Puisi Pucat Pasi dan Sepotong Popok di Batee Iliek

~ Mari berlomba di jalan kebaikan menyampah

seringkali lewat, jarang sekali singgah, saya tetap menganggap Batee Iliek di Samalanga, Bireuen, Aceh, tempat tetirah yang gampang dijangkau. Tapi ini bukan perkara rekomended atau tidak.

Bagaimana tidak gampang dijangkau? Cukup parkirkan kendaraan di tepi jalan Medan-Banda Aceh, lalu masuk ke warung, turun ke tangga belakang warung, arus air jernih Batee Iliek sigap menyambut. Jernih? Hmm… mungkin hanya akua.

Kalau mau nyemplung, atau salto-salto dulu, juga silakan. Airnya dingin, tapi tidak dingin banget. Kalau tak mau repot-repot basah, pandang saja ke hulu sungai. Seonggok pegunungan biru menyembul di balik pepohonan; mengirim imajinasi entah ke mana. Mungkin berujung pada sebait puisi yang penuh kata-kata pucat pasi atau kuwot yang cocok ditempel di Instagram.

Kalau tak mau juga, berbincang-bincang saja seperti yang dilakukan dua bapak-bapak di samping saya. Mereka membahas sesuatu yang tidak saya pahami tapi kelihatannya asyik. Sesekali tertawa lepas, lalu lihat kiri lihat kanan. Mungkin geli obrolannya didengar orang.

Jika ketiga hal yang saya sebut ini tak mau juga kau lakukan, sebaiknya pulang saja. Mungkin Batee Iliek tak cocok buat jiwamu.

embedded maps google

 

Batee Iliek tempat wisata alam. Jadi, jualan utamanya selain air sungai yang datang dari gunung juga batu-batu yang bertugas menapis setiap arus dari hulu. Ada satu lagi sebenarnya yaitu bunyi riak yang suaranya sering kalah oleh deru kendaraan yang lewat. Juga kalah oleh teriakan para bocah yang mandi.

Baru tiga sendok mi goreng masuk ke perut—rasanya enak tapi ujungnya membikin kepala berdenyut—di depan saya, tiga bocah perempuan bersiap-siap masuk sungai. Tanpa pengawasan orang tuanya, mereka langsung loncat. Saya awalnya harap-harap cemas tapi ketika melihat mereka leluasa berenang melawan arus yang lemah, sirna sudah kekhawatiran tadi.

Baca Juga: Dermaga Teluk Suyen yang Viral Tanpa Label di Tepi Danau Laut Tawar

Tapi di mana orang tuanya? Oh, itu mereka. tepat di bawah jembatan. Sang bapak, yang masih muda, belum terlalu buncit macam saya, menggendong anak lelakinya yang berpopok. Kekhawatiran saya muncul lagi. Sebenarnya dua kekhawatiran. Pertama, saat sebuah truk tronton lewat, sebilah besi jembatan bergoyang itik di atas sana. Saya mulai membayangkan yang tidak-tidak. Tapi ternyata besi rangka jembatan itu aman-aman saja.

Kekhawatiran kedua pada popok si dedek bayi. Saya juga mulai menerka seberapa persen isi popok itu? Apakah full? Dan apakah si bapak berencana mencebok anaknya di situ? Saya berharap tidak.

Tak sampai satu menit, hal buruk yang saya bayangkan memang tidak terjadi. Yang terjadi adalah, si bapak muda perkasa, yang tampaknya pekerja keras dan sangat diandalkan keluarga kecilnya, dengan sigap meraih popok si dedek bayi, menariknya dalam sekali hentak, lalu… mencemplungkannya ke badan sungai.

Saat popok itu melayang ke sungai mengikuti hukum Newton, saya sempat melihat bagian dalamnya masih putih. Setidaknya begitu yang tertangkap mata dari jarak sekitar tujuh meter. Tidak ada sisa “kejahatan” si dedek bayi yang bisa ditanda dengan warna-warna ceria pelangi seperti kuning, orange, atau coklat. Mungkin si dedek bayi belum sempat pup, cuma pipis saja. Karena pipis tak terlihat mata dan hanya sanggup diintai oleh hidung.

Setelah mencoba menelisik ke arah mana popok itu hanyut, saya kehilangan jejak. Tapi tepat setelah popok itu jatuh ke badan sungai, sekitar dua meter ke hilir ada seorang bapak-bapak sedang sampoan. Tak sempat saya lihat apakah popok itu nyangkut ke badannya. Adegan itu harusnya terjadi. Lalu, di versi kepala saya yang mulai ngajak rusuh: si bapak sampoan ngomel-ngomel ke si bapak muda pembuang popok.

Tapi, semuanya adem belaka. Kesejukan Batee Iliek mampu meruntuhkan segala syak wasangka.

Mau tau adegan yang terjadi setelah itu? Nggak bwang!

Tanpa mengecek apakah popok anaknya mengalir ke tempat yang benar (lagian buat apa juga, ya kan?) dan tanpa memasang muka bersalah, si bapak muda melanjutkan kegiatannya. Si anak diberikan kepada ibunya, sekarang giliran dia nyemplung dan bersukacita di sungai. Bersama buih-buih sampo dan sabun, si bapak berenang dengan gembira, di bawah jembatan, di depan anak istrinya, sambil berteriak kegirangan. Sepertinya, beliaw telah lama tak mandi di sungai.

Berselang menit, si bapak muda berteriak-teriak pada ketiga gadis kecilnya, yang agak jauh di hulu, agar mendekat. Saat itu, seorang bocah melemparkan kotak susu Indomilk ke badan sungai. Kotak itu jatuh sekitar dua depa dari si bapak muda, lalu menuju hilir menyusul popok tadi. Apa reaksi si bapak muda? Biasa saja, beliaw tak mempedulikan sama sekali. Sekali lagi, Batee Iliek mampu mengubah benci menjadi cinta, sampah menjadi permata hal biasa.

Durasi antara kotak susu dan popok yang jatuh ke sungai tak sampai lima menitan. Kalau durasi sependek ini saja dijadikan vlog di YouTube Ria Ricis, kau bisa bayangkan berapa adsense yang bakal diraup.

Sementara di hilir sana melewati jembatan, di dekat bendungan banyak anak bermain bebek plastik. Melihat kecepatan arus sungai, popok tadi setidaknya telah melewati bendungan tanpa sempat say babay kepada si dedek kecil. Mungkinkah dia akan bertemu popok lain di hilir sana? Dan setelah itu mereka bersepakat mengikuti arus bermigrasi ke laut, bertemu paus biru atau tersangkut di kepala penyu hijau, untuk kemudian kembali didorong ombak ke pantai, lalu difoto para konservasionis sebagai bukti pencemaran lingkungan? Jelas, alur itu terlalu panjang dan ilmiah buat saya pikirkan. Saya tak sanggup menerawangnya.

Baca Juga: Buku Puisi dan Ahli Nujum

Yang saya terka cuma satu. Bisa jadi beberapa pengunjung Batee Iliek tidak mempersoalkan lagi akan sampah yang dibuang ke sungai. Mungkin di benak mereka, arus sungai yang deras pasti akan bekerja sempurna membawa sampah-sampah ke laut tanpa nyangkut di mana-mana.

Ya, ketimbang membuang sampah di tepi jalan tapi dikatai babi atau didenda, mending ke sungai aja kan? Membuang sampai di sungai atau tempat wisata seperti Batee Iliek tak dilarang, tak dikatai babi, atau didenda, sejauh yang saya tahu. Sama halnya dengan membuang sampah di jalanan yang dilakukan pemobil dan pemotor. Semuanya bebas dari kata babi dan denda.

Perilaku-perilaku macam itu menurut hemat saya perlu dilestarikan sebagai budaya dan dibiarkan melekat sebagai identitas untuk diwariskan ke generasi berikutnya. Ya, apalagi yang mau diwariskan setelah minyak dan gas habis? Dana Otsus? Mending cara membuang sampah sembarang, kan?

Jadi, walaupun masih terngiang-ngiang popok tadi, saya pilih memutar mata ke hulu, menatap gunung nun jauh di sana, berharap hujan segera turun agar bait-bait puisi saya tidak pucat pasi. Tapi hujan tak kunjung turun, kopi sudah habis. Begitu pula sepiring mi goreng yang telah mengirim bergumpal denyut ke dahi. Oh, micin babi…!

KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here