I’m Still Here — Chapter 14

Si mamang tukang bubur melirik, nampak tertarik, ingin tahu. Tapi ia buru-buru menyingkir ketika tatapan silet Nada menyambar ke arahnya sesaat. Lalu Nada meraih cangkir kopinya.

“Guys, dari awal kalian sudah tahu kondisi paviliun ini. Mula-mula kukira yang disebut ‘hantu’ sama Tante Hanum itu sekedar penampakan-penampakan gitu… aku pikir kalau penampakan doang, sekedar nongol-nongol gitu, biar pun seram tapi mestinya nggak akan terlalu mengganggu. Aku bener-bener nggak nyangka, ternyata gangguannya bisa separah kemarin malam,” diseruputnya kopinya sedikit. Agak gugup.

“Aku seneng banget kita tinggal di paviliun sama-sama. Tapi aku harus adil sama kalian…. Terutama sama Eri dan Yayas… kalau kalian merasa gangguan itu nggak bisa ditolerir…. Aku nggak akan nahan kalian untuk tetap tinggal. Andaikata kalian ingin pindah, aku sangat maklum. Kalau aku…. Aku lain. Aku… akan tetap tinggal di sana, walau apa pun yang terjadi.”

Hanya Eri yang paham betul apa yang dimaksudkan oleh Nada. Namun agaknya kedua gadis lainnya dapat menerkanya, karena mereka terdiam. Sepi sebentar. Lalu Eri mendesah.

“Aku nggak mungkin membiarkan kamu sendirian di situ, Nad,” katanya. “Semalam itu justru bukti bahwa aku memang harus nemenin kamu.”

“Kami juga begitu,” Dini dan Yasmin setuju. “Masa’ cuma kamu doang yang bisa menikmati paviliun semewah itu, Nad. Enak aja,” Dini menambahkan sambil meringis.

Nada meringis.

“Terima kasih banyak, guys,” ujarnya. “You are the best.”

“Coba kita bisa meyakinkan Tante Hanum bahwa mengadakan pengajian nggak bakal bikin reputasi paviliunnya tambah buruk….” Eri keukeuh.

“Nggak bakal lebih buruk dari sekarang kalee, Kak,” Yasmin terbahak. “Aku belum pernah dengar ada hantu mengetuk pintu sengotot semalam. Kayak orang kebelet.”

Dini terkekeh. Apa yang semalam terasa begitu menyeramkan, bila dibicarakan dalam siraman matahari cerah, ternyata bisa juga ditertawakan.

“Ya, itu mengganggu banget,” kata Dini. “Semoga nggak terulang lagilah. Aku nggak bisa tidur jadinya.”

“Apa kita pelihara anjing penjaga saja?” kata Yasmin. “Datukku punya banyak, di kampung. Untuk berburu babi.”

“Kita kan mau berburu setan Yas, bukan babi,” Nada tertawa. “Lagipula kalau kita punya anjing, bisa gawat nanti kalau dia sampai berpapasan dengan si Lulu.”

“Lulu? Lulu siapa?” Dini tercengang.

“Kucing Tante Hanum itu lho. Yang waktu itu tiduran di atas piano,” kata Eri.

“Oh…ya. Betul juga,” kata Dini. “Tapi kayaknya kita memang perlu penjaga. Aku nggak mau kejadian seperti semalam terulang lagi. Kalau yang ngetuk itu hantu, itu sudah seram. Tapi lebih seram lagi kalau ternyata manusia. Sebab pekarangan belakang kan dipagar tembok dan besi tinggi. Kalau ada manusia masuk ke situ tengah malam seperti kemarin, artinya dia pasti berniat nggak baik,” Dini berpikir sebentar. “Aku usul. Bagaimana kalau kita cari angsa?”

“Angsa???” tiga pasang mata serentak menatapnya.

“Angsa itu penjaga yang baik lho!” kedua tangan Dini terangkat. “Mereka punya pendengaran yang peka. Kita pelihara mereka di pekarangan belakang, biar nanti mereka meronda ke garasi juga. Kalau ada sesuatu yang tak dikenal, mereka pasti bakal ribut berbunyi.”

“Walah, nanti kita nggak bisa tidur bukan gegara setan kebelet, gabut ngetuk pintu, tapi karena soang Kak Dini nyanyi metal sepanjang malam,” komentar Yasmin. Nada dan Eri ketawa terpingkal. Dini nyengir kuda.

“Iya juga ya,” katanya.

“Kurasa rencana awal kita sudah bagus. Kita salat jamaah setiap Magrib, dan setelah itu tadarus,” ujar Nada. “Soal pintu belakang, usulku kita tambah saja lagi selot dan gemboknya. Begitu juga jendela-jendela. Nggak bisa mencegah hantu memang… tapi pokoknya kita tahu bahwa pertahanan pintu itu cukup kuat. Seperti kata Dini tadi, sebetulnya yang lebih menyeramkan itu manusia.”

Tiga kawannya mengangguk. Telepon Yasmin berbunyi. Ia merogoh saku, melihat. Lalu menerima panggilan. Dari gayanya tertawa-tawa kecil, tawa yang tidak pernah ditunjukkannya pada kawan-kawannya, tiga gadis lain tahu bahwa yang menelepon adalah Firza. Pacarnya. Tak berapa lama ia menyudahi percakapan. Lantas melihat berkeliling.

“Firza mau ke sini,” beritanya.

“Sudah pulang dia?” tanya Eri. Sebab setahu para penghuni paviliun, Firza berangkat dengan tim peneliti dari jurusan Biologi ke Taman Nasional Tesso Nilo beberapa hari yang lalu.

“Sudah,” Yasmin terdengar bahagia. “Katanya dia bawa oleh-oleh spesial!”

Sambil menunggu Firza, Nada memesan kopi lagi, dan yang lain perlahan-lahan menikmati comro yang juga dijual di lapak itu. Firza datang sekitar lima belas menit kemudian. Pemuda itu masih mengenakan sepatu but dan celana lapangan. Rambutnya disembunyikan di bawah topi lakan. Di tangannya ia menenteng sesuatu yang besar, ditutupi kain.

Baca Juga: I’m Still Here — Chapter 13

Firza memberi salam, duduk di bangku di hadapan Yasmin dan kawan-kawannya.

“Baru sampai ya Fir?” tanya Nada.

“Iya Kak, masih bau nih,” Firza mengekeh, mengendus lengan bajunya.

“Mau minum apa? Sarapan aja sekalian,” Nada bertindak sebagai tuan rumah, memberi isyarat pada si mamang tukang bubur.

“Kopi Mang, bubur satu. Cakueh-nya yang banyak ya Mang,” kata Firza, menatap si mamang. Si Mamang nyengir.

“Beressss,” katanya.

“Mana oleh-olehnya?” tembak Yasmin tak sabaran.

“Kamu cuma nunggu oleh-oleh ya,” Firza tersenyum, menjitak kepala Yasmin. Yasmin ketawa.

“Kan receh banget kalau aku ngaku bahwa sebenarnya aku kangen dan nunggu kamu,” katanya. Yang lain tertawa. Firza mengangkat benda yang ditentengnya sejak tadi, meletakkan di atas meja.

“Apa sih itu,” Yasmin ingin tahu.

“Ini simbol kesetiaan dan cinta,” Firza membual. “Aku tangkap pakai perangkap getah. Khusus untuk kamu.”

“Gombal,” seru Yasmin. Tapi ia nampak semakin penasaran. “Buka dong kainnya!”

Firza mengikuti kemauan Yasmin. Selubung dibuka, menampakkan sangkar darurat terbuat dari rerantingan yang diikat menyatu menggunakan potongan-potongan kecil tali rami. Di dalamnya nampak dua burung hijau cerah berparuh melengkung. Bulu di tenggorokan dan punggung bawah mereka merah menyolok. Yang seekor seperti mengenakan topi biru terang. Begitu merasakan udara dan sinar matahari cerah, keduanya langsung bersuara nyaring. Yang seekor menoleh pada Firza sambil menelengkan kepala, seakan mengecam karena pemuda itu mengurungnya.

“Hah?” Yasmin membeliak. “Burung? Kamu nangkap burung??”

“Ini bukan sembarang burung. Ini serindit Melayu. Kebanggaan Provinsi Riau,” kata Firza. “Kata orang Melayu, kalau kita memelihara serindit, maka rumah kita akan selalu terasa hangat, bahagia.”

“Cantik sekali mereka,” komentar Nada, memasukkan ujung jari ke sangkar, ingin menyentuh cerlang bulu salah satu burung itu. Dia kaget ketika burung satunya, yang “bertopi” biru, menjerit keras, lalu berusaha mematuk jarinya.

Firza meringis.

“Maafin si Majnun ya Kak. Dia emang begitu, selalu berusaha melindungi Laila,” katanya. Nada mengangkat alis menatap Firza.

“Namanya Laila Majnun?” ujarnya.

Firza mengiyakan. “Majnun itu yang pakai topi. Dia yang jantan. Satunya Laila.”

Terdengar Eri dan Dini tertawa kecil.

“Namanya cocok,” kata Dini. “Sepasang kekasih.”

Sementara itu Yasmin diam saja. Hanya matanya bersinar-sinar memandangi Firza. Firza menatapnya.

“Kamu nggak suka, ya?” ujar pemuda itu.

“Siapa bilang? Aku suka banget.” Potong Yasmin. Nada menoleh karena mendengar suara Yasmin bergetar.

“Yas?”

“Nggak apa-apa Kak,” Yasmin mengebaskan tangan. “Makasih ya, Bancet….” katanya, menyentuh tangan Firza.

“Kamu kok nangis, Meng?” Firza mengusap kepala Yasmin di balik pashminanya. Nada, Eri dan Dini langsung sibuk berpura-pura melihat ke arah lain. Dalam hati nyengir lebar mendengar Firza dan Yasmin saling panggil dengan julukan masing-masing. Bancet adalah sejenis katak sawah. Di klub pendakinya Yasmin dipanggil si Memeng, alias kucing. Karena ia tak pernah melewatkan kesempatan mengelus kucing mana pun yang dijumpainya.

“Ingat Ayah sama Mama. Ayah juga punya serindit di rumah. Aku kangen Ayah sama Mama. Kangen Ni Yus sama Da Yos,” kata Yasmin. Mengabsen anggota keluarganya satu persatu.

“Adudu, kecian ci Memeng….” suara Firza lembut. “Telepon mereka dong, yang…. Aku beliin ya pulsanya..?”

Untunglah saat itu mamang tukang bubur datang, membawa pesanan Firza. Sebab kalau tidak, jangan-jangan ketawa Nada sudah tersembur keluar.

Saat waktu pulang tiba, Yasmin mengatakan bahwa dia dan Firza akan mencari kandang baru untuk Laila dan Majnun. Kandang yang dibuat Firza dari rerantingan tadi diletakkan di bak pick up yang sama dengan truk pindahan waktu itu. Mobil itu seperti aset bersama klub pencinta alam di kampus.  Sangkar ditutupi dengan rapi. Kemudian keduanya berangkat pergi.

“Aduhaduh, kecian ci Memeng….” gumam Nada, memperhatikan ekor pick up itu menghilang ke arah Cikutra. Dini dan Eri pecah ketawanya.

“Hussss!” Eri menempelkan jari di bibir, sebelah tangan mencubit pinggang Nada. “Emangnya kamu dan Bang Ronggur nggak menjijikkan kalau lagi sok sayang-sayangan? Biarin aja si Yayas begitu. Dia kan masih kecil,” bentaknya setengah ketawa. Nada meleletkan lidah.

“Aku kan nggak nyela euy. Cuma geli,” elak Nada. Dini mendorongnya.

“Alaaah! Ngeles,” katanya. Ketiganya berjalan ke motor, sambil tertawa-tawa membahas polah mesra lebay pasangan pacaran yang seringkali berubah total setelah menikah.

KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here