Film Tjoet Nja’ Dhien Diputar Ulang, Orang Aceh: Pat Ta Nonton Hana Bioskop?

#Editorial

~ Nonton bak netflik atau elkaduasatu

Rupa-rupanya, pemutaran kembali film kolosal Tjoet Nja’ Dhien membuat sebagian orang Aceh gerah. Terutama para pengguna media sosial.

Bukan tentang filmnya melainkan di mana menontonnya? “Hana pat ta nonton, hana bioskop,” salah satu bentuk kekecewaan yang disuarakan netizen.

Padahal, film heroik itu sangat berhubungan langsung dengan jati diri orang Aceh. Spirit Cut Nyak Dhien dalam melawan kaphe Belanda, sampai kini masih mengena dalam dada orang Aceh. Bahkan bagi perempuan Aceh, Cut Nyak Dhien adalah inspirator sejati.

Pastinya, banyak orang telah menonton film itu sebelumnya. Banyak pula yang ingat adegan-adegan di dalamnya. Tapi, film yang direstorasi pastilah membikin penasaran. Sebagai penonton, kita ingin tahu macam mana tampilan visual film tersebut dibandingkan versi lawasnya, yang katanya lebih jernih usai direstorasi di Belanda.

Walau tanpa direstorasi pun, kami yakin film produksi 1988 itu tidak akan bosan ditonton berulang kali. Asalkan jangan setiap hari.

Maka, ketika film itu dikabarkan diputar di bioskop-bioskop tepat pada Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei lalu, segelintir orang Aceh bersungut-sungut di media sosial. Rata-rata kecewa.

Baca Juga: For ‘Lukman’, Sebuah Film Tak Jadi Benar

Lebih-lebih lagi, bioskop tempat pemutaran film itu berada di Jakarta. Mereka tentu enggan menjangkaunya karena bepergian ke daerah kayak Jakarta di tengah situasi pandemi ini banyak tetek bengeknya. Belum lagi ongkos pesawatnya yang mahal. Belum lagi resiko ‘disambui’ corona.

Selain itu, sepertinya ada satu keinginan kuat dalam diri orang Aceh—yang probioskop tentunya—agar mereka menonton film itu di Aceh. Bukan di Jakarta. Udah capek-capek nyumbang emas untuk republik, perkara nonton film pih payah jak u Jakarta.

Lalu, saat film Tjoet Nja’ Dhien diputar ulang, wacana di Aceh perlu ada bioskop mencuat lagi. Tapi, seperti yang kamu tau Bree, menghadirkan bioskop di Aceh tak semudah mengirim karangan bunga ke kantor Gubernur. Isu bioskop ini sedikit menghadirkan prokontra di Aceh.

Yang tidak setuju, memandang bioskop hanyalah akan menjadi tempat maksiat baru. Dan ini sebenarnya bukan tudingan yang asli Aceh. Di luar Aceh, sebagian masyarakat di beberapa daerah juga menolak bioskop dengan alasan serupa.

Tapi, kata masyarakat yang probioskop, kalau ada yang ingin bermaksiat, tak mesti di bioskop. Di tempat-tempat yang suci sekali pun tetap ada bad guys yang kepergok poh bandet. Jangan salahkan bioskop.

Atau, konsep bioskopnya disesuaikan dengan syariah law. Mungkin, nanti ada wilayatul hisbah yang menjaga setiap deretan kursi di dalam bioskop. Dijamin, tidak ada penonton yang berani “nakal”.

Terlepas dari setuju tidak setuju, Pemerintah Kota Banda Aceh pernah mengangkat wacana mendirikan bioskop di ibu kota provinsi. Gara-garanya, bekas Menteri Agama Fachrul Razi yang juga orang Aceh heran, kok, di Aceh bioskop tidak diperbolehkan? Dia membandingkannya dengan Jeddah, Arab Saudi, yang memiliki bioskop.

Namun, Majelis Permusyawaratan Ulama Aceh tegas menolak perbandingan semacam itu. Ulama tetap menganggap bioskop tidak perlu ada di Aceh karena tak mendatangkan manfaat.

Jadi, soal bioskop di Aceh ka santok lom. Dan film restorasi Tjoet Nja’ Dhien diputar tanpa kehadiran banyak orang Aceh di bioskop. Mungkin yang hadir cuma segelintir orang Aceh di Jakarta sebagai “wakilah”. Atau orang-orang Aceh yang “na peng jak u Jakarta”.

Saran kami, sebaiknya masyarakat Aceh yang probioskop banyak-banyaklah bermimpi. Siapa tau, setelah mimpi keenam atau ketujuh, bioskop bakal hadir di Aceh. Karena mimpi, kata Nidji, kunci menaklukkan bioskop, ehh, maksudnya dunia. Maka, bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu, tulis Andrea Hirata.

Selamat bermimpi, Bree 😁

KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here