Untuk M …

Tahun 2000-an itu, ada tiga bulan yang begitu indah dalam hidupku. Semuanya gara-gara kamu. Aku pernah menulis surat cinta kepadamu yang didalamnya kusematkan dua bait puisi. Tapi surat itu tak jadi kukirimkan karena jarak kita begitu dekat. Buat apa juga, kupikir. Lalu yang kulakukan kemudian adalah mengirim puisi. Bukan lewat pos atau secarik kertas. Puisi itu kukirim lewat SMS yang seketika itu pula menghabiskan sisa-sisa pulsaku. Tahun-tahun itu, aku terlalu kere untuk urusan begituan.

Aku jatuh cinta kepadamu bukan melalui jalur cerita yang indah. Ceritaku sama, bahkan pernah dirasakan jutaan manusia lainnya. Begitu receh untuk dikenang. Begitu biasa. Tapi bagiku, entah untukmu, selalu ada getaran-getaran yang mampu membuatku melayang, tersenyum-senyum sendiri, bila mengingat kisah itu.

Maaf, aku ralat sedikit paragraf di atas ini. Aku seharusnya tidak bilang “aku jatuh cinta kepadamu”. Karena yang kutahu, kau tiba-tiba ada di depanku pada suatu hari yang tidak kurencanakan untuk jatuh cinta pada seseorang. Jadi, aku bukan seperti Romeo yang mengejar-ngejar cintanya Juliet.

Entah itu cinta tapi yang terasa kemudian memang seperti itu. Aku bisa rindu hanya pada kata “hai” yang kau ucapkan. Mungkin itu cinta, tapi itu cinta receh.

Aku tidak tahu jika ditanya orang, apa yang membuatku tertarik padamu? Tidak ada jawaban yang pasti. Apakah hidungmu, pipimu, rambutmu, atau suaramu? Sama seperti ketika aku menemukanmu dalam kondisi apa pun, entah sudah berdandan atau lusuh, bagiku sama saja? Apakah itu cinta? Mungkin saja, tapi itu cinta receh.

Bulan pertama setelah mengenalmu, aku sudah berani menggenggam jemarimu, membelai rambutmu, tapi tak berani menciummu. Jemarimu kugenggam ketika kita mendengarkan lagunya “Rahasia Hati” milik Element melalui earphone sebuah walkman. Ketika lagu itu kita rewind, tanganku berpindah ke rambutmu, membelainya sejenak lalu pindah lagi ke jemariku.

Aku tahu, lagu itu begitu merasuk ke jiwa kita. Dadaku, entah dadamu, berdegup begitu kencang ketika irama lagu tiba di bagian-bagian tertentu. Sialnya, bertahun-tahun setelah itu ketika lagu tersebut terdengar tak sengaja, aku teringatmu. Aku tak tahu apakah kamu juga begitu karena status kita sudah sama-sama mantan.

Bulan kedua setelah mengenalmu, kau sudah mulai mengaturku. Mencoba mengubah wujudku yang gembel menjadi lebih rapi. Mulanya aku mengalah karena agak senang. Tapi lama-lama aku memberontak. Kita sedikit berdebat. Aku, entah kamu, ingin terlihat apa adanya.

Aku tahu, penolakan itu membuatmu kecewa. Lalu kau juga menilaiku tidak romantis. Aku tidak membantah karena saat itu aku masih begitu senang. Menghirup bau keringatmu saja aku senang walaupun tak berani mencium pipimu.

Bulan ketiga, tiba-tiba kau menjauh tanpa kabar. Mulanya aku mendiamkan saja tapi lama-lama hatiku tak karuan. Aku mulai bertanya apa maksudmu menghilang. Namun, ketika aku mencoba mencari tahu di mana dirimu, sebuah bisikan datang dan menunda niatku. Aku kemudian tahu itu bukan semacam ujian untuk menguji sebuah kesetiaan. Aku tahu, kau memang ingin pergi dariku.

Aku sempat sedih tapi setelah mengingat momen awal perjumpaan kita, kubuang jauh-jauh perasaan itu. Aku merasa bahagia bisa mengenalmu. Yang kulakukan kemudian hanya mengambil kaset Element hadiah darimu, memutarnya dari side A ke B, mendengar seluruh lagu berulang-ulang. Lagu-lagu itu memang melow tapi cukup sebagai bahan mengenang tiga bulan bersamamu.

Tiga bulan yang indah bagiku, entah bagimu. Terima kasih kasetnya M. Kini, jika aku mendengar lagu Element itu lagi, aku tahu sudah tepat tak mencarimu dulu. Karena demi cinta, telah kurelakan kecewaku atas ingkarmu. Sebab, kumengerti cinta itu tak mesti memiliki.


Breeders, Jika kamu berkenan untuk berbagi cerita-cerita macam begini, kirimkan aja kisah #cintareceh ala kamu ke email: red.breedie@gmail.com. Syaratnya, cerita harus murni pengalaman kamu, bukan jiplakan. Panjang minimal 300 kata. Ditunggu, Bree!

Komentar

Komentar