Corona oh Corona

#Editorial

Apa yang ada di benakmu Breeders saat mendengar, membaca, atau melihat fenomena virus corona Wuhan atau yang dikenal 2019-nCoV tersebut mulai mewabah saat ini?

Sedih, takut, biasa saja atau skeptis? Atau malah melihat kejadian itu sebagai bentuk balasan Tuhan akibat perlakuan tidak adil dari Pemerintah Tiongkok terhadap muslim Uighur?

Apapun reaksi itu terpulang lagi kepada dirimu, Bree. Awalnya, ketika virus itu pertama sekali diketahui, mungkin banyak di antara kita yang bereaksi biasa saja. Bisa jadi yang terpikir saat itu adalah, ah, kan itu cuma flu biasa. Atau, itu mungkin seperti SARS yang dulu juga pernah bikin geger.

SARS atau Severe Acute Respiratory Syndrome mulai muncul pada November 2002. Dari China juga, tepatnya di Provinsi Guangdong. Tidak layak untuk menyebut China sebagai sumber segala kegalauan jenis penyakit berbahaya di era milenium ini, tapi memang begitu adanya. Maaf, kalau sedikit nge-judge.

Butuh waktu berbulan-bulan hingga SARS diketahui publik. Dulu, media sosial belum terlalu booming seperti sekarang. Hal ini seenggaknya berpengaruh pada tensi kepanikan yang dialami orang-orang.

Infografik virus corona 2019
Infografik virus corona 2019. (Breedie.com/Resource dari Freepik)

Selain itu, perlu kamu tahu, Bree, virus corona masih satu keluarga dengan MERS dan SARS. Sama-sama menyerang saluran pernafasan dan berakibat pada kematian.

Jika SARS dan corona dari China, MERS muncul pertama dari Timur Tengah, tepatnya Arab Saudi pada 2012 (ralat: sebelumnya tertulis 2015). Kepanjangan dari nama penyakit ini: Middle East Respiratory Syndrome alias sindrom pernapasan Timur Tengah alias flu unta, sempat diprotes WHO walaupun organisasi kesehatan dunia ini sepakat menamakannya MERS-CoV. CoV adalah kependekan dari coronavirus.

Jadi, baik MERS maupun SARS sama-sama disebabkan oleh corona. Makanya, WHO sekarang lagi sibuk cari nama yang pas buat virus corona Wuhan walaupun telah banyak yang menuliskannya 2019-nCoV atau novel (baru) coronavirus. Walaupun sebuah nama, kata William Shakespeare, tidaklah berarti, bagi para ilmuwan tentu sangatlah penting.

Terlepas dari itu, yang namanya wabah, apa pun jenisnya tentu akan menimbulkan ketakutan. Zaman dulu, kolera juga demikian. Penyakit ini memangsa tanpa ampun. Ketika vaksinnya kemudian ditemukan, orang-orang baru bisa bernapas lega.

Sementara corona yang telah ditetapkan WHO sebagai Public Health Emergency of International Concern (PHEIC) walaupun baru muncul telah menimbulkan kepanikan dunia yang luar biasa. Pertama, karena belum ditemukan vaksinnya. Kedua, penyebarannya begitu cepat.

Ada sebuah berita dari Bumoe.id yang mengutip komentar Eric Toner, pakar kesehatan senior di Johns Hopkins Center for Health Security, AS. Toner mengatakan 65 juta orang bisa tewas pada 2020 ini, bila penyebaran corona tak bisa dihentikan.

Angka yang dikemukakan Pak Toner semestinya diragukan. Namun ada data yang selaras dengan pernyataan tersebut (bisa di akses via link berikut ini). Data ini membuktikan cepatnya sebaran virus tersebut akan membunuh 65 juta orang pada tahun ini. Dan pernyataan Pak Toner bukan untuk menebar ketakutan.

Grafik perbandingan infeksi 2.5x virus corona.
Grafik perbandingan infeksi 2.5x virus corona. (https://twitter.com/ReserveReport/status/1221684702035292160)

Berpatokan pada data tersebut, akun Twitter @ReserveReport melakukan kalkulasi perbandingan rata-rata infeksi 2,5 orang berdasarkan artikel di Reuters. Jurnalis Kate Kelland dalam artikelnya itu menuliskan: Each person infected with coronavirus is passing the disease on to between two and three other people on average at current transmission rates, according to two separate scientific analyses of the epidemic (Setiap orang yang terinfeksi coronavirus menyebarkan penyakit pada rata-rata antara dua dan tiga orang lainnya pada tingkat penularan saat ini).

Tweet ini sempat viral. Menurut akun ini tingkat penularan pada dua hingga tiga orang sangat tinggi. Mereka juga memprediksi, jika tingkat penularan mencapai kepada sembilan orang, hingga September 2020 akan ada 230 juta manusia yang musnah dari muka bumi.

Kemudian, bila melihat dari data perhitungan infeksi yang dilaporkan John Hopkins, dampak yang terpapar virus dan maupun angka kematian akibat corona terus meningkat. Dari data aktual John Hopkins yang dibandingkan dengan asumsi infeksi 2,5 oleh @ReserveReport pada 9 Februari 2020 diprediksi meninggal 195 orang.

Prediksi ini cuma satu kali lipat dari kenyataan sebenarnya karena hingga 6 Februari 2020, korban meninggal dunia mencapai 565 jiwa. Sedangkan yang sudah terinfeksi 28.344 jiwa. Lagi-lagi, bukan untuk menakut-nakuti tapi memang sangat memprihatikan. Syukurnya, yang sudah sembuh juga sudah banyak. Hingga per 6 Februari 2020 mencapai 1,299 jiwa.

Data real infeksi virus corona
Tangkapan layar pada Kamis, 6 Feb 2020. (https://gisanddata.maps.arcgis.com/apps/opsdashboard/index.html#/bda7594740fd40299423467b48e9ecf6)

Sangat menakutkan bila corona Wuhan sampai lolos masuk ke Indonesia. Terlepas dari apa pun upaya kita mencegahnya. Sebagai perbandingan, China yang sudah sangat maju dan lebih siap menghadapi virus dengan sigap membangun rumah sakit khusus corona dalam waktu delapan hari, tak mampu juga menekan angka-angka yang tiap hari naik terus. Konon lagi negara kita yang lemah ini, baru saja cuaca berubah sudah banyak warga antri di Puskesmas untuk berobat flu. Atau, pergi ke dukun karena dukun dianggap lebih mujarab ketimbang dokter.

Lalu, apa yang harus kita lakukan dan persiapkan untuk menghadapi wabah ini?

Tidak perlu memancing di kolam keruh karena jarang ada ikan di sana. Artinya jangan berkomentar di luar akal sehat semisal, virus corona melanda China karena terkait balasan azab. Jangan melulu merasa diri sangat sucilah.

Orang Islam percaya, cobaan diberikan pada hamba-Nya sesuai dengan kesanggupan masing-masing. Bila wabah corona muncul di China, yakin saja pasti mereka siap dan sanggup menghadapinya.

Kemudian banyak berdoa seperti imbauan dalam surat edaran Bupati Aceh Jaya Irfan TB. Ini salah satu cara sebelum virus tersebut masuk ke Indonesia. Berdoa agar dijauhkan dari wabah ini dan vaksinnya segera ditemukan. Namun, bila virus sudah menyebar ke Aceh, tidak saja berdoa, kita juga perlu lebih sigap menghadapinya.

Komentar

Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here