Gadis Graffiti: Novela Dian Guci — Bagian Ketujuh

Dinda terperanjat, terduduk bangun. “Ap—apa itu??” serunya.

“Tanda bagun tidur,” sahut Dea tenang. Ia sudah berdiri di samping ranjang dan kini sedang melipat selimutnya. “Ayo bangkit, Din. Keburu azan lho!”

Dengan gugup Dinda melihat bahwa Putri dan Nana juga sudah merapikan ranjang masing-masing. Dinda meluncur turun, menyambar selimut dan berusaha melipatkannya sekaligus ke tepi kasur, seperti yang dilihatnya dilakukan kawan-kawannya sekamar. Dea memandang ke arahnya sambil meringis.

“Nggak gitu Din. Tarik dulu ujungnya sampai rata. Baru masukkan ke pinggir kasur,” katanya.

“Oh,” Dinda memerah. Dea datang membantunya. Dengan dibantu Dea, pekerjaan Dinda lekas selesai.

“Yuk, mandi. Kalau lambat-lambat, airnya nanti makin dingin!” gadis periang itu menyampirkan handuk ke bahu, lalu keluar kamar. Putri menyusulnya, berseru, “Tunggu De!”

Tinggal Dinda dan Nana. Dinda mengambil handuk dari lemari, lalu melirik Nana. Anak itu terlihat lesu. Kelopak matanya bengkak dan wajahnya pucat. Ia duduk di pinggir ranjangnya, berkerudung handuk dengan ekspresi muram.

“Nggak mandi, Na?” tanya Dinda. Nana mendengus.

“Duluan saja,” katanya. Dinda mengangkat alis. Masih melow rupanya, pikirnya.

Baca Juga: Gadis Graffiti: Novela Dian Guci — Bagian Kelima

“Ya sudah. Aku duluan,” Dinda beranjak, ke pintu. Di luar terdengar suara ramai anak-anak dari kamar lain. Suara semburan air pancuran mandi bahkan terdengar mengatasi suara obrolan. Dinda baru saja hendak mendorong pintu untuk keluar ketika Nana mendadak memanggil.

“Apa?” Dinda menoleh.

“Tunggu,” Nana menghampiri. Dinda mengangkat bahu. Saat Dinda hendak berbelok di gang menuju kamar mandi di ujung kiri, Nana menarik tangannya.

“Kamar mandi kita yang itu,” Nana menunjuk ujung lorong satunya. Dinda baru tahu bahwa setiap bilik pancuran ternyata punya nomor sesuai nomor kamar masing-masing anak. Dua bilik untuk setiap kamar.

Tapi saat keduanya tiba di bilik pancuran mereka, ternyata ada seseorang di dalam. Nana menggedor pintunya. “Hoi, siapa di dalam? Ini shower kami, kami mau mandi nih!”

“Maaf!”terdengar sahutan di antara desau air. “Aku mau keramas tadi. Maaf ya!” bunyi air berhenti. Tak lama pintu terbuka. Seorang gadis menjenguk keluar. Rambutnya dibungkus handuk.

“Hai,” sapanya saat melihat Dinda. “Kamu anak baru yang di Kamar Nomor 3 ya. Halo,” dia mengulurkan tangan. Agak canggung, Dinda menjabat tangan itu.

“Dinda,” katanya.

“Halo Dinda. Aku Sarah. Hai, Nana,” anak yang mengaku bernama Sarah itu keluar dari bilik mandi, melambai pada Nana di dekat cermin. Sarah mengenakan jas mandi yang panjangnya hampir sampai ke mata kaki. “Terima kasih yaa!” ujarnya sambil berjalan meninggalkan Dinda dan Nana. Nana menghela nafas.

“Ayo. Kamu mandi duluan, Dinda. Aku tunggu,” katanya. Ia lantas bersedekap, bersender ke tembok bak cuci tangan. Dinda langsung masuk bilik, mengunci pintunya. Merasa sangat janggal. Ia belum pernah mandi sebelum subuh di tempat yang masih asing baginya. Apalagi bareng-bareng dengan tujuh gadis lain sekaligus yang ribut mengobrol, berteriak kedinginan dan tertawa-tawa. Akibatnya Dinda mandi cepat sekali. Dia sudah selesai bahkan sebelum Nana sempat merasa bosan.

“Cepat juga kamu mandi,” komentar Nana. “Baguslah. Artinya kamu bakal cepat bisa menyesuaikan diri dengan kehidupan Asrama.”

“Hmm—” Dinda menggumam tak jelas. “Aku ganti baju duluan, ya, Na.”

Nana mengiyakan.

Suara Ustaz Nazli membaca kitab suci terdengar sayup-sayup dari arah Masjid Sekolah saat empat gadis dari Kamar Nomor 3 selesai berpakaian. Serba putih, kecuali Nana yang mengenakan kembali mantel hitamnya.

Dinda diam-diam meniup-niup kepalan tinjunya, berusaha menghangatkannya. Ia tak mengira bahwa udara dini hari di pantai bisa sedingin ini.

“Dingin, Din? Pakai jaket saja. Boleh kok. Tuh, Nana juga pakai jaket,” kata Dea.

“Jaketku ketinggalan di rumah,” sahut Dinda sedih. Ia kaget ketika mendadak Nana menyodorkan sehelai sweater.

“Nih, pakai saja punyaku,” kata gadis itu.

“Eh…? Terima kasih,” Dinda tercengang. Tapi tak urung dikenakannya sweater itu. Sweater itu berbau wangi.

“Wah, wangi apa ni?” komentar Dinda tahu-tahu sudah meluncur, tanpa sempat ditahannya. Wajah Nana seperti mendadak diterangi lampu yang tiba-tiba dinyalakan. Ia menatap Dinda dengan sikap gembira.

“Ayahku mencucinya dengan pewangi,”katanya. “Harum, ya? Makanya aku jarang memakainya. Supaya wanginya tetap menempel. Jadi rasanya ayahku ada di dekatku.”

Terdengar Dea tertawa kecil.

“Melow amat sih kamu, Na,” katanya. “Nanti akhir pekan kan kamu bisa ketemu ayahmu. Minta aja beliau mencuci sweatermu pakai pewangi lagi!”

Dinda kaget ketika melihat wajah Nana. Wajah yang sedetik tadi berseri-seri itu sekonyong-konyong gelap gulita. Seperti ada awan hitam bergulung-gulung menutupinya. Nana berbalik, memasang kaca matanya. Kemudian menarik hoodie jaketnya agar menutupi kepalanya, yang sudah mengenakan kerudung. Tanpa bicara apa-apa lagi Nana mengambil kitab suci dan catatan tahfiznya, lalu lari keluar kamar. Putri yang sedang mengenakan kerudung di depan cermin melirik tajam pada Dea.

“Dea—kenapa mesti ngomong gitu sih!” kecamnya. Dea tergagap.

“Aku kan bercanda, Put,” gugup Dea menelan ludah. “Tapi kan memang betul, kan? Nana kan memang suka menginap di rumah ayahnya. Makanya beliau bisa mencuci sweater Nana.”

“Eh—kenapa? Ada apa?” mendengar kegugupan Dea, Dinda jadi terpancing rasa ingin tahunya. “Memangnya ada apa dengan ayah Nana?” Dihampirinya Putri.

“Orangtua Nana sudah bercerai. Ibunya sudah menikah lagi, dan ayahnya sekarang tinggal sendiri di kota lain,” jelas Putri lirih. “Kadang-kadang, Nana menghabiskan akhir pekan di Meulaboh bersama ayahnya. Tapi nggak sering. Dia lebih sering pulang ke rumah ibunya. Soalnya dia memang tinggal sama ibunya.”

“Oh…” Dinda mengerling ke pintu, ke arah Nana menghilang tadi. Rasanya ia bisa mengerti perasaan Nana. Kasihan, pikir Dinda.

Cepat-cepat diselesaikannya mengenakan kerudung, menyambar telekung dan kitab suci dari rak paling atas di dalam lemari, lalu lari keluar. Menyusul Nana.

Dinda berhasil menyusul Nana beberapa meter setelah gerbang Asrama Putri. Nana berjalan membungkuk, mendekap Al Quran dan telekungnya ke dada. Dinda mengerem larinya tepat pada waktunya agar tak menubruk Nana.

“Hei,” kata Dinda. “Maafin Dea ya.”

“Maksudnya?” ujar Nana ketus. “Dia nggak bikin kesalahan kok. Orangtuaku memang sudah berpisah!”

“Yah, pokoknya kamu maafkan aja dia. Dia nggak bermaksud jelek, kok.”

“Tahu dari mana kamu?” suara Nana meninggi. “Kalian kan orangtuanya masih utuh. Kalian nggak bakalan mengerti perasaanku,” Nana tercekat-cekat. Menyembunyikan air mata.

Baca Juga: Gadis Graffiti: Novela Dian Guci — Bagian Keenam

“Dari mana kamu tahu orangtuaku masih utuh? Ibuku sudah meninggal,” balas Dinda.

“Hah?” Nana terdengar terkejut. Ia menatap Dinda sejenak. Lalu terdiam. Menunduk.

“Dengar,” ujar Dinda tak sabar. “Kita semua ini pasti punya masalah masing-masing. Aku misalnya, aku pindah ke Aceh, sekolah di sini, semua karena keinginan Ayah. Kalau mengikuti kemauanku, aku pilih tinggal sendiri di Jakarta, supaya dekat makam ibuku. Lalu bikin graffiti dan mural tiap hari. Nah! Kalau kamu punya masalah, kamu boleh pilih. Kamu cerita padaku, merasa lebih enakan lalu kembali menjalani hidup, atau diam aja, memendam masalahmu sampai busuk, terus meledak berkeping-keping,” Dinda berhenti. Agak kehabisan nafas setelah bicara sepanjang itu.

(Bersambung ke Bagian Kedelapan)

KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here