Mentok Rimba, Masihkah Kau Memercikkan Air di Aceh?

~ Data populasi Mentok Rimba sementara ini masih mentok di rimba

Saat membersihkan pekarangan rumah di bulan Januari lalu, saya melihat ada sejumlah burung menyinggahi pohon jambu. Mereka melompat dari satu dahan ke dahan lainnya, mencari-cari makanan, dan sesekali, mengeluarkan siulan yang kencang. Saya suka dengan suasana ini, dan suka saya makin bertambah ketika saya menyaksikan empat sarang di sela rerimbunan pohon.

Burung-burung ini, bila diperhatikan dengan teliti, tampak cantik dan nyanyiannya merdu, tetapi jiwa saya tidak tergoda untuk menangkapnya dan menaruhnya di sangkar. Yang saya inginkan, hanyalah hidup bertetanggaan dengan mereka.

Dan sebagai tetangga yang baik, saya mesti membikin mereka betah. Maka, saya membuat tempat minum dari mangkok ceper dan menggantungnya di pohon. Kalau mereka haus, atau perlu membasahi tubuh, mereka tidak akan susah-susah mencari sumber air, pikir saya.

Setelah dua bulan terlewati, burung-burung ini, saya amati, masih ramai bermain di pohon jambu. Apalagi di tempat minum yang saya buat, syukur Alhamdulillah, tidak ada satu pun burung yang minum di situ…

Sebenarnya, jauh sebelum burung-burung di pohon jambu menghiasi hidup saya, ada satu spesies burung yang, bagi saya, mengesankan. Ia dikenal dengan nama Mentok Rimba, atau serati, atau itik liar, atau juga bebek hutan (Asarcornis scutulata/Cairina scutulata).

Baca Juga: Yang Terabaikan dalam Taktik Meredam Konflik Gajah dengan Manusia di Aceh

Dua puluh tahun lalu, sewaktu masih kuliah di FMIPA Biologi USK, saya terperangah seperti kerbau dicucuk hidung, hanya dengan memandangi fotonya. Namanya saya sebut-sebut di dalam hati, “Mentok Rimba, kamu unik, langka, dan terancam punah. Aku harus meneliti kamu di skripsi nanti.” Tapi sayang, dengan alasan yang tidak saya ingat lagi, saya urung melakukannya.

Entah karena terlalu menyintai Mentok Rimba, saya, sepekan silam, menyebut lagi namanya. Namun, kali ini disertai dengan pertanyaan yang bertubi-tubi menjitaki kepala saya. Bagaimana, sih, keberadaan dan populasi Mentok Rimba di Aceh sekarang?

Penasaran dengan jawabannya, saya berusaha melacak segala informasi tentang Mentok Rimba di mesin pencari.

Kata S. Van Balen dalam Record of White-winged Wood Duck in Aceh Province, Sumatra saat mengunjungi pembukaan hutan sebelah barat Desa Runding (97°51’E, 2°20’N, di Kecamatan Simpang Kiri, Aceh Selatan) pada 27 September 1991, pukul 07.10, dua Mentok Rimba terbang dari kolam kecil di sepanjang pinggiran pembukaan hutan ini, dan menghilang ke dalam hutan bekas tebangan sekitarnya. Suara “hoa-OAAH” dan siulan tipis “heeeeh” menandakan mereka adalah seekor jantan dan seekor betina. Kepalanya kurang lebih seluruhnya berwarna putih, badannya hitam, sayapnya hitam dan putih.

Observasi ini, katanya lagi mengutip JG. Van Marle dan KH. Voous dalam The Birds of Sumatra: an annotated check-list, adalah yang pertama untuk Aceh, provinsi paling utara di pulau Sumatra.

Terus terang saja, saya tidak berani menerka bagaimana perasaan Van Balen, ketika Mentok Rimba tampak di hadapannya. Andai itu saya, besar kemungkinan, saya akan menitikkan air mata, lalu menceburkan diri ke kolam kecil, dan menjerit-jerit, “Eureka! Eureka! Eureka!”

Ah, sungguh betapa berlebihannya saya.

Berturut-turut kemudian, dari mesin pencari, saya menemukan Status and Habitat of the White-winged Duck Cairina scutulata yang ditulis Andy J. Green pada 1993. Saya membaca halaman pertama, kedua, ketiga… tiba di halaman kedelapan, saya menghabiskan waktu beberapa jenak.

Sebuah tabel ditampilkan oleh Green. Isinya mengenai 20 lokasi di mana Mentok Rimba telah dicatat sejak 1980 di Indonesia (Sumatra), dengan perkiraan minimum ukuran populasi dewasa di setiap lokasi (jumlah individu yang terlihat atau perkiraan minimum pekerja lapangan).

Saya pikir, ini tabel yang menarik. Lokasi Mentok Rimbanya tersebar di enam provinsi, yakni Lampung, Sumatra Selatan, Jambi, Riau, Sumatra Utara, dan Aceh. Untuk Aceh, Mentok Rimba dicatat di kawasan Kluet Taman Nasional Gunung Leuser sebanyak 5 ekor dan Runding sebanyak 2 ekor.

Selesai melahap tulisan Green, saya beralih ke temuan selanjutnya, yakni Sumatra Bird Report yang ditulis DA. Holmes. Holmes bilang, semua catatan terbaru burung Sumatra, yang dikumpulkan oleh berbagai pengamat sepanjang periode 1987 sampai 1995, digambarkan dalam laporannya.

Mentok Rimba, yang termasuk di dalamnya, menyempil di bagian awal daftar spesies burung Sumatra yang disusun Holmes. Ia berada di urutan 42 dari total 337 spesies burung.

Beberapa Mentok Rimba, terang Holmes, berdasarkan pengamatan Carel Van Schaik, terlihat di Suaq Batimbiang (saya yakin maksudnya Suaq Balimbing) di kawasan Kluet, Taman Nasional Gunung Leuser pada Februari 1992 dan 1993, di mana dipercaya bahwa hutan aluvial dan rawa serta sawah sekitarnya di Kluet seluas 10,000 hektare mungkin memiliki populasi yang signifikan.

Khususnya di kawasan Kluet, catatan Holmes dilengkapi lagi oleh Ralph Buij, Elizabeth A. Fox, dan Serge A. Wich, temuan saya berikutnya, dalam Birds of Gunung Leuser National Park, Northern Sumatra.

Kata mereka, Mentok Rimba, pada 1995 di Suaq Balimbing, teramati di dua kesempatan: seekor betina dewasa di Krueng Lembang yang mengalir tenang, dan sepasang di tanggul hutan rawa sepanjang perbatasan sungai, yang biasanya dibanjiri secara musiman. Hutan tersebut, sebagian besar, terdiri dari pohon-pohon berkanopi tinggi, yang didominasi oleh Nessia spp dan beberapa Ficus spp berukuran besar. Lantai hutan mempunyai kolam besar dengan air menggenang, dan selama banjir, kolam tersebut menyambung dengan sungai, dan memiliki arus.

Saya manggut-manggut menyerap informasi yang saya peroleh, seperti manggut-manggutnya teman saya, saban kali ia mendengar khutbah Jumat.

Namun, itu tak berlangsung lama, karena saya merasa ada yang tidak pas. Kenapa semua informasinya berasal dari tahun 90-an? Saya, tentu, membutuhkan informasi terbaru, agar pertanyaan keberadaan dan populasi Mentok Rimba di Aceh sekarang terjawab.

Saya coba mengubek-ngubek kembali mesin pencari, dan hasilnya: nihil. Apakah mungkin usaha saya masih kurang keras? Ke mana lagi saya harus melacak? Atau, apakah ini waktunya untuk bertanya ke ahli-ahli di dunia perburungan?

Baca Juga: Lamek, Juned, dan Brahim, Sebuah Bacot Unfaedah di Tengah Krisis Corona

Saat kepala mulai pening dengan urusan lacak melacak informasi tentang keberadaan dan populasi Mentok Rimba di Aceh, tiba-tiba deringan telepon genggam mengejutkan saya.

Saya mengangkatnya, dan menyapa, “Hallo.”

“Bang, lagi di rumah, ya? Cabut yuk.” Suara Lamek, teman saya, terdengar di ujung telepon.

“Mau ke mana?” tanya saya.

“Makan nasi bebek di Peunayong.”

Aduh.

KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here