pulang sembahyang ayahnya diambil orang.”

“Tapi kami ingin lulus. Kami mau masa depan yang lebih baik.”

Sekali lagi, batu tercebur sumur. Lenyap dalam ruang kosong.

Baca Juga: Cerpen: Pos Jaga

Mengapa mereka ingin masa depan yang lebih baik? Tak seorang pun tahu kapan dentuman-dentuman ini akan berakhir.

“Bisakah Ibu menjamin bahwa nama kami tetap akan ada di daftar peserta ujian? Bahwa kami akan tetap bisa ikut ujian akhir?”

“Datanglah terus nak. Walau pun terlambat, atau dengan baju kotor. Kami mengerti.”

“Tidak Bu. Kami ingin punya kendali. Kami ingin berarti.”

“Kalau kalian ingin nama kalian tetap ada di daftar, kalian harus datang setiap hari.”

“Bu, kalau besok siang merdeka, sorenya kami ikut ujian. Kalau sore merdeka, besok paginya kami ujian.”

Tiga pasang mata hitam menggenang. Ada udara panas naik dalam tubuhku.

“Bagaimana kalau merdeka tertunda setahun lagi? Dua tahun? Lima puluh tahun lagi?”

“Kami akan pastikan bahwa waktunya takkan lama lagi. Karena itu kami juga butuh kepastian tentang ijazah kami.”

Kalau merdeka nanti, apa gunanya ijazah itu bagi kalian? Ijazah itu akan jadi ijazah negara asing. Bahasanya asing, nilai-nilainya asing.

Mereka bertatapan. Bau deodoran campur keringat, seperti setiap kali aku masuk ke kelas mereka.

“Kami tetap menginginkannya, Bu.”

“Ibu Kepala, hanya Ibu yang bisa tolong kami. Bisakah Ibu menjaga agar nama kami tetap ada?”

“Bisakah kalian menjamin bahwa kalian sejahtera di gunung sana?”

“Dia ini bagian logistik, Ibu. Kami akan bantu dia membawa perbekalan sebanyak-banyaknya.”

Baca Juga: Cerpen: Anomali dari Langit

Bukan itu maksudku. Tapi tentu tak ada gunanya menjelaskan.

“Sejak kapan kalian putuskan untuk pergi?”

Bertatapan.

“Sudah lama.” Diam sejenak. “Seminggu.”

Ulu hatiku serasa ditonjok.

“Satu bulan pertama kami takkan bisa turun. Kami harus latihan. Setelah itu mungkin baru bisa menengok orangtua di kampung,” anak muda berambut keriting menatapku. “Kami akan menjenguk Ibu juga.”

“Bagaimana cara kalian menjenguk Ibu?”

“Kami akan datang ke Meunasah. Berbaur bersama jamaah. Nanti akan ada yang berkirim surat pada Ibu, kalau kami datang. Mungkin Bang Im.”

Ibrahim adalah alumnus kami yang membuka kedai dekat Meunasah.

“Ibu bisa melihat gunung kalian dari jendela kamar. Bisakah kalian memberi isyarat, dengan cermin kecil atau dengan asap, satu kali sehari, tanda bahwa kalian baik-baik saja?”

Cekikikan kecil.

“Ibu, nanti posisi kami diketahui.”

Benar. Hatiku menciut.

“Ingat kami dalam doa, ya, Bu?”

“Dan dalam daftar ujian.”

Cekikikan lagi. Tapi langsung berhenti.

“Kalian akan baik-baik saja. Selesai ujian nanti kita mandi-mandi, makan-makan ke Pucok Krueng.” Aku mengulurkan tangan.

Satu persatu mereka melekatkan hidung di punggung tangaku. Lalu menghilang ke dalam magrib ungu.

Esoknya kutemui ayah si Bangir. Kami satu desa.

“Bertiga mereka  meminta izin, Bang,” kataku. “Kupikir Abang harus tahu.”

“Ya,” matanya dengan lingkaran kelabu dan titik biru menatap ke belakangku. Ke arah rimba yang menggelap di kejauhan. “Kalau Bu Kepala mengizinkan, saya juga merestui.”

***

Lepas Subuh, hari itu, suamiku membuka jendela. Duduk membaca beberapa ayat.

Suara dentuman itu masuk bersama udara dingin.

Kumatikan kompor. Tinggalkan panci berisi air mendidih di meja dapur.

“Suaranya dekat sekali!”

“Ya. Di Selatan. Arah Ujong Glee.”

Kami terdiam. Dentuman terdengar lagi. Terus. Sambung menyambung.

Minimi*),” aku memandang suamiku. Dia hanya mengangguk. Kami duduk bersisian. Kopi dalam gelas menyejuk perlahan.

Akhirnya matahari muncul, menyepuh emas daun mangga. Dentum terakhir terdengar. Lalu ayam berkokok. Disusul satu persatu suara sapu lidi mengisi pagi. Seseorang melintas, masuk pagar.

“Ibu!”

Ibrahim.

“Si Jal, Bu.”

Ia kehabisan peluru. Penembaknya duduk di atas pohon, menjatuhkannya dengan satu letupan di dahi.

Kubayangkan hidungnya yang bangir, tertawanya cekikikan. Kemeja putih bersih, dimasukkan rapi ke celana kelabu. Ranselnya selalu dilintangkan di kiri, bukan di punggung seperti kawannya yang lain.

Kalau pagi merdeka, sorenya kami ujian. Kalau sore merdeka, besok paginya kami ujian.

Besok pagi sudah tak ada baginya.

Blang Oi, 11 April 2020

*) FN Minimi atau dalam bahasa Prancis disebut mini-mitrailleuse adalah senapan mesin mini produksi perusahaan senjata Belgia, Fabrique Nationale de Herstal (FN).(Wikipedia)

KOMENTAR


Dapatkan beragam artikel dari majalah online Breedie langsung melalui email Anda.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here