I’m Still Here — Chapter 15

Yasmin kembali ke paviliun sekitar pukul satu. Dia dan Firza menggotong sebuah sangkar besar berkaki empat dari besi. Sangkar itu diletakkan di teras belakang, di tempat yang akan selalu menerima cahaya pertama matahari setiap pagi.

“Nah,” kata Yasmin puas. “Kak, tiap magrib bantu aku masukkan sangkar ini ke dapur ya?”

“Kenapa?” Dini heran.

“Aku takut nanti mereka diganggu Lulu.”

“Ooh,” Dini paham. Walau secara logika, kucing adalah kucing. Tak peduli siang atau malam, kalau mereka mau mengganggu burung, ya ganggu saja. Tapi ketiga gadis penghuni paviliun yang lebih tua sangat menyayangi Yasmin, yang dianggap adik bungsu mereka. Apa saja permintaan gadis itu, biasanya akan mereka penuhi.

Sore itu, menjelang Magrib Nada membantu Yasmin memasukkan sangkar Laila Majnun ke dapur. Warna bulu cerah mereka terlihat indah di atas keramik lantai dapur yang kotak-kotak hitam putih seperti papan catur. Yasmin menutup bagian depan sangkar dengan sehelai terpal.

“Supaya mereka bisa tidur,” katanya.

Nada memperhatikan kawannya itu merapikan ujung-ujung terpal tutup sangkar. Besok pagi, suara renyah ceria burung-burung itu akan menjadi kabar pertama terbitnya matahari. Kalau dipikir, sebenarnya burung serindit atau angsa sama. Sama-sama cerewet. Bedanya suara serindit jauh lebih merdu.

Tapi Nada senang memikirkannya. Suara burung selalu membawa semangat positif. Paviliun ini sangat memerlukannya.

Selasa pekan berikutnya, hari telah gelap saat Nada mendorong pintu gerbang utama dan mengemudikan motornya langsung masuk garasi paviliun. Motor ketiga kawan serumahnya sudah ada di dalam. Nada mengunci motornya, menggembok pintu garasi, lalu masuk paviliun.

Hari itu ia bekerja sampai larut karena kantor konsultan desain tempat ia magang membantu dosennya, tengah menggarap proyek perancangan mal besar di Doha, Qatar. Nada kebagian cukup banyak pekerjaan. Membuat sketsa, menyiapkan puluhan gambar teknis dan presentasi 3D yang membuat matanya lama-lama berair karena terlalu banyak memelototi monitor komputer.

“Moga aja kamu diajak ke Doha, Nad,” komentar Eri ketika Nada bercerita tentang hal itu. Saat pulang tadi Nada yang masuk paviliun melalui pintu dapur menemukan Eri dan Dini sedang minum teh di situ. Nada langsung bergabung, menumpukkan tabung gambar dan ranselnya begitu saja di dekat pintu. Dari kamar mandi terdengar suara air berdebur. Yasmin sedang mandi.

“Nggak mungkin. Aku kan cuma kroco. Pak Pras, Mbak Donna dan Mas Kuncung yang berangkat,” kata Nada, merogoh stoples rempeyek di depan Dini dan memasukkan sepotong ke dalam mulutnya. Dini meletakkan segelas teh yang masih berasap di hadapannya. Sikapnya yang ngemong dan selalu tenang itu sangat menentramkan.

“Ya nggak apa-apa. Tapi kan portofolio kamu nanti setelah lulus akan kelihatan bagus, meyakinkan, karena terlibat dalam proyek ini,” kata Dini.

“Ya, semoga. Meski pun namaku, kalau pun dicantumkan, pasti pakai huruf-huruf segede unyil, dan di bawah judul ‘asisten junior’, walau pun presentasinya aku yang bikin,” ujar Nada.

“Itu juga sudah bagus,” Eri menepuk tangan Nada. Nada mengangkat bahu. Saat itu terdengar Yasmin keluar dari kamar mandi. Nada bangkit.

“Aku mau mandi,” katanya.

“Ga makan dulu?” tanya Dini. Benar-benar ibu yang baik.

“Nggak usah. Tadi aku sudah makan, sama Abang,” Nada ngeloyor ke kamar mandi. Yasmin sudah menelungkup di karpet, di depan pesawat teve. Benda itu dipindahkan Nada ke ruang tengah semenjak kawan-kawannya tinggal di paviliun. Diletakkan di atas ambang lubang servis di dinding dapur, agar kabelnya dapat mencapai terminal listrik dekat lemari kabinet.

Nada mengambil handuknya dari rak di gang menuju kamar mandi. Ada dua rak di situ. Yang sebuah dipakai Nada dan Eri, sebuah lagi untuk Dini dan Yasmin. Setelah mandi pagi, keempatnya biasa menggantung handuk atau pakaian dalam yang baru dicuci di situ. Tadi pagi seperti biasa Nada menggantungkan cuciannya di rak handuk agar kering, di sebelah handuknya. Sekarang Nada menatap tempat kosong di samping handuknya. Celananya tak ada. Siapa yang mengambil? Apa mungkin Eri, karena pakaian itu sudah kering, dan ia meletakkannya di kamar?

Nada masuk kamar, melihat ke atas tempat tidur dan ke dalam laci. Eri tahu ia menyimpan pakaian dalam di laci dan kalau ia membantu mengangkatkan jemuran Nada, milik Nada biasanya diletakkannya langsung di laci, atau di atas tempat tidur. Tapi kali ini tak ada.

“Lho?” pikir Nada. Dibukanya lemari gantung, berpikir mungkin Eri menyimpannya di situ. Tak ada. Nada keluar kamar, ke dapur.

“Er, kamu taruh di mana celanaku yang ungu?” tanyanya. Eri mengangkat alis.

“Celana ungu? Rasanya tadi pagi aku lihat di rak handuk,” katanya.

“Nggak ada tuh. Nggak kamu angkat?”

“Nggak,” Eri nampak bingung. “Barangkali Dini?” ditolehnya Dini di sebelahnya. Dini menggeleng.

“Yayas kali?”

“Nggaaak!” seru Yasmin sebelum Nada sempat bertanya.

“Eh….” Nada kebingungan. Jadi ke mana barang itu? Beberapa detik lamanya Nada memandang rak handuk. Waktu itu stoples. Sekarang, ini. Brengsek betul. Nada memaksa diri mandi, walau pikirannya masih terus tertuju pada pakaian dalamnya yang hilang. Saat selesai mandi dan tengah mengenakan piyama, Nada tersadar bahwa ada barang lain yang hilang.

Baca Juga: I’m Still Here — Chapter 14

Di samping ranjangnya, di atas semacam nacht kast dari peti kayu, Nada meletakkan sebuah bingkai. Itu foto Ronggur beberapa tahun lewat, musim gugur pertamanya di Utrecht. Nada suka foto itu karena Ronggur yang mengenakan jaket dan syal untuk menahan dingin nampak bahagia dan penuh semangat. Bingkai itu ada di sana bersama sebuah jam weker kecil. Sekarang yang ada cuma weker Doraemon itu. Tersenyum sambil melirik ke kanan dan ke kiri sesuai detak waktu.

Not again….” Nada melenguh. Ia keluar kamar, setengah panik setengah mengamuk, mencoba mencari foto itu. Seluruh paviliun ditelitinya. Nihil. Eri dan Dini keluar dari dapur dan Yasmin bangkit dari karpet, ingin tahu ada apa.

“Cari apa lagi Nad?” tanya Eri.

“Foto,” sahut Nada. Ia berhenti sebentar. “Foto Abang yang aku taruh di nakas.”

“Hilang??” suara Yasmin bingung.

“Yep.”

“Wah—“ Yasmin bercekak pinggang. Mukanya aneh. “Kak, tadi waktu aku dan Kak Dini memasukkan sangkar Laila Majnun, aku lihat ada robekan-robekan kertas di bawah tangga teras belakang. Jangan-jangan—“

Tanpa menunggu Yasmin menyelesaikan kalimatnya, Nada lari ke teras belakang. Di situ, di bawah undakan menuju halaman rumput, dekat tembok rendah yang memagari setengah lingkaran teras, memang ada potongan-potongan putih. Nada memungutnya. Benar, itu foto Ronggur. Bingkainya patah jadi beberapa bagian, kacanya hancur, terserak dekat situ juga.

“Be… betul itu, Kak?” terdengar suara Yasmin. Nada tak menjawab. Memang tak perlu. Air mukanya sudah menjawab pertanyaan Yasmin.

Dini dan Eri yang tadi mengikuti Yasmin, terdiam. Nada mengumpulkan robekan-robekan foto, pecahan kaca dan kayu bingkai, membawanya ke dapur. Dibungkusnya dengan kantung plastik, lalu dimasukkan ke bak sampah. Eri bergegas ke pintu, memutar kunci dan mengaitkan kelima selot yang mereka pasang di situ. Diperiksanya juga selot jendela-jendela.

Kemudian keempat gadis itu berdiri berpandangan. Tanpa kata-kata.

Nada bergerak lebih dulu. Ia berusaha tersenyum, menggelengkan kepala sambil mengangkat bahu. Mengisyaratkan kata “sudahlah”.

“Aku mau siapkan denah buat besok dulu,” kata Nada. Mencoba mencairkan suasana.

“Aku mau main Minecraft,” sambar Yasmin. Eri dan Dini masing-masing juga menemukan kalimat yang ditujukan untuk menormalkan perasaan semua orang. Mereka sudah tenggelam dalam kesibukan masing-masing saat sebuah suara berdebam terdengar dari arah dapur. Laila dan Majnun menjerit dalam sangkarnya.

“Apa sih itu,” Yasmin bangkit memeriksa. Berjalan ke dapur. Detik berikutnya terdengar suaranya, menyebut nama Tuhan. Kawan-kawannya langsung ikut bangkit. Menyusul. Sampai di dapur mereka tertegun. Semua pintu lemari terbuka, laci-laci terdorong sampai hampir jatuh. Air mengalir deras dari keran di bak cuci.

“Ow…kaaaay…. “ kata Yasmin. Ia berjalan berkeliling dapur, menutup semua lemari. Mematikan keran. “Nah, sudah…. Kita—“ mendadak, mendadak saja, sebuah panci yang tadinya tergantung di paku di dinding dekat bak cuci, melayang menabrak punggung kursi di depannya dengan suara keras. Sontak keempat gadis yang ada di situ terpekik.

“Pancinya…. Kok…. Bisa?” suara Dini gemetar. Nada langsung teringat suara yang berbisik di telinganya tempo hari. Tapi tentu saja ia tak ingin membuat kawan-kawannya lebih takut lagi daripada sekarang.

Nada memungut panci itu. Mengembalikannya ke tempatnya.

“Ada yang sedang ingin bermain,” katanya dengan suara yang dipaksakan agar terdengar ceria. “Yuk, ke ruang tengah lagi.”

Keempatnya kembali ke ruang tengah. Dini baru saja menyamankan diri di atas bantal besar di karpet, saat sekonyong-konyong sebuah bola karet merah bergulir ke arahnya. Bola itu menggelundung lancar, ke arah Dini, dan berhenti tepat di depan kakinya, seolah tahu betul tujuannya. Tak seorang pun melihat dari mana bola itu muncul.

KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here