I’m Still Here — Chapter 9

Jadi sore itu Eri muncul di paviliun, membawa travel bag berisi pakaian ganti dan buku-buku serta keperluan lain untuk menginap. Ia mengendarai motor Nada, yang kemudian diparkirnya di depan teras paviliun.

“Aku bawa pisang emas,” katanya, mengangkat bungkusan plastik hijau kecil. “Di rumah, kalau ada yang sakit perut, ibuku selalu meresepkan ini. Kata ibuku, pisang ini bagus untuk obat sakit lambung.”

Ronggur membantu membawakan barang-barang Eri, meletakkannya di kamar kosong sebelah kamar Nada. Nada menyimpan kasur cadangan yang dibawanya dari kontrakan lama di situ. Dulu, bila ibu dan ayahnya datang menjenguk, mereka biasa tidur beralaskan kasur itu.

Tapi kini Eri mengeluarkan lagi barang-barangnya, membawanya ke kamar Nada. Lalu ia juga mengeluarkan kasur cadangan itu.

“Kayaknya aku lebih baik tidur bareng Nada, Bang,” katanya pada Ronggur, “Supaya aku bisa mengawasinya. Kalau tidak kuawasi jangan-jangan dia nonton anime sampai larut malam.”

“Hah, iya betul,” setuju Ronggur. Nada memang gemar anime. Kegemaran yang ditularkan abangnya, Thaif. Dulu keduanya kerap bergadang nonton anime bersama-sama. Kebiasaan yang kadang masih dilakukan setiap pulang kampung menjelang Lebaran.

Eri pergi ke dapur. Terdengar kesibukannya, mengeluarkan beras dan menyalakan kompor. Ronggur masuk ke kamar Nada. Si pasien sudah hampir tertidur, berbaring miring menghadap jendela. Hati-hati Ronggur duduk di pembaringan. Nada membalik, dengan mata mengantuk memandang Ronggur.

“Eri sedang masak bubur. Habis makan kau harus minum obat yang satu lagi,” kata Ronggur. “Aku mesti balik ke kantor. Kalau kau perlu sesuatu, nanti sore pulang kantor aku bawakan.”

“Nggak usah,” Nada mengulurkan tangan. Ronggur menyambutnya. “Rasanya ngantuk banget, nih, Bang.”

“Kamu memang butuh banyak istirahat. Makan makanan kecil setiap dua jam, hindari lemak, pedas, asam, terlalu manis dan terlalu asin.”

“Baik, dokter,” Nada nyengir. “Atau sebenarnya aku harus bilang…. baik, doktor….?”

“Jangan gitu ah. Bikin stres, tau,” Ronggur tersenyum. “Daripada ngejek, mendingan kamu konsentrasi selesaikan kuliah. Jadi nanti selesai kita kawin aku bisa memboyongmu ke Utrecht.”

“Utrecht? Ngapain lagi? Disertasi Abang kan selesai akhir tahun ini?”

“Hari ini ada email dari Profesor Dijkstra. Ada kemungkinan aku bisa post-doc¹ di sana,” Ronggur mengusap poni Nada yang berantakan. “Sekarang tidurlah. Aku pamit ya,” membungkuk sedikit, dikecupnya kelopak mata Nada. Nada tersenyum.

“Oke,” katanya. “Pintunya nggak usah ditutup ya Bang.”

Ronggur mengangguk. Nada merasa matanya berat. Samar-samar saja ia mendengar Ronggur pamitan pada Eri. Kemudian suara Eri, dan suara-suara pintu depan dibuka dan ditutup. Nada tertidur. Ia bermimpi.

Dalam mimpinya ia ada di Utrecht. Di sebuah bangunan tua dengan jendela-jendela besar. Anehnya, Bunda ada di sana. Bicara dengan seorang lelaki jangkung berambut coklat bermata biru kehijauan. Bunda memanggilnya. Saat Nada mendekat, Bunda memperkenalkannya pada lelaki Belanda yang sedang bicara dengannya.

Dit is mijn dochter, Meneer Rutgers,” suara Bunda. Lelaki Belanda itu tersenyum, mengulurkan tangan untuk berjabatan. Nada menyambut. Tangan lelaki itu dingin sekali.

“Halo, Nada,” katanya. “Kita sering berjumpa, bukan?”

Sering berjumpa? Nada bingung mendengarnya. Tapi kebingungannya segera berganti ngeri: karena di depan matanya wajah lelaki itu meleleh, seperti lilin terkena api. Lelehannya menetes-netes di dagu, jatuh ke jasnya, menimbulkan bunyi desis seperti daging yang digoreng. Ceruk matanya, seperti sepasang gua hitam kosong, mendelik pada Nada.

“Kita sering berjumpa, Nada,” katanya. Suaranya makin lama makin tinggi, hingga berakhir menjadi sebuah lolongan. “Kita-sering-berjumpa.”

Baca Juga: I’m Still Here — Chapter 8

Nada terbangun. Tempat tidurnya mendadak terasa sempit.

Susah payah membuka mata, disadarinya bahwa Eri, yang semalam membaringkan diri di kasur cadangan yang digelar di lantai, sudah pindah ke ranjangnya. Gadis itu meringkuk, merapat ke badan Nada.

“Er?”

“Hm?”

“Kau oke?”

“Hmmmm….. yaaaa…..” gumam Eri tak menentu. “Tadi aku… emm…. Aku kedinginaan…. Boleh ya, aku tidur bersamamu saja?”

“Oh,” meski agak bingung, Nada tidak terlalu heran. Entah kenapa kamar itu memang terasa lebih dingin dari biasa. “Oke. Kalau kau perlu, ada selimut cadangan di lemari gantung.”

“Nggak usah, ini sudah cukup.”

“Okelah,” terlalu mengantuk, Nada kembali memejamkan mata. Sayup-sayup dalam tidur, ia seperti mendengar suara ibunya mengaji. Alunan sayup yang menentramkan ini menenangkan Nada sedemikian rupa, membuat tidurnya nyenyak, menyegarkan.

Ketika matanya kembali terbuka, ternyata Subuh sudah berlalu. Sehelai cahaya matahari lolos dari saringan tirai, masuk ke kamar.

Nada membalik. Eri duduk di sajadah, Alquran di tangannya. Melihat Nada terbangun, ia tersenyum lebar.

“Gimana rasanya? Sudah enakan?” sapanya.

“Bolehlah, sudah mendingan, alhamdulillah,” sahut Nada. Perlahan ia duduk. “Tolong aku bangun dong, Er. Aku mau wudlu’.”

“Oh! Oke.”

Pukul tujuh, keduanya sudah duduk di dapur, menghadapi sarapan. Ruang dapur penuh sinar matahari. Malas-malasan Nada mengaduk-aduk bubur yang sudah disiapkan Eri, menyendok sedikit, menyuap. Sambil menyeruput kopi, Eri memperhatikan sahabatnya.

“Mau pakai abon atau bawang goreng Nad?”

“Kayaknya ga bakal terlalu banyak beda deh…. Tapi, bawang goreng bolehlah,” sahut Nada. Eri bangkit, membuka kabinet. Mengeluarkan stoples panjang kecil penuh berisi bawang goreng siap saji.

“Aku bawa dari kosan kemarin,” kata Eri. “Kupikir lumayan buat memperbaiki rasa buburmu.”

“Ya,” kata Nada sambil lalu. Perhatiannya tertuju ke kabinet. Saat Eri membuka pintu kabinet tadi, sekilas Nada melihat stoples kaca bergambar pisang kuning dan hijau, serta satu lagi yang bergambar tulip biru. “Eh, Er—sebentar sebentar, tunggu…. Jangan ditutup dulu, Er!” Nada melambai, mencegah Eri menutup pintu kabinet.

“Hah?” Eri terhenti. Nada melambai lagi. Sambil mengangkat alis, Eri melebarkan pintu kabinet sehingga Nada dapat melihat isinya dengan leluasa. Mata Nada membesar. Ia tak percaya pada pengelihatannya. Itu kedua stoples yang dicarinya saat Heru datang, beberapa hari lalu. Bertengger tanpa dosa di antara kotak teh dan tumpukan mi instan. Kemana mereka saat Nada mencari tempo hari? Waktu itu mereka jelas-jelas tak ada. Kan tak mungkin mata Nada selamur itu, tak bisa melihat dua stoples besar berhiasan menyolok yang nangkring di depan hidungnya?

“Ada apa sih, Nad?” tanya Eri. Ia terdengar curiga.

“Nggak,” kata Nada tergesa. Buru-buru dibuangnya pandang ke samping. “Aku lihat stoples kopi… Aku butuh kopi juga Er…. mau kau jerangkan air untuk menyeduh kopi?”

“Kopi? Bukannya kopi nggak bagus buat gastritis?” Eri protes.

“Kalau dikasih gula, iya. Tapi aku mau seduh yang tanpa gula. Lebih banyak antioksidannya,” elak Nada. Eri mengangkat bahu, mengeluarkan stoples kopi. Bunda Nada sendiri yang merendang kopi itu, dari kebun keluarga mereka di kampung. Biji kopi Aceh yang terkenal ke seantero dunia. Eri mengisi panci kecil dengan air, meletakkannya di tungku.

“Moga-moga yang kau bilang soal kopi tanpa gula itu betul,” katanya, kembali duduk di depan Nada. Disendoknya nasi gorengnya, menyuap dengan lahap. Nada memperhatikannya. Nasi goreng…. sepasang kekasih itu dulu sedang akan sarapan nasi goreng ketika menghilang. Nada menelan ludah. Tiba-tiba teringat pengalamannya beberapa hari lalu, saat melihat gadis kecil di ruang tamu. Dan…. suara bisikan itu. Nada langsung merinding. Mereka sedang duduk di dapur sekarang. Otomatis mata Nada memandang berkeliling. Seolah mendadak akan melihat lelaki gaib yang berbisik seram di telinganya.

Tapi sinar matahari masuk sampai jauh sekali, menerangi semua sudut dapur, bahkan hingga meja gambar Nada di ruang tengah. Cahaya yang hangat itu memusnahkan semua pikiran buruk dan rasa takut. Dalam cahaya matahari, Nada merasa jauh lebih aman, hingga ia kembali sanggup berpikir dengan tenang.

Hari itu Eri tak ada jadwal kuliah. Mereka punya waktu cukup untuk sarapan sambil mengobrol santai. Di tengah-tengah obrolan, mendadak Eri berkata: “Nad, kalau kau sudah sembuh nanti, kita ajak cowok-cowok kumpul mengaji di sini yuk!”

Eri agak tergagap mendapat tatapan tajam Nada, yang kaget mendengar usul ujug-ujug relijius itu. Tapi dengan tegas Eri melanjutkan, “Selama ini kita kan cuma nongkrong-nongkrong minum kopi doang, ngobrol nggak jelas, ngabisin duit doang. Kurasa bagus kalau kita mulai membiasakan punya kegiatan yang lebih positif…. Umur kita kan terus bertambah, kita harus mulai buat kebiasaan yang bakal mendukung kemampuan kita menghadapi masalah kelak…. Dan paviliun ini kan besar, cukup menampung kita semua, bahkan ditambah satu-dua orang lagi juga bisa. Kurasa Bang Ronggur bisa kita jadikan ketua, sekali-sekali kita minta dia ceramah.”

Setelah bicara panjang lebar begitu Eri agak kehabisan nafas. Ia terdiam. Pipinya sedikit memerah. Nada memandanginya. Di satu sisi ia bisa menduga, mengapa Eri sekonyong-konyong pidato mengusulkan “kegiatan positif”. Di sisi lain, Nada belum pernah bercerita pada siapa pun tentang hal-hal aneh yang dialaminya di rumah itu. Termasuk pada Eri.


¹Post doctoral, program riset pengembangan akademik bagi doktor yang baru lulus

KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here