Coretan Asyik Tentang Konservasi dan Konservasionis

Setelah beberapa tahun berlalu, entah mengapa, artikel yang saya baca di Mongabay ini masih saja menempel di otak. Mungkin karena ada kaitannya dengan konservasi, ya. Sejujurnya, saya tertarik dengan yang namanya konservasi.

Oh ya, sebelumnya, saya kasih tahu dulu apa itu konservasi. Konservasi diartikan sebagai perlindungan atau pelestarian lingkungan, ekosistem dan kehidupan liar. Kalau konservasionis, orang yang melindunginya atau melestarikannya. Sudah ingat? Hehe. Oke sip, kita lanjutkan lagi.

Artikel tersebut, kurang lebih, menjelaskan tentang kebiasaan konservasionis yang lebih sering membagikan cerita-cerita konservasi yang buruk daripada cerita-cerita kesuksesan konservasi. Misalnya, cerita spesies baru yang diprediksi akan punah, bagaimana cepatnya hutan primer lenyap dan bagaimana spesies-spesies di dunia mungkin akan punah dalam beberapa ratus tahun ke depan.

Ternyata, kebiasaan itu tidak bagus karena bisa membuat publik apatis terhadap konservasi. Maka, yang menjadi tantangan konservasionis ke depan adalah konservasionis harus sering juga membagikan cerita-cerita penemuan dan kesuksesan mereka. Tujuannya, supaya publik antusias, membangkitkan harapan dan melakukan aksi untuk konservasi.

Jika dipikirkan secara seksama dan dalam tempo se-selow mungkin, saya merasa bahwa ada benarnya juga artikel tersebut.

Di Indonesia, upaya konservasi kehidupan liar (hewan, tumbuhan dan habitatnya) giat dilakukan oleh berbagai pihak. Tapi, saya sangat jarang mendapatkan cerita-cerita tentang kesuksesan upaya konservasi kehidupan liarnya. Malah seringnya, cerita yang saya dapatkan yaitu kondisi keadaan hewan, tumbuhan dan habitatnya yang semakin hancur, terancam punah dan terus memburuk.

Lalu, saya coba kerucutkan lagi pikiran saya. Saya hanya fokus memikirkan tanah kelahiran saya, Aceh. Hhmm, barangkali saja, di Aceh, akan banyak ditemukan cerita tentang kesuksesan upaya konservasi kehidupan liar. Apalagi, Aceh terkenal dengan Kawasan Ekosistem Leusernya, yang di dalamnya terdapat juga Taman Nasional Gunung Leuser.

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa Kawasan Ekosistem Leuser merupakan kawasan konservasi yang sangat-sangat penting. Dengan luas sekitar 2,6 juta hektare, hutan di Kawasan Ekosistem Leuser telah menjadi tempat tinggal bagi berbagai macam hewan dan tumbuhan. Dugaan saya, tingkat kesuksesan upaya konservasi kehidupan liarnya pasti tinggi. Hasilnya? Sama saja. Sering cerita buruknya. Contohnya, penyusutan tutupan hutan, penurunan populasi spesies tertentu, illegal logging dan perburuan liar. Sebagai orang awam, saya pun bertanya-tanya, ke mana cerita-cerita kesuksesannya? Apakah konservasionisnya lupa untuk membagikan cerita-cerita kesuksesannya? Bagaimana mau membuat publik antusias?

Setelah saya coba kaji-kaji, kok yang timbul malah pemikiran yang jelek, ya?

Takutnya, jangan-jangan, upaya konservasi kehidupan liar yang dilakukan selama ini banyak yang tidak berhasil. Jadi, apa yang mau diceritakan? Jauh dari kata sukses. Waduh! Yang ada sekarang malah bikin saya cemas. Bagaimana kelangsungan hidup hewan dan tumbuhan di masa depan nanti?

Ah, daripada saya memikirkan yang tidak-tidak dan cemas berkelanjutan, lebih baik saya membayangkan yang asik-asik saja. Tidak ada salahnya, kan?

Terus, apa yang dibayangkan?

Yang saya bayangkan, di masa depan, saya mendapatkan banyak sekali cerita-cerita tentang kesuksesan upaya konservasi kehidupan liar, khususnya di Kawasan Ekosistem Leuser.

Cerita-cerita tersebut menggambarkan betapa kehidupan hewan, tumbuhan dan habitatnya di Kawasan Ekosistem Leuser sudah berjalan dengan sempurna. Populasi hewannya berjalan stabil. Masyarakat tumbuhannya hidup tenang. Angka kerusakan hutan di Kawasan Ekosistem Leuser pun tercatat nihil. Ya, itu tadi. Sem-pur-na.

Pastinya, terwujudnya kesempurnaan kehidupan hewan dan tumbuhan tersebut tidak terlepas dari kerja keras para konservasionis. Andil konservasionis sangatlah besar. Tabik sedalam-dalamnya untuk konservasionis.

Tapi ada sedihnya, kalau kehidupan hewan dan tumbuhannya semua sudah sempurna, apalagi yang harus dilakukan oleh konservasionis? Tidak ada pekerjaan lagi, dong. Kalau kasusnya begini, mau tak mau, konservasionis harus beralih ke pekerjaan lain.

Jangan panik. Santai saja. Serahkan semua kepada saya. Saya akan ubah sedih menjadi bahagia. Dalam bayangan saya, masih ada kok pekerjaan-pekerjaan lain yang cocok untuk para konservasionis.

Yang pertama, penjaga pulau terpencil. Jangan salah, lho. Pekerjaan penjaga pulau terpencil ini bayarannya tinggi. Menariknya, sambil bekerja, konservasionis bisa bebas menjelajahi pulau. Skill sebagai konservasionis masih bisa dipraktikkan di sini. Konservasionis bisa mempelajari, mengamati dan mendekatkan diri dengan alam sedekat-dekatnya. Kemudian, melakukan perenungan-perenungan hidup dalam kesendirian. Mempertanyakan arti hidup sampai ke akar-akarnya, baik akar serabut maupun akar tunggang. Ya, kalau bisa, diusahakan gaya hidupnya seperti filsuf-filsuf zaman dulu. Siapa tahu sebuah mahakarya akan tercipta. Contohnya, sebuah buku yang berjudul “Ratapan Jempol Kaki yang Terkoyak”, atau “Jeritan Bising Seorang Konservasionis yang Fakir Ilmu”, atau lagi “Semilir Angin yang Menggugurkan Bulu Ketek”.

Yang kedua, koki kapal selam. Untuk pekerjaan ini, kemampuan memasak merupakan syaratnya. Saya yakin, konservasionis pasti bisa memasak. Kerja-kerja lapangan semisal di tengah hutan belantara menuntut konservasionis untuk bisa memasak sendiri. Nah, ketika bekerja sebagai koki kapal selam, inilah saatnya konservasionis bisa menunjukkan semua ilmu-ilmu tenaga dalam memasaknya, seperti masak mie instan, masak telur dadar, goreng ikan asin, dan masih banyak lagi.

Di waktu istirahat, setelah menunaikan tanggung jawab memasak, konservasionis bisa melakukan meditasi. Saya rasa, keheningan lautan dalam bisa cukup membantu proses meditasi. Jika tiba-tiba kru kapal selam dengan riang gembira mengajak bermain sepak bola api, tolak saja! Meditasi lebih penting. Hih! Mereka tahu apa. Ini masalah jiwa yang tenang.

Tujuan meditasi sebenarnya untuk memahami diri sendiri. Salah satu jalan untuk introspeksi diri. Berusaha melihat lagi ke belakang ketika masih menjadi konservasionis sejati. Menanyakan kepada diri sendiri mengenai apa-apa saja yang sudah dilakukan di masa lalu. Apakah dahulu aku seorang konservasionis yang hanya banyak ngomong? Apakah kredit panciku masih belum lunas? Mantan aku apa kabarnya, ya?

Untuk pekerjaan yang terakhir, yang ketiga, harus saya akui, saya bingung dan kesulitan untuk menjelaskannya. Sebab, pekerjaannya terlalu abstrak. Tak berbentuk. Para ahli dan orang pintar pun tidak mampu menjelaskannya. Bahkan, ketika saya tanyakan pada rumput yang bergoyang, ia hanya menjawab:

“Aduh! Berat itu. PR aja, ya?! Besok saya kumpul.”

Tidak memuaskan. Jadi, menurut saya, lebih baik konservasionis merasakannya sendiri nanti. Kebetulan, saya pernah melakoni pekerjaan ini selama beberapa tahun. Pekerjaannya adalah pengangguran.

Eh, ngomong-ngomong, apa ada terasa hawa-hawa kematian untuk pekerjaan ketiga?

Komentar

Komentar