Gadis Graffiti: Novela Dian Guci — Bagian Kedelapan

Nana tertegun. Terdiam. Setelah beberapa saat ia tertawa lemah.

“Astaga. Kamu galak sekali, Dinda,” katanya. “Baiklah. Aku minta maaf juga. Mungkin aku terlalu sensitif…. Tapi aku sudah lama nggak ketemu ayahku. Jadi gampang melow kalau beliau disebut-sebut.”

“Nggak apa-apa. Aku juga selalu kangen Bunda,” kata Dinda. Ia kaget ketika Nana mengambil lengannya dan menggandengnya.

“Kamu galak tapi baik hati,” suara Nana hangat dan bersahabat. “Aku senang kamu pindah ke sini.”

Giliran Dinda terpaku. Tercengang. Belum pernah ada orang menyebutnya begitu. Bunda sih memang selalu menyebutnya ramah dan baik hati, tapi…. Seorang ibu memang akan selalu memuji anaknya, bukan? Jadi, perkataan Nana tadi tidak asing namun sekaligus terdengar aneh bagi Dinda. Walau pun terus terang ia merasa senang juga.

Saat keduanya berjalan menyusuri jalan berlapis koral sungai, azan berkumandang menghangatkan udara Subuh.

•••

Bagi Dinda, hari sekolah pertamanya di SMA Pelita Bangsa adalah serangkaian kesialan. Pertama, ia tidak kebagian sarapan nasi gurih Aceh berlauk balado telur kegemarannya. Dinda terpaksa harus puas dengan bubur kacang hijau, sandwich plus susu. Masih untung ia diperbolehkan menambahkan kopi ke dalam mug susunya. Kalau tidak, entahlah!

Baca Juga: Gadis Graffiti: Novela Dian Guci — Bagian Keenam

Kedua, saat duduk di ruang makan bersama yang penuh remaja sebayanya, Dinda merasa kulitnya merinding non stop karena begitu banyak mata terarah kepadanya. Dia sampai harus menyengkeram lengan Nana untuk mengurangi kegugupan. Nana nampaknya paham, ia membiarkan sebelah tangan Dinda memegangi lengan bajunya, selama mereka makan.

Dan ketiga, saat duduk makan, matanya menangkap sesuatu yang sangat menarik. Sesuatu itu duduk sendiri di meja dekat jendela, dengan tenang menikmati secangkir kopi, perlahan-lahan menghabiskan sepotong kue. Dinda selalu dibikin KO oleh alis tebal dan mata yang tajam. Dan alis serta mata pemuda yang duduk di sana itu menyengatkan listrik tepat ke jantung Dinda.

“Oh, God,” Dinda berdesis.

“Apa?” Nana menoleh. Heran.

“Itu siapa? Arah jam dua.”

Nana mengamati ruangan sejenak, mencari yang dimaksud oleh Dinda.

“Yang mana? Yang dekat jendela itu? Itu Pak Affif. Guru Biologi,” Nana memutar tubuh, menghadap Dinda. “Wah. Jangan bilang kalau kamu crush on Pak Affif!!” seringai lebar menghiasi bibir Nana.

“Ih. Nggak. Apaan sih—aku kan cuma nanya,” Dinda gugup. Nana ketawa, tidak percaya.

“Pak Affif putranya sudah dua!” cengir Nana. “Istrinya, Bu Mona, dokter di klinik sekolah. Rumah mereka di Kompleks Karyawan, dekat gedung olah raga. Yang catnya hijau-putih. Memang sih, Pak Affif kelihatan masih muda banget, dan…. O Mak oi, mukamu merah banget, Din!”

Dinda harus mencubit lengan Nana keras-keras untuk memaksa kawannya itu agar berhenti tertawa. Laki-laki dekat jendela itu mendengar kerusuhan di meja mereka, lalu menoleh. Dinda merasa mau mati ketika tatapan Pak Affif menyapunya.

“Nana, please, berhenti ketawa sekarang juga!” mohon Dinda memelas. Ia sadar betul Pak Affif masih mengamati meja mereka. “Nana… berhenti…!” Nana terbatuk-batuk, minum seteguk. Lalu mendeham dan menyedot hidung. Akhirnya tawanya berhenti juga. Dinda lega. Tapi kelegaannya tak berlangsung lama. Karena tahu-tahu Pak Affif bangkit, menghampiri meja tempat mereka duduk.

“Kamu Adinda ya?” katanya. “Putri Bang Zach Pawoh?”

“I… iya Pak,” Dinda gugup. Aih, kok Pak Affif bisa tahu nama ayah, pikir Dinda. Dan kenapa mata elang Pak Affif harus sejernih itu. Nyawaku sudah di ujung tenggorok nih, Dinda tak sadar menyengkeram ujung blus seragamnya.

“Masya Allah! Jadi kalian sekeluarga sudah di sini sekarang? Bang Zach senior saya di kampus. Luar biasa reportase dan tulisan-tulisannya. Selalu menginspirasi kami, para juniornya,” kata Pak Affif hangat.

“Oh…ya Pak… emmm Bapak alumnus—juga?” Dinda menyebut nama almamater Ayah. Pak Affif tersenyum lebar.

“Ya. Hanya beda fakultas. Waktu kami pertama kali ketemu, Bang Zach S2 di FISIP, saya di FMIPA. Bang Z juga pemimpin redaksi di koran tempat saya pernah bekerja, sebelum lulus dan pulang kampung,” Pak Affif menembakkan senyum yang melelehkan otak Dinda. “Wah, senang sekali ada putri Bang Z di kelas saya! Bilang Ayah, kapan-kapan saya undang duduk-duduk sharing pengalaman jurnalistik sambil ngopi dan reuni.”

“Euh… Ya Pak…. Baik,” sahut Dinda.

“Wah. Ayahmu senior Pak Affif, Din?” desis Nana ketika keduanya berjalan menuju gedung sekolah.

“Nggak tahu ah,” Dinda manyun. “Ayahku nggak asik banget. Temannya berantakan di mana-mana. Ada cicak bisulan aja, Ayah dan kawan-kawannya pasti duluan tahu. Aku jadi kayak dimata-matai,” kata Dinda. Salah satu hal yang membuatnya sangat menyukai graffiti adalah kenyataan bahwa kawan-kawan Ayah belum berhasil tahu bahwa akun DĕGedĕ alias the Great D yang membuat mural di depan Mal South End dan mengunggahnya ke media sosial, adalah Dinda.

Dinda tahu Ayah dan kawan-kawannya sudah beberapa lama membicarakan mural itu. Mereka menyebutnya “gerakan seni melawan”. Dinda senang sekali bahwa bapak-bapak yang biasanya selalu terdepan dalam memperoleh informasi itu, kali ini terpaksa harus berada dalam gelap. Mudah-mudahan Abie dan anggota geng selebihnya juga tetap konsisten tutup mulut, harap Dinda. Rasanya asik, jadi tokoh misterius. Seperti Banksy, sang seniman jalanan yang menjadi idolanya.

Rupanya “kesialan” Dinda belum berakhir sampai di situ. Sebab ternyata jam pelajaran pertama adalah Biologi. Ia harus menahan diri sekuat tenaga untuk tidak memerah setiap kali melihat wajah Pak Affif.

“Aduuh!” geram Dinda, ketika akhirnya bel tanda jam pelajaran berganti berdering dan Pak Affif keluar kelas. “Nanaaa…. Matee lőn…. Mati aku. Kalau setiap jam Biologi aku harus keringetan seperti ini, aku pindah jurusan ke kelas sosial aja!”

Nana tersenyum kecil.

“Aku nggak bisa nolong, Din,” sesal Nana. “Masa harus kusuruh Pak Affif nutup muka pakai topeng ninja? Bertahanlah. Kalau perlu, kita pindah ke bangku belakang tiap jam Biologi.”

“Kesialan” terakhir Dinda dihari pertama itu adalah ketika pada jam mengaso setelah Asar, Nana mengajaknya minta izin pada Pengawas untuk keluar Asrama. Hendak membeli bedak. Toko serba ada yang mereka tuju hanya sekitar empat ratus meter di luar gerbang kompleks Asrama. Namun di sepanjang jarak itu ada serentang tembok setinggi dua meter. Memisahkan sekolah Dinda dengan sesuatu. Dinda hanya bisa melihat atap dan bagian atas beberapa bangunan. Tapi tak ada petunjuk, bangunan apa itu.

“Ini kompleks apa, Na?” tanya Dinda. Menunjuk tembok di sebelah jalan.

“Itu SMAN 1 Barat Selatan,” kata Nana. Dinda mengangkat alis.

“Di sini juga?”

“Blok ini kan memang ditujukan sebagai blok pendidikan,” terang Nana. “Di sebelah sana ada kompleks kampus Universitas Muhammadiyah dan Akademi Komunitas Negeri Barat Selatan. Lalu ada SMP Labschool Universitas Muhammadiyah….”

“Wew. Banyak juga ya?”

“Ya. Eh… aku harus cerita nih… Soal SMAN 1…” Nana merendahkan suara.

“Kenapa? Ada apa?” mendengar nada suara Nana, Dinda jadi tegang sendiri. Gaya Nana begitu penuh rahasia.

“Anak SMANsa sudah lama memusuhi anak Pelsa,” Nana menggunakan singkatan populer untuk nama kedua sekolah, SMA 1 dan SMA Pelita Bangsa. “Sudah lama banget. Setauku, malah sejak zaman ayah SMA.”

“Hah? Selama itu?” Dinda kaget. “Tapi kenapa??”

“Gara-gara kompetisi Hari Kemerdekaan,” Nana memulai. “Katanya waktu itu Kabupaten mengadakan peringatan Hari Kemerdekaan. Ada banyak lomba, antara lain sepak bola, menulis dan membaca puisi, dan… nggak tau apa lagi. Pokoknya banyak. Nah–” Nana menarik nafas panjang. “Pelsa sama Smansa sama-sama masuk final pertandingan sepak bola. Kata Ayah, bobotohnya bahkan berdatangan dari luar kota. Dari Meulaboh dan Tapaktuan aja ada. Lalu entah gimana, pas pertandingan berlangsung, ada kerusuhan. Smansa menuduh Pelsa main curang. Sebaliknya Pelsa balik menuduh Smansa yang curang. Keadaan jadi gawat. Bobotoh turun ke lapangan. Polisi sampai harus dipanggil.”

Baca Juga: Gadis Graffiti: Novela Dian Guci — Bagian Ketujuh

“Wuooowwwhhhh….” mata Dinda membesar. Nana melirik.

“Makanya guru-guru sampai sekarang mengharuskan kita minimal berdua kalau keluar ke supermarket,” katanya. “Karena anak-anak Smansa masih suka…. penasaran.”

“Ah–” Dinda tak sempat menyelesaikan omongannya, karena saat itu nampak beberapa sosok berseragam putih abu-abu keluar dari gerbang kompleks sebelah. Langkah Nana terhenti. Dinda dapat merasakan tubuh sahabat barunya menegang.

“Aduh,” bisik Nana. “Anak Smansa.”

(Bersambung ke Bagian Kesembilan)

KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here