Harga Kopi Gayo Awal 2020 Turun Drastis

#InspirasiKopi

Parah, Bree, harga kopi Arabika Gayo sejak awal tahun 2020 mengalami penurunan drastis. Sejak 20 Januari 2020 harga mulai turun pada kisaran Rp56 ribu per kilogram.

Bila dibandingkan pada 24 Januari 2019 harganya masih lumayan, bertengger di angka Rp60 ribu per kilogram. Hal ini berdasarkan pemantauan secara umum di Kabupaten Bener Meriah sebagai salah satu wilayah penghasil kopi di Aceh.

Lebih parah lagi, memasuki Februari tahun ini harga kopi Arabika Gayo makin drop ke batas bawah harga, yaitu Rp52 ribu per kilogram pada 10 Februari. Lalu pada 18 Februari harga kopi turun lagi ke Rp50 ribu per kilogram.

Oya, harga kopi yang turun di sini bukanlah kopi grade 1 kualitas ekspor dan bukan juga kopi spesiality, tapi harga kopi asalan. Maksudnya kopi hasil olahan di tingkat petani secara konvensional yang dijual ke tengkulak tingkat kecamatanlah.

Kisaran harga kopi asalan ini biasanya ditentukan (istilah petani dibuka harga) oleh kalangan koperasi eksportir kopi. Setelah itu, para toke kopi kecil-kecilan yang kerap menampung kopi di kampung-kampung membelinya dengan harga lebih murah. Selisih seribu hingga lima ribu perak.

Ya, begitulah hidup ini, Bree.

Nah, kopi asalan yang lagi turun harga ini adalah jenis kopi kering dengan kadar air 20 persen ke bawah. Istilah kerennya kalau kamu sering dengar: green coffee beans.

Namun, petani-petani di Gayo cukup menyebutnya kopi ijo kering. Simpel dan terkesan sangat mencintai bahasa Indonesia.

Sampai di sini, kamu pasti penasaran dan langsung timbul tanda tanya, kenapa harga kopi turun dan apa penyebabnya? Ya, kan, Bree?

Sama, saya juga penasaran. Sebelum lanjut ke persoalan kenapa harga kopi Arabika Gayo awal tahun 2020 bisa turun drastis, sebaiknya kita pelototi dulu pergerakan harga kopi tahun-tahun sebelumnya, seperti data di bawah ini.

Tahun 2018

Sepanjang 2018 harga kopi Arabika Gayo memasuki babak baru dengan harga tertinggi.

15 November
Rp60.000 – Rp68.000 per kilogram

11 September
Rp67.000 per kilogram (kadar air 15 hingga 20 persen)

29 Oktober
Rp84.000 per kilogram

Tahun 2019

Sejak Maret hingga April 2019 harga kopi mencapai harga tertinggi yakni Rp90 ribu per kilogram. Dan jelang akhir tahun, harga kembali normal di kisaran Rp60 ribu per kilogram untuk kadar air 15-20 persen.

Harga kopi asalan pada April 2019 melampaui harga tertinggi dari biasanya. Permintaan kopi meningkat sedangkan trimester awal 2019 sudah memasuki masa habis kopi.

Kalau dimundurkan lagi ke trimester akhir 2018, panen raya Gayo menjadi starter awal event Pesta Panen Kopi 2018. Masifnya berita panen kopi itu sedikit banyak mendongkrak permintaan kopi yang menyebabkan harga naik tinggi di trimester kedua tahun 2019.

Waktu Panen Kopi 

Tapi Bree, sebelum meraba terlalu jauh dalam melihat faktor penyebab turunnya harga kopi, sebaiknya kamu juga harus tahu kapan panen kopi terjadi. Sekali lagi ini masih pemantauan di Bener Meriah. Setiap kecamatan yang menjadi sentra produksi kopi beda-beda waktu panennya.

Jelang akhir tahun 2019, sejak Oktober hingga Desember, harga kopi kering yang mencapai Rp60 ribu sebenarnya merupakan harga yang sangat lumayan di kalangan petani di dua kecamatan di Bener Meriah: Wih Pesam dan Bukit.

Dua kecamatan ini berada di ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut. Lokasinya sejak km 80 hingga km 90 di lintasan jalan Bireuen-Takengon. Di Wih Pesam dan Bukit, biasanya panen puncak buah kopi dilakukan pada rentang November hingga Desember.

Nazwa di Festival Panen Kopi Gayo 2018
Sering ikut orang tua ke kebun, Nazwa, siswa kelas 6 SD Rembele sangat cekatan saat ngutip kopi. (Foto Breedie/Fauzan My)

Sedangkan di luar dua kecamatan tersebut, panen puncak buah kopi bukan pada bulan-bulan itu. Hal ini mungkin yang menyebabkan Festival Panen Kopi Gayo sebagai bagian dari pagelaran GAMI Fest 2019 lalu di Bener Meriah dilaksanakan di kawasan Kecamatan Bukit dan Wih Pesam.

Beda lagi kalau kita lihat di kawasan Pondok, mulai dari Pondok Sayur, Pondok Gajah, dan sekitarnya, memasuki triwulan 2020 baru dimulai panen puncak buah kopi Arabika Gayo.

Kata Petani Soal Turunnya Harga Kopi

Pertanyaannya yang masih belum terjawab dari tadi, kenapa harga kopi turun? Untuk mencari tahu sebabnya saya sempat menanyakan kepada beberapa warga di sekitar tempat saya tinggal, di kampung wisata kopi Rembele tercinta. Mereka adalah petani kopi dan beberapa merupakan pemilik kebun kopi.

Ada banyak spekulasi dan analisa dari warga di dataran tinggi Gayo ini.

Kak Ida misalnya, ketika saya tanya soal itu, beliau langsung mengaitkannya dengan kisruh penyakit yang menggegerkan dunia saat ini. Menurut Kak Ida, harga kopi turun karena wabah virus korona di China.

Iyakah? Jujur, saya agak hahh ketika mendengar jawaban Kak Ida.

“Yang kuasai ekonomi dunia saat ini kan China, investor-investor kan banyak dari China, utang negara kita banyak dikuasai China, apalagi China lagi wabah virus Corona,” sambung Kak Kur. Jeh, entah dari mana munculnya, tiba-tiba Kak Nur ikut nimbrung tanpa dipersilakan.

What…?! Terus bagaimana ceritanya virus dari Wuhan itu mampu membuat harga kopi anjlok? Kak Nur pun nyerocos panjang hingga melebar kemana-mana dan tidak layak untuk dikutip.

“Di kawasan Pondok kopi lagi banjir (maksudnya produksi berlimpah, bukan terendam banjir). Di sana sekali panen bisa mencapai ratusan kaleng, kalah jauh sama kita di sini, dapat 80 kaleng saja sudah syukur sekali. Tapi, dari segi kualitas menang kita, tempat kita ukuran biji lebih besar, di sana kecil-kecil buahnya,” tambah Usman.

Maksud Usman, walaupun panennya tak berkaleng-kaleng seperti di Pondok, kopi di kebunnya bukanlah kaleng-kaleng.

Agak relate juga sih, karena stok kopi akhir tahun kemarin masih banyak. Kemudian ditambah lagi hasil panen kopi dari kawasan Pondok yang super banjir.

Namun, dari analisa Bang Budi, turunnya harga kopi disebabkan isu glisofat tempo hari. Beberapa bulan lalu, ada berita di sebuah koran besar di Aceh bahwa Kopi Gayo mengandung glifosat.

Berita ini membuat resah banyak pihak hingga pemerintah turun untuk meluruskannya kalau itu tidaklah benar.

“Kemarin, ada kopi satu truk yang dibawa ke medan di-reject karena tidak lolos cupping,” sambung Bang Budi, yang juga toke Kopi di Kampung Rembele.

Hmm…isu residu glisofat yang merangsek masuk ke dalam biji kopi ternyata lebih sempurna andilnya ketimbang Corona dalam menurunkan harga kopi Arabika Gayo.

Setidaknya, itulah pendapat masyarakat kopi di Rembele soal harga kopi awal tahun 2020 yang turun turun drastis.

Lalu bagaimana dengan harga di kabupaten tetangga, Aceh Tengah, yang juga merupakan daerah penghasil Arabika?

Untuk memastikan harga kopi di Takengon, saya menghubungi seorang pengusaha muda bernama Iqbal. Beliau merupakan home roastery alias pengusaha jasa sangrai kopi rumahan dengan label Babay Coffee di Takengon.

Turunnya harga kopi di awal 2020 juga mengherankan Iqbal. “Padahal stok kopi lagi tidak ada. Di daerah Wih Porak, Angkup (Kecamatan Silih Nara) harga kopi gelondongan (kopi merah segar) dihargai Rp85-90 ribu per satu kaleng (takaran 10 bambu),” ujar Iqbal.

“Bisa jadi ini permainan toke-toke kopi, sebab permintaan lagi tidak banyak keluar. Takutnya, saat panen depan sekitar bulan April bakalan anjlok lagi (harganya),” sambung Iqbal.

Nah, kalau menurut saya, anjloknya harga kopi Arabika Gayo kita kembalikan lagi ke prinsip fundamental ekonomi, supply and demand. Ditambah lagi nilai dolar turun drastis dari Rp14 ribu pada akhir tahun 2019, menjadi Rp13.657 pada akhir Januari 2020.

Selain itu menarik juga dicermati tautan berita dari Reuters pada 28 Januari lalu tentang kejadian di Brazil. Menurut seorang ekpostir, para petani kopi di negara Ronaldinho itu sedang bersiap menorehkan rekor baru panen kopi pada 2020. Rekor ini melampaui rekor sebelumnya pada 2018.

Diperkirakan Brazil akan menghasilkan 67,7 juta karung kopi tahun ini, dibandingkan dengan 56,8 juta karung pada 2019 dan 64,5 juta karung pada 2018.

Panen di Brazil dilakukan sekitar April atau Mei. Kopi baru tersedia di pasar sekitar Juni atau Juli.

Apakah ini juga menyebabkan harga kopi Arabika Gayo turun harga? Entahlah.

Bila Breeders tidak puas dengan analisa saya dan warga kampung, silakan hubungi dinas perdagangan dan toke-toke kopi kelas eksportir yang kamu kenal. Mereka punya jawaban lebih konkret.

Jangan lupa kalau saya salah, silahkan sanggah juga di kolom komentar.

Komentar

Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here